close
CerpenSastra

Semoga Badai Tidak Datang

Berlari, lalu tangkap. Itu yang selalu aku lakukan bersamanya sebelum matahari terbenam. Memang melelahkan, tetapi kami menikmatinya sambil menunggu perahu Ayah untuk siap berlayar. Setiap hari kami pergi menangkap ikan bersama dengan para nelayan. “Apa nanti malam kita menangkap banyak ikan? semoga cuacanya baik-baik saja.“, itu yang digumamkan oleh Yohan, kakakku. Ayah sibuk meletakkan pukat, kantong, serta memeriksa keadaan mesin perahunya, untuk memastikan apakah mesinnya dalam keadaan baik-baik saja. Menjelang malam, para nelayan mulai bersiap untuk berburu ikan. Sebelum menuju perahu, kami selalu berdoa terlebih dulu untuk keselamatan dan semoga bisa menangkap ikan yang banyak.

“Yohan, hari ini pasti tangkap ikan yang banyak seperti dulu.” Kata Ayah sambil berjalan menuju perahu.

“Jangan khawatir, aku dan Roy siap membantu, Yah. Tenaga kita kan cukup banyak untuk nangkap ikan di seluruh laut ini.”

Aku pun segera melompat ke perahu. Kami menaiki perahu dan segera menyalakan mesinnya. Perahu siap berlayar. Ayah mengarahkan perahu kami menuju Utara bersama nelayan lainnya, sisanya menuju arah yang berlawanan. Banyak dari mereka yang memilih arah lainnya karena jarang sekali ada kawanan ikan. Ada mitos yang mengatakan kalau daerah itu banyak roh leluhur yang bersemayam di sana dan memakan semua ikan. Benar-benar konyol. Aku sama sekali tidak merasakan keberadaan roh-roh itu ada di sini. Lautnya juga masih terasa tenang seperti biasa. Aku melihat Yohan di pinggir perahu sedang merapikan pukat kantong untuk berburu malam ini. Tentu saja aku ikut merapikan pukat itu.

“Hei, saudaraku, sepertinya sebelah sini masih kusut,” sambil mengambil bagian yang kusut itu.

“Kau selalu teliti seperti biasanya. Terima kasih, Roy.”

“Ayolah, saudaraku, itu bukan masalah yang sulit.”

“Hei, bisakah kau ramal apakah badai akan datang?”, tanya Yohan.

            Dia mulai lagi. Pertanyaan yang muncul setiap kami akan menangkap ikan. Tentu saja tidak ada badai hari ini. Sudah kukatakan berulang kali kalau aku ahli dalam meramal cuaca. Ku lihat langit malam ini masih terlihat banyak bintang kecil di sana. Tidak ada awan hitam. Kekhawatirannya bisa mengubah suasana ini menjadi tidak berwarna. Tetap saja, Ayah tidak terlihat khawatir sama sekali. Menangkap ikan demi kebutuhan hidup memang lebih penting baginya. Meski akan ada badai besar. Setelah menangkap banyak buruan, kami segera kembali ke pantai dengan nelayan lainnya. Sampai di pesisir, aku tidak melihat rombongan nelayan yang dari arah yang berlawanan dengan kami. Jarang sekali dari daerah itu untuk kembali ke sini lebih lama. Semoga saja mereka kembali dengan selamat.

            Setelah turun dari perahu, Ayah dan Yohan langsung membawa ikan-ikannya ke pasar lokal sekitar pantai untuk dijual sedangkan aku menuju rumah untuk beristirahat. Hari ini sangat melelahkan. Tangkapan hari ini lumayan banyak hingga aku mulai mengantuk lalu terlelap di tempat tidurku.  Semoga besok kami bisa menangkap ikan sebanyak hari ini. Pastinya tidak akan badai yang muncul.

            Aku terbangun dari tidurku. Rumah terasa sepi. Tidak ada tanda-tanda Yohan maupun Ayah di sini. Sepertinya mereka belum kembali ke rumah. Aku melihat langit sudah berwarna jingga gelap melalui jendela lebar. Dan perahu Ayah tidak terlihat. Sial. Aku langsung berlari menuju pinggir pantai untuk mengejar mereka. Aku sudah tidur berapa lama hingga langit sudah sore? Sepertinya sudah terlambat untuk mengejar mereka. Salah satu nelayan yang berada di sana mengatakan bahwa Ayah sudah berangkat lagi untuk menangkap ikan. Mengapa Ayah harus berburu lagi? Bukannya hari ini harus beristirahat seperti biasanya?  Aku mulai berfirasat buruk. Semoga bukan itu yang terjadi, tetapi langit semakin gelap dan lebih gelap dari biasanya. Aku menunggu mereka kembali di pantai dan berharap mereka lebih cepat kembali.

 Tidak mungkin! Anginnya benar-benar tidak bersahabat.

Sial. Badai datang lagi. Mengapa mereka belum terlihat? Harusnya Yohan sudah tahu bahwa badai besar akan datang. Anginnya semakin kencang dan hawa sekitar terasa pengap. Aku harus menunggu mereka untuk benar-benar kembali. Tetanggaku yang tidak berlayar hari ini menyuruhku untuk menunggu mereka di rumahnya. Badai hari ini lebih mengerikan, tetanggaku tahu bahwa badai nanti sangat dahsyat sehingga hari ini ia tidak berlayar. Dia menyuruhku untuk bermalam di rumahnya hingga Ayah pulang. Dia memberiku selimut dan bantal, tak lupa susu hangat  sebelum tidur.

Sudah behari-hari Ayah dan Yohan belum kembali. Perahu mereka tidak pernah terlihat lagi dan aku mulai merindukan mereka. Dan sekarang aku kehilangan keluargaku lagi. Aku rindu berlari sepanjang pantai dengan Yohan, membantu Ayah mempersiapkan peralatan untuk menangkap ikan, dan makan bersama dari hasil tangkapan. Tiba-tiba tetanggaku menghampiriku sambil mengelus kepalaku.

“Roy, kau harus kuat menghadapinya. Kau bisa tinggal denganku sebagai keluarga barumu. Aku akan selalu menjagamu sama seperti ayahmu dan Yohan. Tak perlu khawatir lagi untuk kehilangan keluarga. Kau anjing yang kuat.” Katanya sambil aku mengibaskan ekorku. Akhirnya, ada lagi keluarga yang mau menerimaku.

Tags : #selamatharinelayan
Syahwa Dika

The author Syahwa Dika

1 Komentar

  1. Terima kasih untuk penulis dan teman-teman Dimensi,, tulisan ini menghibur dan mengisi waktu luang di saat menghadapi pandemi covid-19 ini.

Leave a Response