close
BukuOpini

Belajar Sipol, Ekosob dan HAM Lewat Mojok

src: https://mojokstore.com/wp-content/uploads/2016/08/Surat-Terbuka-kepada-Pemilih-Jokowi-Sedunia-front.jpg

Judul                   : Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia: Kumpulan Tulisan Terpilih Mojok.co

Penulis                  : Iqbal Aji Daryono, dkk.

Penerbit                : Buku Mojok

Tahun Terbit        : 2015

Tebal Buku           : 274 Halaman

Sekalipun sederhana, bolehlah kami berharap Mojok bisa tumbvuh bersama semua elemen masyarakat sipil di dalam menegakkan keadilan dan martabat kemanusiaan. Kami memang nakal. Kadang pedas.
Tapi kami ingin terus bergerak untuk kebaikan.”
Puthut EA (Kepala Suku Mojok)

Dua terbitan buku mojok saya dapatkan dari Pimpinan Umum (PU) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dimensi. Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia: Kumpulan Tulisan Terpilih Mojok.co oleh Iqbal Aji Daryono, dkk dan Melawat ke Timur: Menyusuri Semenanjung Raja-raja oleh Kardono Setyorakhmadi. Awalnya saya lebih tertarik dengan buku Kardono Setyorakhmadi, karena saya kira cukup menarik nafsu baca. Namun, sebelum sempat mengamankan buku tersebut, konco sebelah terlanjur kepincut baca juga. Alhasil saya membaca satu buku pertama.

Tidak apa lah, yang penting saya mau mojok membaca tulisan buku Mojok. Apalagi setelah melihat judul bukunya ‘tulisan terpilih Mojok.co’. Dari sini mungkin saya terkategori pembaca yang cukup malas. Karena tidak akan tertarik membaca buku jika tidak mendapat kemistri dengan judul. Ya, seperti yang dikatakan Aji Prasetyo (komikus) saat mengisi workshop Dimensi. Tidak jarang penulis sibuk mencari judul yang menarik untuk pembaca yang malas.

Buku kumpulan tulisan terpilih Mojok ini hadir sebagai bentuk hadiah kepada pembaca setia Mojok setelah Mojok melewati Diesnatalis pertama. Sebagaimana yang dikatakan dalam pengantar buku oleh Puthut EA selaku kepala suku Mojok. Tak luput juga pengantar singkat dari editor, Iffah Hannah yang membagi persoalan yang dibahas dalam 50 judul artikel terpilih ke dalam 5 bagian. Adapun bagian-bagiannya meliputi Politik, Olahraga, Sosial Budaya, Agama, serta Hukum dan HAM. Empat bagian awal saya kira mencakup pasal Sipil Politik (Sipol), serta Ekonomi Sosial dan Budaya (Ekosob) yang biasa dibahas ketika belajar HAM.

Pertama-tama saya minta maaf kepada pihak Mojok yang mungkin tidak sengaja (juga mustahil) membaca dimensipers.com. Saya mengaku lebih gemar membaca tulisan mojok.co ketika diminta update portal tertentu sebagai bacaan wajib sehari-hari. Walaupun demikian saya yakin tidak se-update Mojokers lain. Alhasil ketika saya membaca buku Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia: Kumpulan Tulisan Terpilih Mojok.co ini belum semua tulisan yang tertera pada daftar isi sempat saya baca, tentunya sebelum dibukukan dalam buku ini.

Di sisi lain, saya bersyukur telah membaca tulisan yang lain sebelumnya. Dengan pertimbangan 1) mengirit waktu membaca buku, 2) menyita bacaan, mengingat banyak buku lain yang ngantri wajib (kudu) dibaca. Walaupun pada akhirnya tulisan yang saya kira sudah terlalu lama saya baca dulu saya putuskan untuk membacanya lagi.

Kedua kalinya, terima kasih kepada pihak mojok karena telah menerbitkan buku mojok berupa kumpulan terpilih Mojok.co. Saya senang: pertama, karena saya terhitung ‘demen’ membaca tulisan mojok. Kedua, karena sudah terlanjur menguikuti, saya tidak bisa mengklasifikasi tulisan mana yang terkategori ‘terpilih’ diantara yang lain. Walaupun saya yakin semua tulisan yang masuk mojok sudah melewati proses filter ya.

Lagi, masih ada yang membuat saya lebih tertarik ketika membaca buku ini. Dari beberapa tulisan (nakal-berakal) yang sempat saya lewatkan, kini mampu saya tambal tanpa memilah tulisan mojok wajib mana saja yang sayang untuk dilewatkan. Misalnya saja, tulisan Kokok Dirgantoro Mula-mula Malu-malu Lama-lama Mau: Sudah Adilkah Kita pada Iklan Rokok? dan Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia oleh Iqbal Aji Daryono.

Kokok Dirgantoro menanyakan keadilan tanyangan sebuah iklan rokok. Menggaet hasil riset, ia mengatakan iklan rokok dibatasi banyak hal, seperti jam tayang, tidak boleh ada adegan merokok dan sebagainya. Dalam arti aturan yang diterapkan lebih keras dari iklan consumer product lainnya. Dengan alasan rokok membahayakan kesehatan dan jiwa.

