close
Cerpen

Ariman (3)

Malam ini aku menakuti wanita yang berjalan seorang diri. Kemudian aku menangkap beberapa pemuda yang mabuk. Wujudku ̶ Ariman ̶ memberi kekuatan yang membuatku sebagai manusia super atau sebaliknya, monster.

Malam ini aku mengawasi Romafi. Kudengar dia orang terakhir yang ditemui Wiratma ̶ setidaknya itulah yang dikatakan Ania. Lelaki putih dan berkumis itu, acapkala adalah rivalku. Aku cukup memahami karakter lelaki berintegritas tersebut. Dia adalah lelaki berkompetensi, tapi Wiratma menjebaknya di jalan yang mementingkan dirinya sendiri.

Aku memperkirakan sekarang adalah pukul satu. Kaki dan tanganku cekatan memanjat mahoni. Rumah ini melebar dan beberapa patung diletakkan di sudut. Dindingnya diselimuti lumut dan mawar membingkai sempurna. Aku melompat. Mencongkel jendela dan masuk perlahan.

Pupil mataku melebar. Ruangan gelap, pengap dan tercium aroma busuk. Aku melangkah ke sisi yang lain. Lelaki itu berbalik. Dia memeluk bantal dan tidur. Aku segera merambat di dinding dan berusaha menemukan petunjuk.

“Eureka!” bisikku. Aku mengambil buku catatan yang terlihat berbeda. Kakiku menempel di tembok sementara kedua tanganku membaca halaman di buku. “Ya, ini adalah buku yang diceritakan Ania.”

Kemudian mataku menyipit ketika kulihat kunci yang dimiliki Wiratma. Aku berusaha meraih benda itu, tapi sesuatu bergerak dan seketika aliran listrik menyengat tubuhku. Romafi mendorongku ke lantai.

“Monster,” cecarnya. Dia kembali menyetrumku dengan alat berbentuk pensil.

“Brengsek,” aku mengumpat. Tubuhku terasa lemas. Bahkan, aku tidak merasakan tangan dan kakiku.
Romafi berkedut. Dia takjub melihat wujudku. “Kau adalah makhluk yang memiliki penyimpangan DNA,” dia memberi informasi yang kusadari seminggu yang lalu. Romafi menenteng tali dan mengikat diriku.

Aku merintih.

“Bangsat!” Lelaki itu mengumpat. Kau telah menghancurkan dan mengambil penemuan Profesor,” dia menghardik. Lalu, “Untunglah Profesor telah memperingatkanku akan kedatanganmu.” Kalimat ini terdengar memilukan.

Aku termangu. Butuh beberapa menit membuatkan tersadar. Lalu aku menunduk dan menciptakan raut wajah berbeda ̶ aku harap dia tidak menyadari siapa aku.

“Kenapa kau membuat raut wajah semacam itu?” ocehnya. Romafi menatapku dengan jijik.
Kemudian aku mengganti raut wajahku. Kali ini alisku melekuk dan kutunjukkan semacam seringai.

“Apa yang kau lakukan, Monster?” Dia manatapku sembari menyorotku dengan senter. Lalu terdapat keheningan sesaat, seolah dia menggali rahasia terdalam pikiranku. Kemudian dia ragu dan berkata, “Apakah kau Arif?” Akhirnya Romafi menyebut namaku.
Saat itulah aku menyadari kebenaran perkataan Ania, “lekuk wajah seseorang tetaplah sama. Tulang tetaplah tulang dan tengkorak tidaklah tumbuh ketika dewasa.”
Sial!

Aku mengangkat tangan dan kakiku. Kekuatanku perlahan kembali. Tali ditubuhku terputus. Romafi berusaha menyerang dengan senjata yang menyerupai sebuah pensil.

Aku menghindar. “Gagal!” ujarku. “Sayang sekali, kau tamat.” Tanganku mencengkeram lehernya, sementara kakiku menghantam senjata tersebut. Tubuhku mendorong lelaki malang itu ke tembok. Dia memekik, tapi taringku menunjukkan dia akan mati jika dia melakukan hal itu.

Lalu seseorang menggedor pintu. Kami saling menatap dalam pikiran kalut.

“Apakah kau baik, Rom?” tanya sebuah suara di sisi ruangan.

Romafi menatapku sesaat, lalu bergegas menjawab, “Ya, aku baik.” Dia menyadari lirikan mataku. “Aku mohon pergilah, Bu!” tambahnya.
“Kau yakin?” suara wanita itu kembali bertanya.
“Ya,” balasnya.
Kemudian, suara tersebut berujar, “Profesor sedang menunggumu di depan.”

*****

Silfi memikirkan kepergian Ariman. Dia menatap dirinya di cermin. “Aku mencintainya. Apapun wujud yang dia miliki.” Gadis itu melonggarkan piyama dan merebah.

Tangan mungilnya mencengkeram botol yang terisi setengah. Cairan kuning yang mengisi dan berdiam di dalamnya adalah penyebab penyimpangan DNA.

“Hanya setetes dan manusia berubah menjadi seekor monster mengerikan,” tuturnya. Silfi menyadari bagaimana cairan itu memberi kekuatan tak masuk akal di jangka waktu yang berbeda. “Cairan ini adalah kutukan,” imbuhnya dalam kegelisahan.

Pikirannya terus meliar. Wiratma telah berusaha menghasilkan cairan yang sama, tapi dia hanya menghasilkan cairan jingga dan berbeda. Orang itu adalah pembuat cairan terkutuk dan tak mampu membuatnya kembali.

Silfi merasakan dia berdiri di sisi yang rapuh. “Sekarang yang kubutuhkan adalah informasi mengenai cairan ini,” deliknya. Sesaat dia berpikir apakah sebaiknya dia membuang dan membuat Arif melupakan cairan yang membuatnya sebagai Ariman. Tapi lelaki itu mempercayainya sebagai penjaga.

Silfi membiarkan kelopak menelan matanya. Lalu ponselnya berdering, “Halo,” dia mengangkat panggilan tersebut.

“Hai, Sil. Aku butuh bantuanmu,” terang Arif di tempat yang lain.

BERSAMBUNG

Asri S

The author Asri S

1 Komentar

Leave a Response