close
PuisiSastra

Untuk Munir

Aku tersesat di tengah-tengah ibu kota

Membuka mata menatap bayangan cahaya yang hampir sirna

Satu kedip mata, hilang begitu saja

Rupanya kecurangan telah mengepul di luar kepala

Sebagaimana pengkhianatan berjejal nampakkan muka

Kebenaran kini tercengkram dari belakang, sempoyongan, lambat laun hilang

Saat ajal belum mendekat dan berkhianat

Ia angkat derajat kerabat tertindas keparat

Satu gelas penuh pembelaan dipaksakan lekas dikosongkan

Dalam hatiku mencari-cari, siapa nama yang disingkirkan di angkasa sepi seorang diri?

Tangan-tangan merampas cinta

dan satu kaki menjegal nyata

Tak ada bukti maupun saksi

Orang mati berjuang seorang diri!

Aku sematkan dendam-dendam keadilan dari amarah yang tak lagi tertahankan

Jangan tambahkan pada sebatas angan-angan

Menyulut sumbu amarahku untuk ledakkan keangkuhan yang luluh lantahkan kemanusiaan

Walau racun-racun tak beri sekali ampun

Di jejak-jejak langkahku

Kebenaran tak akan kelu

Dalam riuh-riuh nyawaku

Kebenaran tak akan bisa dirayu

Satu martir tersingkir!

Lahirkan seribu nama para pejuang pergolakan

Mungkin sekali lagi, racuniku seribu kali menikamku tiada henti

Sekali lagi! Jangan kau henti!

Gali dalam-dalam kebenaran yang terkuburkan

Angkat kuat-kuat, agar tetap selamat

Natasya Pazha

The author Natasya Pazha

First you dream, then you do.

Leave a Response