close

Newscamp

Newscamp

Mengaji Kitab Ihya bareng Gus Ulil

IMG_20190722_123340

IAIN Tulungagung adakan Kopi Darat (Kopdar) untuk mengaji kitab Ihya Ulumuddin pada Sabtu, 20 Juli 2019. Acara ini digelar dalam rangka milad IAIN Tulungagung yang ke-51. Tema besar yang diusung adalah yakni “Kopdar: Ngaji Ihya bersama Ulil Abshar Abdalla”. Kehadiran Ulil Abshar Abdallah atau yang akrab dipanggil Gus Ulil bersama istrinya Tsuroiya disambut langsung oleh Maftukhin, Rektor IAIN Tulungagung dan Abad Badruzzaman Wakil Rektor Bidang Kerja Kemahasiswaan dan Kerja Sama.

Maftukhin mengatakan, pada tiga tahun yang lalu kedatangan Gus Ulil dihadang oleh Barisan Serbaguna (Banser). Hal tersebut terjadi sebab ia merupakan pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) yang ajarannya dianggap sesat. “Dulu Banser ingin menangkap Gus Ulil. Dulu sama sekarang Gus Ulil digruduk Banser, tapi dulu gruduk suruh keluar, sekarang … gruduk Gus Ulil masuk kampus.

Acara ini sengaja digelar dan terbuka untuk umum. Penyanyian  mars IAIN Tulungagung yang biasanya dikumandangkan pun, kali ini digantikan dengan lagu Yalal Wathon atas instruksi rektor, sebab mayoritas peserta merupakan umum. Di samping itu, beberapa tokoh yang terlihat hadir yakni Aziz, calon Bupati Kota Blitar; Khalid, pemilik Kampung Coklat; dan Fardan Mahmudatul Imamah, salah satu dosen dari Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), mengikuti rangkaian acara hingga usai.

Gambar: Alif

Salah satu peserta, yakni Elly Elka dan Ana Alfaizah dari jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) antusias mengikuti acara tersebut. Keduanya merupakan peserta yang tiba lebih awal dan membantu panitia menyiapkan acara seperti halnya menyediakan konsumsi dan daftar hadir. Elly mengatakan, bahwa acara ini sangat berkesan baginya, sebab Gus ulil memberikan penjelasan yang dapat mudah dipahami kalangan anak muda.

Dilihat dari pengajian kitab karya Imam Al-Ghazali tersebut, memperlihatkan bahwa tokoh pendiri JIL ini sekarang lebih konsen pada dunia tasawuf. Ia juga mengkritik perihal dunia akademis di Indoensia, bahwa semestinya mahasiswa tidak hanya memiliki kecerdasan akademik saja, melainkan juga mengejar kecerdasan sosial.

Jika disejajarkan dengan keadaan kampus sekarang, Gus ulil menuturkan, bahwa “Mahasiswa maupun warga kampus lainnya sering berbicara yang besar-besar, bahasanya ditinggi-tinggikan, tapi menghasilkan perubahan yang kecil. Sedangkan sufi (pengkaji tasawuf) bicaranya sederhana, tapi bisa mengubah dunia.” Ia juga mengatakan, bahwa mahasiswa seyogianya dapat melakukan small of change dan mengejar kedalaman makna spiritual.

Di sisi lain, pada akhir Kopdar, rektor menyampaikan program yang akan dilaksanakan oleh IAIN Tulungagung. Adapun program yang dimaksud adalah Madrasah Diniyah (Madin) bagi staf pengajar. “Dosen di IAIN Tulungagung ini tidak semua bisa membaca Alquran, maka dari itu tidak hanya mahasiswa saja yang menerima program Madin,” terang Maftukhin.

