close
Cerpen

Dua Orang yang Lupa Mengenal

Kaca pecah di jendela sana dan jendela sini. Pintu tetap terkunci rapat. Udara anyir di dalam hanya bisa keluar melalui jendela yang kaca-kacanya pecah itu. Semua penghuni rumah dalam keadaan tak terlalu baik, baik posisi maupun kesehatannya. Dua anak laki-lakinya, umurnya tak sampai sepuluh mati dengan tempurung kepala hampir pecah. Sang suaminya mati tertusuk dengan mulut menganga dan mata melotot dan mencoba menggapai sang isteri. Isterinya mati ngangkang habis diperkosa.

Sebelum polisi datang, ada seorang pemuda. Bengong melulu, memandangi ruangan dari kaca jendela yang pecah. Mulutnya sama-sama terbuka mirip laki-laki yang mati, tapi tak selebar itu. Segera dia kembali ke kamar kost. Nyatanya pemuda yang akan dikenal sebagai Apta itu adalah tetangga pemilik rumah yang telah lepas nyawanya.

Kota ini memang demikian, terpencil dan jauh dari keramaian. Jalur darat dengan medan yang aduhai mirip rambut artis perempuan yang itu, lama-lama memaksa ketidakbetahan pemasok kebahagiaan mendatangi kota tersebut, sangat bergelombang dan tak rata.

Tak ada yang benar-benar peduli dengan kematian seseorang. Mati disini tidak dianggap sebagai akhir hidup, tapi sebagai awal kemungkinan hidup yang tidak terlalu kesusahan. Masyarakatnya tidak terlalu banyak, keadaan seperti memaksa mereka mempercayai bahwa akan ada reinkarnasi.

Bukan tiap hari ada yang kehilangan nyawa, namun selalu ada dalam seminggu. Entah kelaparan, penyakit kelamin, overdosis obat, atau sebab yang sangat menyeramkan: frustasi melihat kekasihnya ditiduri laki-laki yang lebih tua, lebih gendut, lebih kecil torpedonya dan kekasihmu hanya diam dan menangis saja saat digenjot.

Polisi selalu datang saat ada kejadian, termasuk hilangnya nyawa seseorang. Mereka selalu tanggap, menulis laporan dengan mimik yang menyebalkan. Tak ada tindak lanjut apapun, semua penegak itu tak tertarik mengetahui sebab kejadian sama sekali. Hanya menulis laporan. Hanya itu.

Aroma kematian dan keputusasaan yang amat membosankan telah lekat di hidung tiap manusia yang dengan sialnya masih hidup di kota itu, lekat pula di tiap sudut dinding bekas kencingan pemabuk, sampai tercium aroma itu di kamar kos pemuda yang akan kita ketahui bernama Apta.

Polisi terpaksa mencari-cari sebab sampai mengada-ada sebab matinya sekeluarga itu. Karena jika tak diusung, masyarakat –yang sebenarnya tau– curiga kepada polisi. “Perampokan: Satu Keluarga di Bantai, perampok kabur” itulah yang nampak di halaman depan koran pagi yang bakal jadi tempat kencing anjing kudisan.

Seminggu lalu, Apta lah satu-satunya manusia yang masih bisa tersenyum di kota itu. Bukan karena makanan yang ia makan enak, makanan disana mirip kacang polong. Tapi satu-satunya alasan adalah: kekasihnya.

Namun siang itu, Apta datang ke rumah gadis pujaannya. Berbicara beberapa hal, menyampaikan beberapa hal. Setelah selesai ia pulang dengan mendaratkan bibirnya di kening gadis itu.

Malamnya ia teringat sesuatu yang penting. Kegelisahan memaksanya kembali ke kediaman sang gadis. Ia panggili dari pintu depan, dijawab sang ibunda bahwa gadis itu tak mau menemui. “iya-ya.. sudah larut, pukul 10 lebih” pikirnya.

Suara jawabnya dari arah jendela, ia datangi, ingin menyampaikan pesan pamitnya. Apta sudah di depan jendela, dari pintu belakang keluar laki-laki yang lebih tua –bukan ayah sang gadis. Lebih buncit. Ia jalan agak tergesa sambil senyum yang memuakkan sambil tangannya berurusan dengan celana dan ikat pinggang. Mereka berpapasan di depan jendela, tetap menampakkan senyum yang rasa-rasanya akan meledakkan isi kepala Apta, laki-laki buncit itu berkata, “jangan bilang siapa-siapa”, seolah-olah senyumannya mengatakan hal yang lain, “jika kau mau, masuklah ke dalam”.

