close
Puisi

Ketidaksukaan yang Dibiasakan

Ketika fajar menampakkan diri, aku merias diri

Ketika Surya berjalan meranjak, kertas kutulis dengan rancak

Ketika sang panas lepas dari suatu ikat, aku pulang untuk berangkat

Ketika gema takbirku menggema, aku mulai membasuh resah gulana

Ketika itu rembulan sedang menyayu, tetap kupacu lagi penaku

Sekon demi sekon sekian ton beban sedang kutunggang

Aprilku kini sedang berpamitan

Meiku dengan semringah menampakkan

Lingkaran merah kalenderku kini datang

Yaa, delapan Mei yang ingin segera kutendang

Pembuat candu jantung berdebaran

Kertas-kertas yang jadi kenangan

Bulan itu telah berlalu, tidak ada selamat, tidak ada kalimat pujian

Saat kumerutuki nasib, kalian hanya mengucap semangat kawan

Waktu berlalu, semakin hari semakin lalu

Sebodoh inikah aku?

Teruntuk hati, selamat tentang juang yang mencapai final

Teruntuk jiwa, jangan merasa sesal tentang lelah yang begitu hebatnya

Kini saatnya membuka kebangkitan di hari yang kini datang

Tentang ketidaksukaan yang menjadi takdir awal perjuangan

Bersemangatlah raga yang pernah rapuh

Diri ini berhak untuk merebut kemenangan

Bukan hari ini, tapi kelak

Setelah proses yang diolah begitu lihainya

Biasakan kebencianmu

Biasakan ketidaksukaanmu

Bergelut ilmu featuring religi

Jadilah insan pengabdi ilmu sejati.

 

*Mahasiswa Sosiologi Agama semester 1

 

 

Hatiku merasa, tuturku mengucap, mataku menatap, tanganku berbincang, batinmu mengeja

Tags : puisi
Natasya Pazha

The author Natasya Pazha

Hatiku merasa, tuturku mengucap, mataku menatap, tanganku berbincang, batinmu mengeja

Leave a Response