Saikul Hadi, jurusan Menejemen Pendidikan Islam mengatakan, bahwa dengan diselenggarakannya acara Kopdar ini dapat mempertebal sisi spiritual mahasiswa. Namun, Hadi menyayangkan terkait acara yang terlaksana hingga larut malam, hingga membuat beberapa peserta meninggalkan acara terlebih dahulu. Seperti halnya yang dikeluhkan Intan, salah satu peserta dari Kediri, “Acaranya asyik, tapi mundur selama satu jam setengah jadi selesainya malam. Sedangkan saya sendiri berada di pondok.

baca baca
Newscamp

Haflah Akhirussanah Kubro Madin Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung 2019

IMG-20190701-WA0002

IAIN Tulungagung (30/6) menggelar Haflah Akhirussanah Kubro di lapangan utama IAIN Tulungagung. Acara ini dihadiri oleh mudir Ma’had Al-Jami’ah PTKIN seluruh Indonesia dan disiarkan langsung oleh MADUTV Tulungagung.

Jumlah total mahasantri adalah 5268, dengan rincian lulus murni 4524 mahasantri, lulus bersyarat 208 mahasantri, tidak lulus 528 mahasantri dan tanpa keterangan 8 mahasantri. Penyerahan simbolik mahasantri yang lulus tahun ini diserahkan langsung oleh Maftukhin selaku Rektor IAIN Tulungagung didampingi oleh Teguh, selaku Mudir Ma’had IAIN Tulungagung.

Suasana mulai meriah diiringi berbagai penampilan yang ditampilkan oleh mahasantri pada praacara. Menurut Nasriyatul Akhadiyah, selaku ketua pelaksana Akhirussanah Kubro, pelaksanaan Akhirussanah tahun ini lebih meriah dari tahun sebelumnya. Acara yang digelar kali ini meliputi tiga rangkaian besar, yakni Focus Group Disscusion (FGD) kumpulan Mudir Ma’had PTKIN se-Indonesia, Rihlah Ilmiah yakni lomba-lomba kema’hadan [Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK), Musabaqoh Hifdzil Quran (MHQ), Bahasa Arab, Bahasa Inggris], dan terakhir adalah malam puncak Akhirussanah.

Melihat berjibunnya mahasantri yang hadir pada malam tersebut, Munir dari UIN Raden Fatah Palembang, sekaligus perwakilan Mudir Ma’had Al-Jami’ah se-Indonesia mengutarakan, bahwa Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung ini bukan lagi Unit Pelaksana Teknis (UPT), tapi sudah layak menjadi Lembaga.

Di sisi lain, Nasriya menerangkan, “Untuk tahun ini kami tidak memungut biaya sepeserpun untuk mahasantri, melainkan mereka diminta untuk membawa bekal secara individu.” Namun, hal tersebut cukup menuai ketidakpuasan beberapa mahasantri. Seperti halnya yang dikatakan Fadhilah salah satu peserta, “Acara ini memang sangat megah, tapi sayangnya terlalu malam … dan akan lebih kondusif jika ada konsumsinya.” [Lai, Tan]

baca baca
Newscamp

Bincang Santai Film “More than Work”

IMG20190626155951

Tulungagung (26/6) Film More Than Work, berhasil menarik perhatian hadirin Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi di Aula Gedung Arief Mustaqim. Pasalnya, film dokumenter ini fokus membidik posisi dan kondisi perempuan dipandang dalam industri media. Menyoal pada kala perempuan kerap menjadi korban pelecehan seksual.

Acara ini didukung oleh LPM Dimensi, Gus Durian Tulungagung, PPMI DK Tulungagung, LPM Aksara, Forum Perempuan Filsafat (FPF), sadha.net, DEMA FUAD, dan konde.co. Adapun pembicara yang diundang, yakni Zulfatun Ni’mah, selaku dosen sekaligus Kajur Hukum Ekonomi Syariah (HES) IAIN Tulungagung, Pramita Kusumaningrum, selaku jurnalis jatimnew.com Madiun Raya, dan Dian Meinigtias, selaku penulis nggalek.co.

