close
FilmUlasan

More than Work: Menukil Diskriminasi Perempuan dalam Media

Judul Film                   : More than Work

Sutradara                   : Luviana

Produser                    : Luviana, Ani Ema Susanti

Penulis Naskah          : Luviana

Pemain                       : Mia, Dian, Desi, Junaedi, Sasmito, Febriana Firdaus, Roy Thaniago,  Kumalasari, Dhiar, Luviana, Dhena Rahman, Khanza Vina, Rahmat M. Arifin, dan Ririn Saesani.

Genre                          : Dokumenter

Durasi                         : 38,35 menit

Studio                         : Konde Production

Film “More than Work” merupakan garapan Luviana, jurnalis televisi di Jakarta dan pengelola web perempuan, yang aktif menulis kondisi perempuan di media. Film ini diangkat sebab maraknya kekerasan seksual, sensasional tubuh, dan kebijakan yang menjerat perempuan.

Film ini mengkisahkan potret buram perempuan di media. Kisah pertama yang disuguhkan yaitu tentang pelecehan seksual yang dialami oleh Dhiar, seorang perempuan yang bekerja di salah satu media di Jakarta. Pelecehan dilakukan oleh jurnalis senior sepanjang 2013. Di antaranya yang paling fatal, yaitu ketika atasan Dhiar mendorong tubuh Dhiar sampai roknya menyelingkap, menindih tubuhnya, sampai dengan menyentuhkan kemaluan ke selangkangannya.

Dhiar mencoba membawa perkara ini ke ranah hukum. Tentu tak mudah, bahkan pertanyaan yang diberikan media kadang kala berbalik menyudutkannya. Pelaku pun kerap mengelak tentang pelaporan Dhiar dengan mengajukan banding, hingga keputusan berakhir dengan hukuman lima tahun kepada pelaku. Namun, hukuman ini tidak berjalan sesuai dengan harapan, sebab pelaku hanya menyandang status narapidana selama 3 tahun dan kemudian bebas berkeliaran.

Kisah perempuan selanjutnya adalah Kumalasari, aktris yang didiskriminasi karena bentuk tubuhnya. Di pertelevisan, sebagai aktris ia mendapatkan konsumsi yang tidak layak dengan porsi atau hidangan yang berbeda dengan aktris yang lebih tenar, mendapatkan make up murah dan sisa, uang transport lebih sedikit, dan kerap mendapatkan pembatalan job, sampai dengan keterbatasan pergaulan.

Pada akhirnya, Kumalasari bertekad mengkuruskan badan dengan diet ketat, suntik hormon, smpai menghabiskan biaya hingga empat miliar, demi mendapatkan peran utama di televisi. Nyatanya, setelahnya tubuhnya menjadi langsing, ia kerap diundang menjadi bintang tamu di televisi. Hal serupa dialami oleh NN, pekerja media yang tidak diperkenankan tampil di layar televisi saat sedang hamil, sebab dianggap gemuk dan tidak menarik ditampilkan, bahkan ia harus menyusui anaknya hanya selama 6 bulan agar dapat kembali bekerja.

Kisah perempuan lainnya adalah Dhena Rahman dan Khanza Vina, seorang transgender yang tidak mendapat peran di media. Dhena Rahman yang selalu dipersulit proyek pembuatan filmnya, sebab harus selalu mengikuti selera pasar dan hari ini seorang LGBT mendapat stigma dari masyarakat. Begitu pun dengan Khanza Vina, ia pernah mendapat pembedaan perlakuan ketika menjadi penonton di salah satu acara televisi, yakni tidak perbolehkan duduk bersama penonton lain, sebab ditakutkan televisi mendapat citra buruk jika terdapat seorang transgender.

Bahkan Komisi Penyiaran Indonesia membuat aturan untuk menghentikan tayangan yang berbau LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), sehingga LGBT tidak mendapat peran di media. Hal ini mengakibatkan aktivis-aktivis perempuan melakukan aksi di gedung KPI menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap keputusan KPI.

Kelebihan dari film ini yakni menampilkan narasumber yang mendukung terhadap persoalan yang sedang dibahas. Informasi yang disuguhkan pula cukup detail, seperti halnya yang ditampilkan pada grafik penggunaan media di Indonesia, hasil keputusan banding, dan surat keputusan KPI tentang LGBT. Kisah yang ditampilkan perindividu cukup mencakup keseluruhan kisah dengan menyeritakannya dari awal, proses-proses penyelesaian, hingga akhir kasus. Film ini juga menghargai privasi korban pelecehan, yang tidak menginginkan memperlihatnkan wajahnya.

Adapun kekurangan dari film ini, yakni keterbatasan menghadirkan media lain. Menampilkan media yang tehindar dari kasus diskriminasi perempuan dirasa perlu, untuk melihat bagaimana perbedaannya.

Film ini cukup tergolong recommended bagi kalangan umum. Film ini mempunyai production value, yang sasaran utamanya adalah mahasiswa, komunitas, serta jaringan buruh, agar menyadari betapa pentingnya menghargai setiap keberagaman, sehingga meminimalisir pelecehan serta diskriminasi terhadap siapa pun, terlebih dalam hal film ini adalah perempuan.

Tags : film
Natasya Pazha

The author Natasya Pazha

First you dream, then you do.

Leave a Response