close
Puisi

Buta Nyata, Silau Fana

Hiruk pikuk dunia pendidikan terjangkit kecemburuan perlakuan. Popularitas semakin marak diagung-agungkan. Demi menyokong sudut kecil pengakuan.

Ketidakadilan semakin gencar. Menyisihkan kaum pembuat perubahan. Berpuluh-puluh bagian yang dicerca. Satu-satu saja bagian lain mulai berjaya.

Ruang terang bagi kaum terpandang. Redup nan usang teruntuk kaum yang tersisihkan.

Secepat laju kuda layanan bertindak pada mereka. Kian melambat dihadapkan pada objek yang tiada untungnya.

Pencapaian yang dibanggakan kini telah dibelokkan. Yang tak perlu, sengaja mereka ramai-ramaikan. Hanya sebatas tempat berpijak yang disamakan. Tanpa ada tutur kata dan perlakuan yang sejalan.

Berbekal nama. Apapun bisa dikendalikan. Sekadar prestasi akan segera tersisihkan.

Masyarakat di luar garis akademis terbius aroma desas-desus kebanggakan yang dibincangkan. Berasaskan pada elemen di luar pendukung kemajuan, namun nikmat untuk indra penglihatan.

Hatiku merasa, tuturku mengucap, mataku menatap, tanganku berbincang, batinmu mengeja

Natasya Pazha

The author Natasya Pazha

Hatiku merasa, tuturku mengucap, mataku menatap, tanganku berbincang, batinmu mengeja

Leave a Response