close

Dimar

DimarOpini

Perihal Otoritas, Indonesia Memiliki Ketiganya

divorce-3195578_960_720

Indonesia merupakan negara republik yang menjadikan presiden sebagai pimpinannya. Hal ini yang menjadikan presiden memiliki otoritas terhadap negara yang dipimpinnya. Namun, bukan berarti rakyat tidak berhak atas negaranya. Tetapi presiden sebagai pemimpin negara yang dipercaya rakyat untuk memegang otoritas penting dalam negara.

Berbicara mengenai otoritas, George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyatakan, bahwa Max Weber mengklasifikasi otoritas ke dalam tiga bentuk. Otoritas tersebut antara lain, yaitu otoritas legal, otoritas tradisional, dan otoritas karismatik.

Otoritas legal adalah otoritas yang beraturan. Menurut Weber, otoritas legal itu seperti birokrasi, di mana terdapat efisiensi, kalkulabilitas, dan intensif dalam pelaksanaannya. Mengenai hal ini, Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) memiliki otoritas tersebut. Ia adalah presiden yang dipilih berdasarkan aturan, yaitu melalui pemilu. Selain itu, dalam pemerintahannya dibantu oleh lembaga legislatif dan yudikatif.

Namun otoritas yang dipegang Jokowi ini memiliki sisi negatif, yaitu terkekangnya kebebasan individu. Yang mana setiap tindakan rakyat yang tidak sesuai dengan aturan negara, akan dianggap sebagai pelanggar atau penyimpang. Individu tidak memiliki kebebasan penuh atas dirinya.

Hal tersebut berbeda dengan otoritas tradisional. Otoritas ini didasarkan pada klaim pemimpin dan pengikutnya. Otoritas seperti ini biasanya terdapat di negara-negara monarki atau kerajaan, seperti Inggris. Pemimpin memiliki otoritas ini berkuasa penuh atas negara. Sehingga rakyat harus patuh terhadap kepemimpinannya.

Di Indonesia, otoritas tradisional pernah diterapkan oleh presiden kedua, yaitu Soeharto. Pada masa ini disebut dengan Orde Baru (Orba), di mana kekuasaan tertinggi dipegang oleh presiden. Sehingga rakyat harus patuh terhadap segala aturan yang telah ditetapkan presiden.

Indonesia memang bukan negara monarki atau pun kerajaan, tetapi pada masa Orba otoritas tradisional telah diterapkan. Kebebasan rakyat semakin terkekang dengan adanya otoritas ini. Selain itu, rakyat akan diadili jika melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan ketetapan Soeharto.

Selanjutnya, otoritas karismatik merupakan otoritas yang didasarkan pada kualitas luar biasa atau sesuatu yang menonjol dari pemimpin. Hal ini bisa disebut dengan pengakuan yang subjektif karena bergantung pada perspektif mayoritas. Otoritas ini diterapkan oleh masyarakat primitif. Mereka mempercayakan pemimpin yang dianggap memiliki kualitas, keahlian, dan memiliki kekuatan sebagai pemimpinnya.

Adalah Baharuddin Jusuf Habibi, presiden ketiga Indonesia juga dapat dikatakan sebagai pemimpin dengan otoritas karismatik. Ia memiliki kepandaian dan prestasi yang luar biasa. Selain itu, karismanya telah diakui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Mengenai ketiga otoritas tersebut, Ritzer juga menyatakan bahwa pada masanya ia mengenal Franklin D. Roosevelt. Menyandang gelar sebagai Presiden Amerika Serikat, ia  menyabet tiga otoritas sekaligus, baik legal, tradisional, maupun karismatik. Hal ini dibuktikan dengan dipilihnya Roosevelt dengan prinsip legal. Kekuasaannya mengandung elemen monarki, dan mayoritas rakyatnya mengakui karismanya.

Di Indonesia belum ada presiden yang memiliki ketiga otoritas tersebut. Namun, setiap presiden memiliki salah satu atau dua di antara otoritas seperti yang diklasifikasikan oleh Weber.[]

baca baca
BukuUlasan

Menampak Suratan Jagat lewat “Cerita Bumi Tahun 2683”

IMG-20190924-WA0002

Judul Buku     : Cerita Bumi Tahun 2683

Penulis            : Aesna

Penerbit         : Mojok

Terbit             : 2018

Halaman         : 96

Egoisme membuat semua orang ingin terlihat paling signifikan di antara kalangan mereka sendiri. Hanya burung-burung yang cicitannya kecil sekali –karena takut keberadaan mereka ketahuan oleh manusia– yang dapat mencegah niatku untuk meminta kepada Tuhan agar aku (bumi) diledakkan saja dan dimusnahkan dari tata surya. Setidaknya, itu akan membuat perubahan besar dalam buku sejarah umat manusia.” -Aesna-

baca baca
DimarOpini

Ketidakjelasan PEMIRA IAIN Tulungagung 2019

IMG-20190922-WA0003

Saat ini kampus IAIN Tulungagung sedang tidak baik-baik saja, yakni terkait dengan polemik Pemilihan Raya (PEMIRA). (21/09) Diketahui pamflet mengenai  PEMIRA, kampus IAIN Tulungagung, tersebar begitu saja di kalangan mahasiswa melalui media antarwhatsapp. Pamflet tersebut menginformasikan mengenai tahapan jadwal pemilihan umum presiden dan wakil presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut. Juga beserta  prasyarat yang harus dipenuhi oleh para calon ketua presiden dan wakil presiden.

