close
Cerpen

Pembantu

Sarapan kali ini tidak terasa nikmat. Sebab adikku yang memasak. Mungkin ini adalah kali pertama ia memasuki dapur. Membuat kami sekeluarga menjadi kelinci percobaan masakannya yang hancur. Dagingnya dipotong besar-besar, alot dan keras. Bumbunya apalagi, terlalu banyak saos.

Sejak kemarin aku menjadi murung. Sebab teman bicara dan bercanda –pembantuku- pulang. Itulah satu-satunya alasan adikku memakai celemek.

Pembantu itu begitu baik. Saat mama dan papa bekerja, ia selalu menghiburku dan membuat tersenyum. Namanya mBok Wati, kupangiil mBok saja. mBok membuat hari-hariku selesai pulang sekolah dari SMA menjadi riang. Ia ceritakan masakannya yang baru dan selalu enak, atau ia bakal bercerita tentang tikus yang ia kejar atau kecoak yang membuatnya melompat. Banyak sekali ceritanya. Tak habis-habis dan membuatku tertawa, kadang malah mengucurkan air mata karena cerita mBok tentang kampungnya. Tentang kehidupan yng kejam dan tak kenal ampun. Tapi mBok selalu sabar dan tabah.

Adikku, Apti namanya. Ia tidak suka diceritai. Dia juga adik kelasku di SMA yang sama. Apti sering mengurung diri di kamar, memutar musik sepanjang siang. Sorenya saat makan, ia membawa makanannya masuk kamar. Kemudian melanjutkan mendengarkan musik. Atau entah apa yang dilakukan olehnya di dalam kamar sendirian, dengan volume musik yang mampu membuat tetangga yang sedang putus cinta menghunus katana.

Biarkan gadis itu. Dengar-dengar ia cemburu padaku, sebab mBok lebih memperhatikanku daripada dirinya. Saat melihat aku dan mBok sedang bercerita di ruang depan, ia selalu melempar pandangan kemudian pergi setelah kami memanggilnya. Ia tak mau datang, entah apa yang terjadi dengan pikirannya. Setelah itu bakal terdengar keras-keras suara musik dari kamarnya yang memang disengaja. Aku dan mBok berpandangan, kami berdua mendatangi kamarnya. Mengetuk dan mBok memanggil dengan lembut. Tak ada jawaban, Apti selalu pura-pura tak dengar atau pura-pura tidur. Apti jelas dengan sengaja membiarkan kami berada di luar, sepertinya tak ada sama sekali di hari-harinya jadwal untuk menyukai kami berdua.

“Sudahlah mBok, biarkan saja.”

mBok memelas, menyerah. Ia kemudian meminta diri untuk mengurus dapur. Memasak.

“Sup daging ya, mBok.” Pintaku manja.

mBok cubit pipiku. Aku merasa malu, sudah sebesar ini tetap saja dianggap perempuan yang masih kanak-kanak. Sup itu adalah terakhir kali aku merasakan masakan mBok sebelum ia pulang ke kampung tanpa pamitan.

**

Esok hari datang tergesa-gesa. Balapan dengan rasa marahku karena mBok tiba-tiba pergi. Mengapa ia setega ini, apakah ada urusan yang lebih mendadak daripada membangunkanku di tengah malam kemudian pamitan untuk pulang.

Mama dan papa pulang pagi ini, mereka menanyakan kemana mBok.

“Sudah pulang, ma,” kata Apti, “tadi malam aku tidak tidur, mBok minta diri. Ada urusan mendadak katanya. Tak berani bangunkan kakak, katanya kasian baru tidur.”

Mama dan papa mengiyakan.

“Nanti mama telfon rumahnya, ada apa pulang tanpa pamit.”

Aku tau bahwa mBok pulang juga dari Apti, ia seperti gadis kelelawar yang tidur sepanjang siang kemudian terjaga pada malamnya.

