close
CerpenSastra

Amrita

Bumantara kian tenggelam. Awang-awang nang terkunci mega lebih meningkatkan hawa cengkeram. Bersama cemeti dewa di belakang bongkahan muram. Laksana bersedia membumikan minuman. Dan jujur saja, kelam sekadar menjahili rembulan.

Amrita gemar suasana ini, bergandengan bersama kenyataan menghayati siratan. Benar sih, Awan hitam tak sehangat pagutan tetapi cukuplah menerbitkan tenteram. Berawan pula tak beraroma mashyur, melainkan apa ya menyegarkan?

Amrita nyaman. Sungguh tertumpuk pandangan nyata di bayang-bayangnya yang tak tertawa. Lamun tanpa minta diri geledek menjemput paksa arwah dari angan-angan. Duar…

Berkat geledek Amrita berhasil terpikir arsenik pada sukrosa. Setiap yang Amrita lakukan sama dengan kesesatan. Kehadirannya ialah sebuah kecatatan. Suaranya pun merupakan sebuah dosa.

Amrita muda tak sempat meminta di keduniakan. Amrita pula tak pernah mengharuskan bapak apa pun. Jangankan menghendaki sesuatu, menatap indra penglihat bapak saja tak pelupuk mata.

Lelaki dengan semerbak balsam yang menduri itu, kerap berpose beku padanya. Hangus dada tanpa latar belakang pada waktu Amrita berada pada penglihatannya. Beberapa kali seseorang yang dijuluki bapak merampas kelayakan Amrita bersama meniadakan kemestiannya, menunaikan tekanan, sampai-sampai menggagahinya.

Lelaki itu rajin mengenakan kamisa. Mengonsumsi minyak wangi biar mampu mencabut nyawa balsam. Lantas menarik diri bermain judi berburu keberuntungan.

“Jangan buat gaduh atau membuat masalah meninggalkan bapak.” Begitulah yang kerap bapak sabdakan sebelum bertindak.

Amrita gadis berumur 9 tahun, menanti pada kawasan tamu seraya memenjara kantuk. Lelaki itu yang rajin mengolah konsumsi untuknya sering kembali lewat kondisi gering hulu. Akan tetapi hari ini tak sebagaimana wajarnya. Jika kebanyakan bapak pulang pukul 2 dini hari, akan tetapi hingga binar baskara menegur, bapak tak kunjung datang.

Amrita memutuskan tak angkat kaki ke sekolah dan menunggu bapak di pekarangan rumah. Menginvestigasi pohon rambutan yang menengok nasib garing di siku halaman. Sialnya, periode kemarau berkunjung, akan tetapi dingin atmosfer konsisten menusuk tulang. Sayangnya, Amrita tetap kukuh tak memperkejakan baju hangat hanya memanfaatkan kaos tipis beserta celana pendeknya. Mau bagaimana, Amrita telah memakan perihal seperi ini setiap hari lantaran Bapak keluarga tunggalnya yang kurang ajar telah membuatnya jatuh cinta.

Pagi menjemput malam dan bapak tak kunjung balik. Amrita lapar dan letih. Selama berjam-jam ia menanti. Hawa adem di temani magh yang sedang berpesta membuatnya sakit.

Hingga akhirnya pagar besi melongo dengan kasar. Seorang lelaki mencampakkan dan masuk sembari menyeret bapak. Amrita bangkit dari duduknya berlari mendatangi bapak.

“Bapak!” serunya bodoh berbaur resah. Mengapa paman itu mengantarkan gemasku pada bapak?

Sayangnya, niat untuk meringankan bapak berakhir dengan tolakan lelaki tersebut. Membuat Amrita jatuh tersungkur membentur pohon jambu. Amrita kecil menangis, melihat bapak diam kesakitan dengan wajah babak belur.

Amrita berangkat ketakutan seraya berlari masuk rumah membututi paman menyeret bapak. Di ruang tamu, paman tersebut memukuli bapak dan mencerca.

“Dasar bajingan! Kau kemanakan uangku, hah?”

Tamparan dan tendangan bertubi-tubi dilayangkan untuk bapak. Amrita berusaha menarik kaki paman tersebut namun berulang kali ia harus terhempas.

“Dasar bocah sialan! Kau anak bajingan ini?” tanya paman tak berperasaan. Bapak yang telah babak belur berusaha bangkit dan menarik kaki temannya.

“Jangan! Jangan anakku!”
“Siapa namamu, nak?”
“Pergi Am!”

Sang paman tertawa. Lantas menarik Amrita dan merangkul lehernya sembari berjongkok menatap bapak yang terkapar.

“Dengan apa kau membayar?”

Bapak meringis merasakan lelaki tersebut menarik rambutnya agar ia mendongak.

“Lihat anakmu. Aku tak tahu kau memiliki putri secantik ini. Jangan menangis nak. Kau mau menyelamatkan bapakmu, hero kecil?”

Amrita tak kompeten akan suasana kondisi yang berjalan. Ia sekadar meratap. Ia ingin istirahat. Dunia tak pernah berbaik hati padanya. Menjadi anak perempuan bukanlah keinginannya, namun hiduplah yang memaksanya. Ia membutuhkan Tuhan.

“Tuhan, Dewa siapapun itu kumohon tolong aku. Aku selalu menanti tapi kemana kau selama ini? Bila engkau benar ada tolong aku, aku menunggumu dengan hitungan 1 sampai 5. Kumulai 1 … 2 … 3 … 4 … 5.”
Hingga bersama suara kecil Amrita berkata, “Bunuh saja lelaki ini, dia yang membuat perjanjian dengan masalah, dia juga yang harus menanggungnya. Aku sudah cukup menderita. Tolong aku, biarkan aku memilih menjadi yatim piatu.”
“Amrita! Dasar Jalang, anak yang tak tahu terima kasih!”
“Hahaha, sudah dramanya? Pulanglah ke Jahanam, terima kasih atas budak manis ini”

Lantas paman tersebut berdiri mencari tali. Ia menemukan sebuah lakban hitam dan mulai mengikat serta menutup mulut bapak menancapkan pisau dengan lihainya. Ketika paman jahat tengah nyaman menyiksa bapak, Amrita menyayat pergelangan tangannya guna menyelamatkan diri tuan barunya. Sejumlah menit akan datang jarum jam tak bersaing lagi dengan deru nafas kecuali dengan paman yang berlomba menandingi iblis.

Mei Amey

The author Mei Amey

Leave a Response