baca baca
BukuUlasan

Atheis: Roman Klasik Menyoal Ideologis

IMG-20190910-WA0004

Judul               : Atheis

Penulis             : Achdiat K. Miharja

Penerbit           : Balai Pustaka (2005, cetakan ke 27)

Tebal Buku      : 232 halaman

ISBN               : 979-407-158-4

Achdiat Karta Miharja seorang sastrawan Indonesia yang lahir pada tahun 1911 dan meninggal pada usia 99 tahun. Beliau pernah menjadi redaktur di Balai Pustaka, Bintang Timur, Pujangga Baru, Konfrontasi, dan Majalah Gelombang Zaman. Novel Atheis ini memperoleh penghargaan tahunan pemerintah pada 1969. R.J. Maguire menerjemahkan novel ini ke bahasa Inggris tahun 1972 dan Sjumandjaja mengangkat ke layar lebar pada tahun 1974 dengan judul yang sama.

baca baca
Opini

Rahim: Awal Kehidupan Manusia

pregnant-422982_1920

Rahim merupakan bagian dari tubuh biologis perempuan yang sering dipahami sebagai kantung peranakan tempat tumbuh kembangnya janin. Namun secara metaforik, rahim juga bisa dimaknai sebagai tempat manusia dihidupkan dan dibesarkan dengan kasih sayang. Sebagaimana yang tertera dalam KBBI, yakni rahim sebagai tempat janin (bayi). Namun berbeda dalam bahasa Arab, rahim berasal dari kata kerja “ rahima” yang berarti mengasihi atau menyayangi.

baca baca
FilmUlasan

More than Work: Menukil Diskriminasi Perempuan dalam Media

IMG-20190725-WA0002[1]

Judul Film                   : More than Work

Sutradara                   : Luviana

Produser                    : Luviana, Ani Ema Susanti

Penulis Naskah          : Luviana

Pemain                       : Mia, Dian, Desi, Junaedi, Sasmito, Febriana Firdaus, Roy Thaniago,  Kumalasari, Dhiar, Luviana, Dhena Rahman, Khanza Vina, Rahmat M. Arifin, dan Ririn Saesani.

Genre                          : Dokumenter

Durasi                         : 38,35 menit

Studio                         : Konde Production

Film “More than Work” merupakan garapan Luviana, jurnalis televisi di Jakarta dan pengelola web perempuan, yang aktif menulis kondisi perempuan di media. Film ini diangkat sebab maraknya kekerasan seksual, sensasional tubuh, dan kebijakan yang menjerat perempuan.

baca baca
OpiniUncategorized

Pendidikan Bukanlah Komoditas

laptop-3087585_1280

Salah satu tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara. Dari sini kita dapat melihat realita pendidikan sekarang, yang seharusnya diprioritaskan, untuk mencetak putra dan putri terbaik bangsa. 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

baca baca
Opini

Menengok Kembali Pemikiran Kartini

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Raden_Ajeng_Kartini_TMnr_10018776

Peringatan Hari Kartini romannya selalu dilaksanakan setiap tahun oleh berbagai kalangan, baik organisasi maupun individu. Setiap mereka minimal akan menyebarkan pamflet berisi ucapan “Selamat Hari Kartini” atau kata-kata bijak Kartini di media sosial masing-masing.

baca baca
FilmUlasan

Resensi Film Dokumenter Sexy Killers

nobar aliansi ig

Film dokumenter berjudul “Sexy Killers” ini adalah garapan Watchdoc yang merupakan merupakan film ke-12 dan terakhir yang dibuat dalam Ekspedisi Indonesia Biru. Merupakan dokumentasi pengangkatan isu sosial, masyarakat, sampai dengan isu lingkungan. Ekspedisi ini dimulai bulan Oktober 2015 hingga bulan April lalu, yang membawa penggarap, Dendy Laksono, dan kawan-kawan sampai di tanah Samarinda, Kalimantan Timur dan menerima kenyataan miris mengenai pertambangan batu bara yang menjadi bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

baca baca
AgendaOpini

Refleksi Analisis Wacana

IMG-20190220-WA0016

Di era digital ini kita sering kali menemukan berita-berita maupun informasi dengan cepat. Mulai dari media cetak, visual, audio visual, dan lainnya. Berbagai model pemberitaan mulai budaya, politik, sosial, dan lain sebagainya. Namun dalam pemberitan tersebut kita terkadang dibuat bingung terhadap suatu pemberitaan.

baca baca
1 2 3 8
Page 1 of 8