Teringat ceritaku dengan mBok, tak ada Apti yang angkuh itu. Adik yang pendiam dan suka iri. Ia selalu mengurung diri, tak banyak bicara, dan yang paling membuatku terheran: ia memiliki tatapan itu. Matanya seolah tak berkedip saat menatap aku dan mBok.

mBok selalu bilang bahwa orang iri selalu ada, tapi kita harus berbaik sangka. Berbaik sangka mBok? Pikiran jahat dan ide gila malah yang mampir di otakku. Mungkin saja gara-gara Apti. Ia mengusirmu di malam saat aku tertidur. Mengancammu atau bahkan memaksa dengan segala paksa yang kejam. Bagaimana jika memang benar, mBok? Orang sebaik dirimu tak kubayangkan mendapat perlakuan demikian. Hatiku teriris.

**

Pada sepotong pagi yang belum selesai ini, sedikit lega. Apti kembali mendaratkan senyum pada tatapan keluarga. Mama ikut senang, papa juga. Kemudian ia beritahu semua orang dengan raut girang bahwa dirinya mau belajar memasak untuk menggantikan sementara mBok.

Minggu sekolah libur. Kami berkumpul dalam kehangatan keluarga. Seperti kehidupan yang lahir dari rahim yang kemarin, dibalut dengan kasih dan diusap dengan sayang. Kehadiran mBok serasa di sini. Andai mBok berada di lingkaran ini, kebahagiaan dan kasih dan sayang makin lengkap dan kental. Kemudian menghirupnya dalam-dalam dan kita akan berlomba siapa yang mampu menyimpannya paling lama dalam dada.

Sampai ketidak-hadirannya di sini, mBok tetap memberikan kebahagiaan untuk keluarga.

“Jangan ada yang ke dapur ya.” Pinta Apti manis.

Mama dan aku berpandangan. Terheran kemudian mengiyakan. Apti tidak pernah terlihat segirang itu. Anak kecil ini terlihat juga sisi lucunya. Terbesit keinginan tidur bersama seperti beberapa tahun lalu. Ia selalu mendekam masuk ketiak saat lampu kamar mama suruh matikan. Ia juga yang bangun paling siang, aku harus menarik selimut tebalnya dulu, kemudian merayu bahwa air hangat yang wangi sudah menanti.

kami tersenyum, mengiyakan permintaan anak yang bahagia itu.

“Akan Apti buatkan sup kesukaan kakak.” Senyumnya mampir sebelum ia tenggelam di pintu dapur.

Hampir seluruh pagi ia habiskan. Kemudian ia datang, membawa mangkuk besar beserta pancinya. Kewalahan anak kecil itu, mama dan papa segera bangkit saling melempar senyum dan membantu Apti. Kemudian dengan lincah anak itu membagikan sup dan memberikan untuk kami semua.

Papa memuji, anak kecilnya riang dan bersemangat. Mama ikut tersenyum. Akupun bahagia. Apti dengan penasaran bertanya manja, “Bagaimana rasanya?”

Aku hampir-hampir muntah waktu mencicipinya. Rasanya tak karuan. Kami menahan rasa tidak enak kemudian tertawa bersama. Apti yang tidak tahu malah memasang wajah angker, raut itu malah membuat kami makin tertawa. Dalam wajah ketidaktahuan itu masih tersirat lucunya adikku. Serentak kami mengatakan enak, kemudian kembali tertawa bersama. Hanya Apti yang masih kecut tidak mengerti.

Ia makin terlihat lucu. Kemudian kami terpaksa mengunyah daging yang alot. Apti jelas tidak tahu bagaimana memasak daging untuk sup.

“Besok kakak ajarin masak sup daging, ya.”

“Iya iya,” ia makin manja, “dagingnya di kulkas masih, kak.”

Keceriaan keluarga kami tetap berlanjut sampai mama dan papa benar-benar muntah. Pikiranku salah, mBok memang berada di sini. Disendoknya sup yang  kebanyakan saos itu oleh papa. Tak ada sama sekali kebahagiaan dan kasih sayang seperti yang aku angankan. []

romafiwk

The author romafiwk

Leave a Response