close
Opini

Rambut Gondrong dan Citranya di Dunia Pendidikan

Penampilan seseorang yang ditunjukkan ke khalayak umum dianggap mencerminkan kepribadian seseorang. Baik, buruknya orang tersebut dapat dinilai dengan mudah oleh orang-orang dengan sekali pandang saja, begitu adat yang ada. Pemilihan pakaian, cara berjalan, bertutur kata, serta yang tak mungkin luput dari pandangan yaitu, gaya rambut. Setiap orang memiliki kecenderungan masing-masing dalam pemilihan gaya rambutnya khususnya untuk kaum adam, dari yang mulai model rambut ala boyband yang tengah naik daun, gaya penyanyi musik barat yang juga tak kalah peminatnya, dan masih banyak lagi yang memiliki nama khas di tukang cukur.

Lantas ketika kita melihat seseorang dengan yang lebih memilih memanjangkan rambutnya, alias gondrong, bagaimana kita menyikapinya. “Gimana ya, terkesan urakan sama jorok gitu,” ujar seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi yang ada di Tulungagung.

Dunia pendidikan Indonesia utamanya, sangat menolak keras masalah kegondrongan ini. Peraturan ini pun sudah menjadi tradisi pengisi tata tertib siswa selain memakai seragam yang sopan dan rapi sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Kesan-kesan negatif seperti yang sudah tertera sebelumnya, ditambah lagi memang sejak dari dulu sudah terpatri bahwa gondrong sudah membawa citra tidak patuh serta tidak mencerminkan etikat seorang pelajar, menjadi alasan utama ketika para guru di sekolah dulu selalu berbekal gunting kala merazia seusai upacara bendera.

Meruntuti sejarahnya, rambut gondrong sebenarnya sudah menjadi ciri khas bangsa ini. Film-film kolosal yang ditayangkan di beberapa saluran televisi pun pemainnya tak luput dari kesan gondrong, bahkan jika kita lihat lebih jeli, semakin tinggi strata seseorang maka rambut gondrong seperti sudah menjadi kewajiban.

Diliansir dari berdikarionline sebenarnya tren rambut gondrong ini dulu sempat meredup dengan dimulainya Islamisasi yang ada di Indonesia. Hal ini dimaksudkan sebagai pembeda antara laki-laki yang identik dengan rambut pendek dan rapi dengan perempuan yang berambut panjang. Kemudian, di masa pemerintahan Soekarno, rambut gondrong dianggap menjadi suatu hal yang melenceng. Penghilangan budaya barat yang sudah memakai tren rambut itu, membuat Soekarno geram kala itu melihat trend tersebut.

Tak berhenti sampai disitu, penolakan tren rambut gondrong juga masih berlanjut di rezim Suharto. Menurutnya, rambut gondrong itu sangat identik dengan perlawanan akan pemerintahan yang ada, dan dalam menanggapinya ada pemerintah di suatu daerah di Indonesia kala itu sampai sudah membentuk suatu badan pemberantasan rambut gondrong. Para pemuda tentunya yang menjadi peminat setia tren tersebut. Meskipun begitu adanya, filosofi penggunaan tren ini ternyata sudah jadi tradisi saat penjajahan dulu. Rambut gondrong sama dengan ungkapan penolakan akan penjajahan yang ada.

Sampai saat ini, di dunia perguruan tinggi para mahasiswa masih menjadi peminat rambut gondrong. Banyak dari mereka beralasan sama dengan yang sudah ada, sebagai bentuk penolakan dengan sistem yang ada sampai ada juga yang melakukannya sebagai pelampiasan jayanya aturan ini di dunia pendidikan saat masih di bangku sekolah.

Jika dikaitkan dengan sejarah yang ada, lantas apa kiranya hal yang mendasari dilarangnya rambut gondrong di pendidikan di Indonesia. Ketika ditanyai mengenai hal itu, seorang pengajar di salah satu sekolah mengatakan, “Rambut gondrong itu kan identik sama anak yang tidak mau diatur, berandalan, dan urakan, padahalkan siswa itu harusnya terlihat rapi.”

Sudah menjamurnya alasan klasik kata “berandalan dan urakan” yang menjadi label ketika menggunakan tren rambut gondrong, tentunya perlu kembali dikaji. Jika kita masih saja mengudarakan alasan tersebut, lantas perlukah dilupakan perjuangan pemuda gondrong yang ada. Tak hanya itu, jika dilabelkan seperti di atas, lantas bagaimana dengan yang berambut pendek namun kejahatannya merugikan negara. Koruptor sebut saja.

Bukan bermaksud menyudutkan pemahaman pelarangan rambut gondrong, namun perlu dipertimbangkan juga bahwa saat seseorang melakukan suatu hal tentunya ada alasan yang kuat ia melakukannya. Baik sebenarnya adanya larangan tersebut akan tetapi, tentunya perlu dibarengi dengan pembentukan moral anak negeri ini. Jika diteruskan kesalahpahaman yang ada, bisa jadi nanti akan makin berkembang jenis kenakalan-kenalan yang ada yang bahkan lebih merugikan. Terakhir, tentunya ini juga sebagai wejangan untuk kita sendiri, untuk tidak meneruskan justifikasi tren tersebut. []

Tags : #gondrongpendidikan
Helin Kusuma

The author Helin Kusuma

Leave a Response