Source: https://akcdn.detik.net.id/visual/2017/09/02/f987b5a2-1d54-4138-b8ee-030dcdf75f50_169.jpg?w=620&q=90

Namaku Apti Bur­ma! Lahir di sebidang tanah dunia! Aku melangkah di tanah basah. Basah oleh uang, bahan bakar kaum kap­i­tal­is kata ibuku. Udara pen­gap menye­limu­ti pagi sam­pai malam.

Usai bel pulang melengk­ing di seko­lah dasar tem­patku men­co­ba pin­tar, beber­a­pa orang dewasa datang. Mere­ka ber­jalan di jalan yang lengang itu. Jaket kulit hitam men­gelilin­gi pria ber­jas. Aku berdiri di depan ger­bang seko­lah yang sudah sepi.

Mere­ka hanya lewat. Tak melirik. Kena­pa orang dewasa begi­tu angkuh kepa­da anak-anak seper­tiku? Tanyaku sebal. Pung­gung kekar mere­ka men­jauh. Jalan yang dilaluinya men­ja­di mer­ah dan wak­tu berhenti.

Ayo pulang.” Sen­tak temanku mem­bu­yarkan imaji.

Naik apa?”

Nung­gu becak.”

Kau tau yang kulakukan dari tadi?”

Kau mela­mun.”

Nung­gu becak.” Aku sebal dengannya.

Ceri­ta sehabis seko­lah memang mudah dilu­pakan. Ingatan harus dipicu kuat-kuat agar kein­da­han yang menye­balkan ini ter­pang­gil kem­bali. Becak datang. Kami naik berd­ua. Tukang becak ter­li­hat capai menyusuri jalan pen­gap den­gan kami berd­ua men­ja­di bebannya.

Sam­pai rumah aku cium tan­gan ibu. Ber­jalan ke dalam masuk kamar dan isti­ra­hat den­gan ser­agam masih melekat di tubuh bersama keringat. Sore aku ban­gun oleh rayuan mer­du ibu. Mengin­gatkan man­di dan makan. Segera kamar man­di men­ja­di des­ti­nasi per­ta­ma, suhu pen­gap memak­saku men­cari air segar.

Sete­lah segar mer­a­ba. Aku memakai teru­san kun­ing den­gan ren­da di dada. Ber­jalan menu­ju meja makan. Asta­ga, semua sajian masak dig­oreng, sam­pai terong­pun digoreng.

Goren­gan semua, bu?”

Minyak banyak di tanah kita.” Ucap­nya santai.

Aku tak tau mak­sud ibu. Segera makan sajian itu. Belum sem­pat habis juga makanan di pir­ing, teri­akkan orang di luar mem­bu­atku bangk­it. Ibu sudah berlari dulu­an. Aku pegan­gi baju ibu. Sem­buyi di belakangnya. Di jalan ten­tara datang dan memukuli laki-laki, perem­puan, dan anak kecil. Ibu cepat-cepat menggen­dong aku ke dalam. Men­gun­ci pin­tu dan jen­dela. “Diam dis­i­tu.” Per­in­tah­nya saat men­dudukkan di kur­si. Ia sendiri meng­in­tip dari ser­am­bu jen­dela. Dap­at kutau ia ketakutan.

Ter­fikir olehku teman seko­lah. Apalah ia sama ketaku­tan den­ganku? Dia orang yang riang. Tak mirip den­ganku, pasti­lah dia tak mer­ingkuk ketaku­tan di kur­si seper­ti ini.

Malam men­ja­di mencekam. Apa pan­tas anak-anak seper­tiku bera­da dalam keadaan ini? Ibu tidak tidur semala­man. Aku tau. Aku tetap di kur­si menga­mati sikap ibu yang kawatir. Apa yang ter­ja­di? Paginya ibu mem­intaku tidak kelu­ar rumah yang artinya tidak seko­lah, tidak berte­mu teman yang menye­balkan itu. Tidak seko­lah harus­nya men­ja­di hal menye­nangkan, sebab bisa menon­ton tele­visi den­gan nya­man. Aneh, aku rindu den­gan­nya. Pada­hal baru kemarin ia di atas becak bersamaku. Di keadaan ini ibu tetap melakukan sem­bahyang dluha seper­ti buasa.

**

Hari ini makin siang. Jalan-jalan makin ramai den­gan orang-orang yang tak kuke­nal. Para tetang­ga berlar­i­an den­gan sarung berisi paka­ian. Seo­lah mere­ka lari dari ben­cana. Sedan­gkan disi­ni, aku dan ibu hanya mem­ba­ca keadaan den­gan ketakutan.