Apta menoleh ke jendela. Disanalah dimulainya penyiksaan yang sangat menyeramkan terhadap jiwanya. Ia lihat sang gadis tergeletak diam, hanya menahan tangis di atas ranjang, sebab di sampingnya tidur dua adiknya. Laki-laki yang seolah-olah sudah terbiasa datang, yang seperti memiliki kuasa menyalurkan sperma di kelamin gadis manapun! Sudah pergi mungkin ke isterinya atau ke gadis lain.

Dibersihkan cairan itu dari selangkangan sang gadis oleh ibunya. Dirapikan kembali piama tidur sang gadis yang compang-camping. Saat itulah Apta terpaku, seisi kepalanya benar-benar meledak. Dan, saat itu juga, tak ada manusia yang tersenyum di kota itu.

***

5 hari sebelum pembunuhan satu keluarga itu.

Apta dan perempuan –dari sini ke bawah disebut perempuan, bukan gadis– itu menjalankan kehidupan seperti biasa. Seolah-olah malam itu ia tak datang ke rumah perempuannya, ataupun melihat sesuatu yang menyentak kuat bagian dalamnya. Hanya saja, tak ada senyum di wajah mereka berdua. Seolah-olah perempuannya juga tau bahwa dia melihat kejadian tadi lusa, namun mereka berdua diliputi rasa ingin menyenangkan satu sama lain, walaupun dengan kepura-puraan.

Langit dan tanah kota tak bernama makin abu-abu dan gelap. Waktu seakan-akan ogah singgah walau hanya untuk merubah keadaan. Sinar matahari tak ditemui di atap-atap rumah, ataupun puncak gedung. Tak ada cahaya apapun, orang-orangnya menunggu dijemput malaikat pembawa arwah. Kehidupan sama sekali tak berjalan.

Setelah hari itu, mereka berdua –Apta dan perempuan– tidak pernah bertemu. Aku merasa tak mampu mengunyah makanan lagi. Menjadi Apta, sepertiku saat ini, bukanlah hal yang  mudah. Apalagi dalam posisi yang serumit ini dan keadaan sepailit ini dan jiwa sebusuk ini dan shok yang teramat besar. Membuat Apta membangunkan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang jelas-jelas telah tertidur lama dan jika terbangun bukanlah hal yang mengasyikkan. Aku menulis ingatanku yang masih tersisa di otak yang lain. Otak sesuatu yang baru saja terbangun.

***

Saat keluarga itu mati, Apta bersaksi di hadapan polisi bahwa ia tidak bersalah. Tapi aku tau, Apta adalah dusta, ia berbohong, ialah yang telah menusuk-nusuk sang suami, ia jugalah yang mengahantam kursi kayu ke kepala anak-anak itu, dia juga yang membuat sang isteri mati mengangkang karena jerat tangan di leher. Bahkan aku ingat, ialah satu-satunya orang yang berada disana. Aku juga ingat tiap detil kejadiaannya.

Sekarang, polisi, Apta, dan beberapa tetangga berada di Tempat Kejadian Perkara. Mayat yang memang harusnya sudah dipindahkan itu hanya tersisa kapur putih, berbentuk garis posisi mayat terakhir kali. Sayangnya garis putih itu tak bisa menggambarkan mata melotot sang suami.

Salah satu tetangga kamar Apta terlihat begitu gelisah cukup lama, setelah beberapa kucuran keringat ia menuding kepada Apta, wajahnya terarah kepada polisi yang sebenarnya tidak peduli siapa pelakunya atau sebab kematian keluarga itu.

Tanpa tersenyum, pria tua itu makin beringas dengan gelisah dan gemetar atas dirinya sendiri. Apta menatap bingung, mengapa pula ia dituding. Sebelum kejang yang makin hebat, pria tua itu berteriak kepada polisi yang tak peduli, “APTA BERKEPRIBADIAN GANDA!!!”

Ah, mendengar itu mataku terbuka, sekarang aku lega. Akulah Apta dan Apta adalah aku. Aku jadi ingat saat masih anak-anak, Aku tak sengaja menjatuhkan pisau dan menancap di dada ibuku yang tertidur, aku juga tak sengaja mencampur racun tikus ke dalam sarapan adikku. Ayahku menjadi gila, ia suruh aku menyewa kamar kos sendiri.[]

Meyakini berasal dari trah dewa. Lahir dari rahim bidadari yang susah payah menyamar sebagai manusia biasa.

Jusuf Fitroh

The author Jusuf Fitroh

Meyakini berasal dari trah dewa. Lahir dari rahim bidadari yang susah payah menyamar sebagai manusia biasa.

Leave a Response