Pertimbangan yang kemudian dimunculkan adalah bagaimana dengan produk lainnya? Soft Drink misalnya. Dari kandungan gula yang ada di dalamnya, berpotensi menimbulkan diabetes. Juga, junk food. Mengandung kalori tinggi dengan serat dan gizi rendah.

Ya, mungkin rokok memang mengganggu kesehatan dan mengancam jiwa seseorang. Tapi tidak hanya rokok. Banyak juga berserakan ‘senjata pemusnah masal’ yang tidak diatur iklannya, apalagi peredarannya.” (135)

Sementara itu, tulisan Iqbal Aji Daryono pun tidak kalah ketinggalan untuk dibaca. Bahkan dijadikan judul pada buku antologi tulisan ini. Sebagaimana yang diungkapkan editor, bisa jadi sebagai pengingat bahwa ketika masa Pilpres berakhir, maka selanjutnya adalah mengawal jalannya pemerintahan, mendukung yang baik, dan mengkritik yang belum baik.

Maka, lebih baik sekarang kita lakukan yang semestinya. Ayo tetap dukung Jokowi, dengan cara menjaga agar dia tidak anjlok dari relnya. Berhenti memuja dan memuji tanpa pandang bulu atas semua sikap Jokowi, seolah dia itu bukan makhluk yang makan nasi dan doyan ngopi.” (40)

Setahu saya, tulisan Mojok cenderung nakal tapi berakal. Namun, kini saya temukan yang lebih nakal. Salah satu tulisan yang membuat saya nggak bisa menahan tawa adalah Surat Terbuka untuk Mas Anang Hermansyah oleh Agus Mulyadi. Secara transparan penulis langsung melontarkan ekspresi sengit pada objek tulisan.

Tinggal pindah channel ndasmu njebluk, Mas. Ini bukan soal channelnya, Mas. Tapi ini soal hak publik yang dirampas karena siaran persalinan yang sangat tisak bermutu itu, Mas.
Yasilakan saja kalo mau berniat mengedukasi mengenai bagaimana seorang istri (dalam hal ini Ashanty) memperjuangkan kandungannya …
TAPI TAK BEEEEEGINIIIIIIIIIII!!!” (139)

Dengan lancarnya sindirian keras ditujukan pada Anang yang memutuskan mengadakan siaran prosesi pelrsalinan istrinya di salah satu stasiun televisi.

Tulisan Mojok itu bikin orang akan bilang ‘iya juga ya’ dan ‘bener juga sih’ ketika membaca temuan kritis dalam tulisannya. Selain itu, bakal buat orang ketawa bahkan ngakak pas kena lucunya. Bakal buat orang melotot saat kena sungut nakalnya. Juga, bakal buat orang manggut-manggut pas masuk akalnya.

Maaf bagi pembaca yang mungkin berpikir cara berekspresi saya berlebihan dan lebay. Saya hanya merasa lega ketika menemukan dialog terbuka antara penulis dan respon pembaca dalam buku ini. Tulisan disusun berurutan dari yang pertama dilanjutkan dengan respon pembacanya. Adapun tulisan tersebut adalah Oh, Betapa Humanisnya Para Pendukung Pernikahan Sejenis oleh Eddward S. Kennedy dibalas dengan tulisan Rahmat Hidayat Saya Gay, Saya Liberal, dan Saya Bukan Inlander. Lagi, yang selalu membuat saya berhenti untuk tersenyum adalah doa dari Rahmat kepada Eddward S Kennedy.

Mas Ken yang ternyata manis dan semoga baik,
Kenapa gay kawin jadi heboh? Kan Gay kawin itu sudah lama. Sejak tahun 2000 sudah boleh, dengan Belanda sebagai pelopor.” (83)

Frasa ‘semoga baik’ terulang sampai tiga kali yang pada akhirnya Rahmat berharap lantaran tulisan balasan itu dapat membuat Mas Ken mengerti. Betapa humanisnya Mojok membuat mimbar percakapan yang berarti ini (hiks). Rasanya, penonton difasilitasi ruang untuk membaca tulisan apik yang sempat berbalas ini.

Sampai di sini, mohon maaf Mojok, sebenarnya saya sungkan dan gusar. Mungkin ini apologi saya. Jujur saya tertarik dan enjoy ketika membaca tulisan mojok. Mungkin karena mengandung unsur santai, jenaka, dan humor. Walaupun demikian, pasti ada pemikiran kritis yang bermanfaat bagi pembaca.

Namun, setelah saya pikir-pikir, dalam tulisan mojok terlalu banyak guyoan yang melampaui maksud pokok dari penulis. Mungkin bahasa guyonan tersebut sebagaimana bumbu penyedap yang digunakan untuk membalut masalah yang cukup serius. Atau bahkan, pembaca dewasa ini memang butuh sajian humor sebagai pelumas agar mampu mencerna maksud yang lebih kritis.

Apapun rantai alasan yang ada, tidak membatalkan bahwa kehadiran mojok kini menjadi alternatif informasi yang sekaligus juga menghibur. []

Titi Suryati

The author Titi Suryati

Leave a Response