Beber­a­pa hari ber­jalan ringkik. Sak­it hari disi­ni. Aku meli­hat teman-teman yang biasanya bermain lom­pat tali bersamaku ikut den­gan rom­bon­gan yang lari itu. Wajah­nya sama den­ganku, tak menger­ti apa yang ter­ja­di. Ibu men­co­ba mene­nangkanku. Mene­nangkan dirinya juga. “Segera semua kem­bali seper­ti biasa.” Hal ini per­nah dibicarakan tetang­ga saat mere­ka berkumpul. Men­ga­jak segera pergi.

Rumah ini milikku. Milik ibu. Banyak ingatan yang men­gakar sejak aku kecil. Saat orang tuaku mer­ayakan ulang tahunku, ulang tahun pernika­han mere­ka, sam­pai saat bapak mati di ran­jang. Bapak orang baik. Ia ter­lalu keras bek­er­ja sam­pai sak­it, aku per­caya itu. Senyum bapak ter­pa­jang di tem­bok depan tele­visi. Ini rumah kami, tiap sudut kupan­dan­gi dan muncul ingatan yang haru. Mau pin­dah kemana?

Ibu setu­ju den­ganku. Tak bakal pin­dah dari istana ingatan kami. Malam itu kami ber­jalan kelu­ar, meli­hat rumah-rumah sudah sepi. Ibu melem­par pan­dang ke arahku. Seakan mem­ber­i­tahu agar tak kawatir, kau sendiri kawatir, ibu.

Di ujung jalan banyak orang berkumpul! Mere­ka bert­e­ri­ak-teri­ak! Semakin dekat den­gan kami. Aku dan ibu berlari ke rumah, tan­ganku dipegan­gi erat. Kakiku yang mungil tak bisa mengiku­ti langkah besarnya. Ibu gen­dong aku. Masuk rumah dan men­gun­ci semua pin­tu dan ventilasi.

Ibu lelah beber­a­pa hari tak tidur. Di malam yang syah­du itu kuli­hat air muka ibu yang pucat. Ia tidur di kur­si. Kubu­at tan­gan ibu seba­gai ban­tal. Tidurlah kami di malam ini.

Pagi buta kami diban­gunkan kobaran api! Ini bukan hal baik. Ibu panik bukan kepalang. Aku ter­paku meli­hat api itu memakan kenan­gan kami. Ibu berlari ke belakang, men­datan­gi kobaran itu! Tak mam­pu. Ia kem­bali ke arahku. Merangkul kemu­di­an menggen­dong per­gi dari rumah. Sederet rumah dimakan api. Dan di ujung sana orang-orang semalam masih ada. Ibu dan beber­a­pa tetang­ga berlari den­gan aku digen­dongnya ke arah yang lain.

**

Sudah habis tena­ga berlari. Kami ber­jalan. Sudah san­gat jauh pula kami dari istana kenan­gan. Berkumpul bersama selusin orang yang sama-sama takut. Dimana pemer­in­tah yang melin­dun­gi seper­ti yang dit­erangkan di sekolah?

Kami seper­ti hewan buru­an yang harus dipeng­gal. Rumah kami, bayangkan itu. Dibakar! Itu rumah, bukan sarang penyak­it kelamin! Kami duduk. Kele­la­han. Beber­a­pa perem­puan dan laki-laki mulai menangis. Anak-anak juga menangis. Kami semua menangis. Mer­aung memenuhi alam den­gan kesedihan.

Berhari-hari kami ber­jalan. Menyusuri sawah dan hutan. Ibu mulai sak­it-sak­i­tan. Jelas kami kela­paran. Tak ada sekepal nasipun yang sem­pat ibu bawa. Ia hanya mem­bawa hal berhar­ga, itu adalah aku. Aku berhar­ga bagi ibu. Tidak bagi mere­ka yang mem­bakar rumah ibu.

Berun­tungnya orang-orang disi­ni baik. Seti­dak-tidaknya meman­dang kami seba­gai manu­sia. Diberinya sedik­it nasi tapi rata.

Aku ber­jalan di depan den­gan boc­ah yang sama seper­tiku. Teringat teman seko­lah, dimana sekarang ia bera­da? Kem­ana tujuan per­jalanan ini? Aku hanya ingin main lom­pat tali seper­ti biasa. []

Meyaki­ni berasal dari trah dewa. Lahir dari rahim bidadari yang susah payah menya­mar seba­gai manu­sia biasa.