close
Opini

Peluang Usaha dari Komoditas Pecinta Kopi

Budaya minum kopi bagi sebagian masyarakat merupakan kebiasaan yang tidak terlepas dari kehidupan tiap harinya. Sedikitnya masyarakat diseluruh dunia menjadikan kopi sebagai jenis minuman yang selalu ada disela kehidupan mereka. Bukan hanya dirasa nikmat, tetapi juga merupakan komoditas yang bernilai ekonomis. Maka wajar saja 20 persen dari berbagai negara memanfaatkan kopi sebagai peluang usaha Caffe dan Warung Kopi.

Saat ini masyarakat tidak hanya digandrungi dengan era komoditas tapi lebih dari gaya hidup. Melihat posisi kopi lebih dari sebuah kebutuhan membuat presiden Joko Widodo menginginkan kopi Indonesia menjadi raja pasar global. Seperti yang diungkapkan pada metronews.com pada 4 Oktober 2017 lalu.

Indonesia sendiri merupakan penghasil kopi terbesar. Dimana perkebunan kopi di Indonesia tersebar luas dari sabang sampai merauke. Sehingga tidak aneh setiap kita mampir disebuah caffe ataupun warung kopi, kita disuguhkan dengan berbagai macam varian biji kopi khas lokal masing-masing. Misalnya saja kopi Aceh, kopi Bali, kopi Lampung, dan kopi Malang.

Bagi Indonesia kopi merupakan penghasil devisa terbesar setelah minyak sawit, karet, dan kakao. Indonesia juga merupakan eksportir kopi terbesar di dunia salah satunya pada komoditas kopi Robusta. Jenis kopi ini diekstrak dari biji kopi robusta yang memiliki cita rasa pahit. Selain itu, biji kopi ini banyak digunakan sebagai bahan baku kopi siap saji. Sehingga konsumen dapat menikmati cita rasa kopi robusta dari seduhan kopi instant yang diracik.

Indonesia setidaknya memiliki beberapa jenis kopi unggulan, diantaranya kopi Gayo, kopi Toraja, kopi Kintamani, kopi Flores, kopi Jawa, kopi Lanang, dan kopi Luwak. Ini merupakan beberapa jenis kopi Indonesia yang dikenal diseluruh dunia. Bahkan salah satu dari jenis kopi Indonesia dicap sebagai kopi termahal di dunia sebut saja kopi Luwak.

Kopi luwak merupakan kopi yang diproses dengan bantuan hewan luwak. Hewan ini merupakan bagian dari hewan mamalia dan masuk dalam jenis musang. Dalam prosesnya hewan luwak akan memakan biji kopi. Ibarat kata hewan luwak ini adalah mesin pemrosesan biji kopi. Sehingga hewan ini hanya mampu menghasilkan 30% kopi. Mengingat bahwa biji kopi ini bukanlah makanan utamanya, bisa dikatakan biji kopi ini sebagai makanan camilan. Sehingga hewan luwak hanya dapat mengahsilkan sedikit.

Selain itu, pada saat panen tidak semua biji kopi luwak dapat dijadikan kopi. Meski panen yang dihasilkan berton-ton, hanya 50 persennya dapat dijadikan kopi. Selain menghasilkan kopi yang sedikit juga proses ini membutuhkan waktu yang lama. Sehingga petani dapat mengolahnya menjadi bubuk kopi yang memiliki cita rasa tinggi.

Melihat panen yang dihasilkan berkisar 50% dan hewan luwak hanya mampu menghasilkan biji kopi berkisar 30% maka petani hanya mampu mengolahnya sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, dengan proses yang membutuhkan ekstra kesabaran terbayar dengan harga yang sesuai dengan pekerjaan. Kisaran harga kopi luwak adalah 200.000 per cangkir.

Momen perayaan Hari Kopi Internasional yang diselenggarakan pada 1 Oktober 2017 lalu tepatnya di Bandar Lampung dan Tanggamus, setidaknya menjadi gerbang utama memperkenalkan beberapa jenis kopi Indonesia dikancah internasional. Pada acara ini dihadiri oleh beberapa menteri diantaranya Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri Pariwisata, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI), 20 duta besar, serta 18 Gubernur penghasil kopi se-Indonesia. Sekaligus sejumlah negara seperti Eropa, Amerika, dan Asia. Seperti yang diungkapkan pada harian Kompas.

Dengan adanya momen ini setidaknya menjadikan semangat para petani bahkan pelaku usaha di Indonesia untuk lebih optimis dalam mengambil peluang. Tidak hanya manfaat yang dapat dirasakan oleh diri sendiri namun negara juga mengambil keuntungan dari kegiatan ekspor yang dilakukan. Akibat dari kegiatan ini jumlah devisa negara akan meningkat. Sehingga diharapkan pelaku usaha mulai responsible terhadap fenomena gaya hidup yang berkembang.

Persaingan usaha yang kini mulai ketat, diharapkan Indonesia mampu memanfaatkan peluang. Setidaknya dapat berlaku mengembangkan UMKM untuk dapat masuk dan ikut bersaing di sektor industri gaya hidup. Semakin cepat kita menentukan pangsa pasar semakin meningkat pula permintaan konsumen, dan semakin banyak produksi yang akan dihasilkan. []

Ania

penyuka sastra, traveling, berkhayal, penggemar puisi Aan Mansur (Tidak Ada New York Hari Ini).

Tags : Kopi
Nur Fitriyani

The author Nur Fitriyani

penyuka sastra, traveling, berkhayal, penggemar puisi Aan Mansur (Tidak Ada New York Hari Ini).

Leave a Response