close
PuisiSastra

Temaramnya Perbatasan

Sang surya mulai hanyut dalam pangkuan ibu pertiwi

Segalanya menjadi temaram, dalam angan-angan insan yang merindu belaian kasih

Pikiran mulai berkecamuk akan masa depan penerus bangsa

Akan terus seperti inikah gubuk temaram perbatasan?

 

Temaramnya bilik kayu perangkai mimpi

Merajut asa pengharapan dalam temaramnya kehidupan

Kulihat hamparan rona hitam sang cipta

Menunduk kagum akan ciptaannya

Meski temaram menyelimuti pandangan

Menelusuri jalan hidup dengan bertelanjang kaki

Mengusung hidup dalam kesederhanaan

Memetik rindu pengharapan kegemilangan cahaya ibu pertiwi

Megayunkan angan yang tak berujung pada titik kerinduan sang konglongmerat

 

Kutorehkan rasa cintaku pada negeri

Meski jamahan sang birokrat tak urung sampai

Aku cinta pada negeriku

Kurindu terangnya ibu pertiwi

Menyapa lembut sang kulit hitam dan keriting

Menyapa si hitam dalam perbatasan.

 

Tulungagung, 23 Agustus 2017

 

Ania

penyuka sastra, traveling, berkhayal, penggemar puisi Aan Mansur (Tidak Ada New York Hari Ini).

Tags : perbatasantemaram
Nur Fitriyani

The author Nur Fitriyani

penyuka sastra, traveling, berkhayal, penggemar puisi Aan Mansur (Tidak Ada New York Hari Ini).

Leave a Response