Hendrik selaku ketua pelaksana menjelaskan, bahwa  maksud dan tujuan diadakannya acara ini ialah supaya mahasiswa mengetahui kedudukan dan posisi perempuan di dalam media hari ini seperti apa dan seharusnya bagaimana. Hal lain yang melelatarbelakangi adalah masih jarangnya perbincangan kondisi perempuan di dalam industri. Hendrik juga sangat mengapresiasi atas kehadiran mahasiswa IAIN Tulungagung untuk serta dalam acara.

Begitu banyak persepsi tentang apa yang dikatakan pelecehan seksual, ataupun pertanyaan apa batasan tindakan disebut pelecehan tersebut. Dalm hal ini, Zulfa mengungkapkan, bahwa pelecehan seksual adalah “Tindakan yang menempatkan orang lain sebagai objek kesenangan seksual tanpa izin, dengan paksa, maka itulah yang disebut pelecehan seksual. Pelecehan tidak hanya berupa fisik … juga ucapan-ucapan yang tidak kita setujui, seperti sapaan, ‘Hai Cantik’, ‘Asalamualaikum.’”

Namun, di sisi lain Pramita menyayangkan, bahwa pemateri yang dihadirkan hanya dari kaum perempuan. “Sebenarnya harus ada narasumber laki-laki di sini, biar adil, karena terkadang laki-laki juga ada loh yang dilecehkan perempuan.”

Salah satu peserta yakni Saiful, mempunyai argumen sendiri menyikapi hal terkait adanya pelecahan seksual. Menurutnya, jika terjadi pelecehan semacam ini, harus ada tindak lanjut, dengan cara pelaporan dari korban kepada pihak wajib. Selain itu, perlu juga diadakan edukasi terkait hak-hak perempuan dan edukasi sejenis yang lain.

Dian juga menyatakan argumennya, bahwa baik perempuan maupun laki-laki mendapat kesempatan dan hak setara untuk berkembang di dunia kerja, tanpa diskriminasi. Dalam hal ini, perempuan dihimbau lebih berani melaporkan hal-hal yang merugikan dirinya. Namun, nyatanya dari sekian banyak kasus pelecehan seksual, hanya beberapa yang melaporkan. Menurut Dian, soal ini sebab  mereka takut jika aibnya terbuka.

Sementara itu, Zulfa menyatakan, bahwa sebelum menonton film tersebut ia awam, sebab belum mengetahui sampai sedetail itu dan baru memahami hanya secara global. Menurutnya, penting sekali mengajak orang lain menonton film tersebut, agar paling tidak mereka mengetahui persoalan yang sebenarnya.

Selain itu, film ini juga bersifat edukatif dan acara semacam ini dapat ditradisikan sebagai apresiasi film yang tidak hanya ditonton, tetapi juga dibahas. “Saya mengapresiasi film ‘More than Work’ sebagai dokumenter cukup bagus … secara subtansi saya kira penting untuk menyuarakan problem-problem yang dialami perempuan,” imbuh Zulfa.

Di sisi lain, Ruroh selaku aktivis FPF juga mengungkapkan hal yang serupa dengan Zulfa, bahwa film semacam ini patut dan harus sering diputar, sebab pelecehan pun kerap terjadi di kampus dan sering mendapat tindak lanjut. Oleh karena itu, dengan adanya pemutaran film ini, diharapkan akan lebih tumbuh rasa hormat menghormati antar satu sama lain, baik perempuan kepada laki-laki, maupun sebaliknya.

Dian memaparkan, bahwa Nobar ini adalah bentuk kesadaran dalam memandang isu gender, serta ruang yang dibangun untuk membuka kesadaran masyarakat secara luas, baik melalui film sendiri, ataupun diskusi yang dilakukan. Sementara itu, pada saat diinterviu Zulfa mengungkapkan harapannya, terutama kepada perempuan, “Jadilah perempuan yang berani. Berani menjadi diri sendiri, berani menyuarakan persoalan, berani menerima risiko dari apa yang kita lakukan dan enjoy your body. Apapun keadaanmu jangan mau dijajah ideologi yang menjadikan mereka puas dengan tubuh kita.” [Nis, Nat, Lum, Ri, & Yu]

baca baca
Newscamp

Gebyar Purna Wiyata IAIN Tulungagung

IMG-20190623-WA0016

Sabtu, 22 Juni 2019, IAIN Tulunggung menggelar wisuda purna wiyata. Jumlah total wisudawan yakni 991 mahasiswa, dengan rincian 880 wisudawan ke-24 S1, 102 wisudawan ke-16 S2, dan 9 wisudawan ke-2 S3. Dari 991 wisudawan, terdapat 771 wisudawan dengan “nilai tinggi” dan 220 wisudawan berpredikat “sangat memuaskan”.

