close
Puisi

Lakuna

Aku tercipta bukan karena pencipta sedang bercanda

Aku ada bukan karena mereka iseng-iseng saja

Aku adalah buah dari cinta, bukan hina semata

Aku adalah sketsa karsa orang tua, bukan hanya fatamorgana


Bau tubuhku serupa kembang tujuh rupa, yang nubuat oleh pintu surga yang pertama

Menyelinap ke dasar-dasar rongga dada, meronta-ronta memaksa membaca fana dunia


Belum kureka bahasa-bahasa manusia

Air mata mengembara tanda dahaga

Sayup-sayup sabda ayah menyelinap telinga

Berkelana mewarna jiwa dengan riuh-riuh agama

Besar harap dan ucap agar kelak taat pada Tuhannya


Masa balita adalah gembira paling setia

Bermain kereta di bawah pohon Akasia


Usia semakin hari semakin bertambah

Kupu-kupu terbang mencari darah

Kumbang-kumbang hijrah menengok sejarah

Duniaku legam seolah, tanpa celoteh seorang ayah


“Jadi anak berbakti duniawi, dapatkan ridha surgawi,” celoteh ayah yang gagal menuai kisah


“Anakku yang cantik, takdir tak bisa dipetik, hanya sanggup saling menggelitik.”


Ibuku lebih memabukkan dari anggur yang diteguk teman-teman

Ibuku lebih mengigaukan dari pil yang diminum warga-warga sel tahanan

Tanpa anggur, aku terbuai

Aku terkapar, dan terkulai


Kolam ikan, 23 Juli 2019

Tags : hari anak
Natasya Pazha

The author Natasya Pazha

First you dream, then you do.

Leave a Response