baca baca
Newscamp

Kongres Mahasiswa Masih Tuai Kontroversi

IMG_1921

Kongres Mahasiswa ke-VI sempat berulang kali tersendat. Pada Kamis (30/5), akhirnya kembali berlanjut setelah diadakan mediasi antara peserta dengan Irfan Wahyu, selaku Ketua Senat Mahasiswa Institut (SEMA-I). Mediasi berakhir setelah Irfan menyatakan keputusannya untuk kembali melanjutkan kongres. “… kongres mahasiswa dilanjutkan tanggal 30 Mei 2019 pukul 20.00 di aula Zuhri. Apabila tidak melaksanakan kongres, kongres tetap bisa dijalankan KBM dengan penanggungjawab saudara Aam Ibnu Farid selaku CO institusi SEMA I,” ujarnya lewar surat pernyataannya.

baca baca
Newscamp

Kongres Mahasiswa Alami Sandungan Bertubi

IMG-20190529-WA0022

Rabu (29/5), Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Tulungagung melaksanakan Kongres Mahasiswa yang ke-VI dengan tema “Merekontruksi KBM demi Terwujudnya Lembaga yang Produktif”.  Kongres yang digelar di Aula Gedung Syaifudin Zuhri tersebut, dijadwalkan akan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB. Namun, karena beberapa kendala, kongres ditunda hingga pukul 13.00 WIB.

Menurut Irfan, selaku Ketua SEMA-I hal itu dikarenakan belum selesainya draf kongres yang akan digunakan dalam persidangan. “Berhubung drafnya belum selesai, itu saya undur, dari pada nanti waktu persidangan temen-temen menunggu lama, lebih baik diselesaikan drafnya baru sidang”.  Ia menambahkan, proses administrasi untuk peserta kongres yang belum diselesaikan secara maksimal oleh panitia juga menjadi alasan tertundanya sidang kongres.

Salah satu peserta kongres, Aris Setiawan merasa kecewa atas penundaan yang dilakukan pihak SEMA-I. “Saya pribadi kecewa atas kemoloran acara yang semula di undangan tertera mulai pukul 09.00 WIB namun panitia belum siap.” Aris juga menambahkan, bahwa pengunduran kongres ini menunjukkan ketidakseriusan SEMA-I dalam menyelenggarakannya.

Sementara itu, Arif Wibowo, Ketua Umum UKM Larantuka, menilai seolah-olah SEMA-I melakukan tugas sekehendak sendiri. “Sebagai lembaga legislatif tertinggi kampus, … seolah-olah sepenake dewe.” Selain itu, ia mengatakan bahwa antar anggota SEMA-I saling lempar melempar tanggung jawab.

Keadaan sempat gaduh, tepatnya saat adanya informasi bahwa kongres diundur. Beberapa peserta dan panitia terlibat cekcok. Setelah diadakan mediasi, akhirnya panitia memutuskan untuk mengundur acara sampai dengan 13.00 WIB.

Pada praktiknya, acara baru dibuka kembali pukul 15.00 WIB. Acara dimulai dengan membahas Ketetapan Susunan Agenda Kongres Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) IAIN Tulungagung. Menjelang waktu berbuka, sesuai kesepakatan acara dijeda sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Menjelang pukul 21.00 WIB, peserta mulai berdatangan ke tempat kongres. Namun, pintu gedung masih terkunci rapat, sementara pihak panitia tidak berada di lokasi. Lama menunggu kepastian panitia, peserta bersama-sama melantunkan selawat untuk sejenak menenangkan suasana. Tepat pada pukul 21.42 WIB, melalui grup WhatsApp, Irfan mengumumkan penundaan kongres sampai esok hari (30/5) pukul 08.00 WIB.

Kamis (30/5), tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Kongres yang semestinya dimulai pukul 08.00 WIB, hingga berita ini ditulis, belum ada kejelasan mengenai keberlanjutan kongres. Hal ini disebabkan lambannya respon panitia terkait waktu pelaksanaan dan tempat kongres berlangsung.

Berbagai tanggapan diutarakan oleh peserta kongres. “Banyak alasan dari sana, yang katanya belum siaplah. Harusnya dikonsep mateng-mateng, karena ini kegiatan besar. Sebenarnya untuk penundaan itu wajar, jika hanya satu atau dua jam … ini kalau saya memandang ada maksud terselubung dari pihak penyelenggara. Kita sendiri sebagai peserta tidak mengetahui rundown. Rundown kegiatan ini kita tidak diberi … itu sangat disayangkan sekali ketika lembaga legislatif seperti itu,” ungkap Yurosa selaku Ketua DEMA FASIH.

Tanggapan serupa diutarakan oleh Tamba selaku Ketua DEMA FUAD. “Panitia dan oknum-oknum yang ada dalam kongres punya banyak taktik, ini dapat dilihat dari alasan-alasan panitia yang tidak logis … penundaan dari pukul 21.00 (kemarin, red.) sampai sekarang belum terlaksana. Panitia belum siap dan tidak serius,” ujarnya.

Saat ditemui kru Dimensi pada Rabu (29/5), Abad Badruzzaman selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama menyatakan, bahwa tidak ada rekomendasi untuk mengundur kongres. “Tidak ada rekomendasi dari Abah Abad(saya, red.) untuk mengundur acara. Bahkan disarankan untuk segera dimulai agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan … kalaupun diundur jangan sampai ganti hari,” ungkapnya.

Pihak panitia sendiri enggan memberikan informasi terkait acara yang terus menerus diundur. Saat ditemui kru Dimensi (30/5), Zulfikar selaku ketua pelaksana hanya meminta maaf dan tidak mau memberi tanggapan atau klarifikasi apapun.

baca baca
DimutNewscamp

Peringati Hari Puisi, Lintas Komunitas Gelar Apresiasi Puisi

IMG-20190430-WA0000

Dimensipers.com – Sejumlah mahasiswa dari berbagai elemen dan komunitas menggelar acara bertajuk “Malam Apresiasi Puisi”. Acara yang digelar di teras gedung  Syaifuddin Zuhri  IAIN Tulungagung berlangsung kemarin pada Minggu (28/04/2019) malam mulai pukul 18.30 WIB. Acara tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 April. Acara ini mengundang Tri Harianto selaku pegiat sastra Tulungagung.

baca baca
Newscamp

Seminar Nasional: “Agama Itu Ilusi?”

58375318_10211286996570120_5494388942641823744_n

Dimensipers.com – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Islam mengadakan Seminar Nasional, dengan tema “Agama itu Ilusi?, Penganut Agama Dalam Perspektif Psikoanalisa”. Acara diselenggarakan pada Selasa, 23 April 2019, di Auditorium lantai 6 gedung KH. Arief Mutaqiem. Dihadiri para mahasiswa Psikologi Islam (wajib), dan berbagai kalangan masyarakat, serta tamu undangan. Pemateri pada acara ini adalah Fakhrun Siroj, PSA, NCPsy A, FISAP, selaku pendiri dan ketua Asosiasi Psikoanalisis Indonesia (API), dan Lilik Rofiqoh, S. Hum., MA, selaku Sekretaris Jurusan (Sekjur) Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Tulungagung. Serta dimoderatori oleh Virgo N. Setiawan (psychoclok).

baca baca
1 2 3 14
Page 1 of 14