close

Newscamp

Newscamp

Parkir jadi Praktik Bisnis Area Kampus (PBAK)

IMG20190821123408

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Tulungagung, yang baru saja selesai Sabtu kemarin sempat diwarnai keresahan sebagian Mahasiswa Baru (Maba). Hal tersebut terjadi lantaran adanya pungutan biaya parkir di area kampus. Praktik terjadi tepatnya di area parkir Pascasarjana IAIN Tulungagung oleh dua Unit Kegiatan Mahasiwa (UKM). Kedua UKM diintruksikan untuk mengirim delegasi, masing-masing lima orang.

BA selaku wakil Ketua salah satu UKM mengatakan, bahwa biaya parkir hari perdana sejumlah Rp 2.000 dan hari kedua seikhlasnya. BA menambahkan, bahwa tidak ada pembagian hasil dari penarikan parkir perdana. Sementara hari kedua, terdapat pembagian total Rp 120.000, dengan rincian Rp 20.000 bagi koordinator keamanan, Rp50.000 bagi satu UKM, dan Rp 50.000 UKM lainnya.

Dh selaku anggota salah satu UKM mengatakan, bahwa ia tidak mengetahui muara rupiah bagi panitia (Koordinator Keamanan), sementara bagi kedua UKM bermuara pada tabung kas. Adapun rincian di atas merupakan nilai sisa dari pengeluaran konsumsi (kopi, dan rokok) bagi penjaga parkir serta pengaman jalanan.

Dh mengaku, tidak mengetahui alasan persis adanya parkir berbayar tersebut. Ia menyatakan hanya mendapat dan melakoni intsruksi dari Koordinator Keamanan PBAK-I. Begitu pun dengan BA selaku penjaga, “Kita itu dikoordinasi sama Koordinator Keamanan, disuruh menjaga parkir di Gedung Pascasarjana, berangkat pukul 05.00 WIB.”

Ibrahim Kholil Majid, selaku Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA-I) turut memberi keterangan, bahwa ia tidak mengetahui adanya parkir berbayar. Ia menyatakan, bahwa pada rapat sebelumnya tidak diperbolehkan adanya pungutan parkir. “Konsepe emang gak berbayar. Kalo secara belakang, nek buriku aku ra eruh, Mas. Lek misale cah-cah oleh piro, aku ra eruh. Keamanan sing eruh (Konsepnya memang tidak berbayar. Kalau di belakang, saya tidak tahu, Mas. Kalau misalnya teman-teman dapat berapa, saya tidak tahu, Keamanan yang tahu, red.).

Namun, Gl Ketua DEMA Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (FASIH) di sisi lain menyatakan, bahwa sudah mendapat koordinasi sebelumnya. “Kita koordinasi dulu. Kemaren di rektorat sudah disampaikan sama Pak Pres (Presiden Mahasiswa, Red.), bahwa kita ada parkir di mahad yang berbayar.” Sayangnya, FA selaku Koordinator Keamanan PBAK-I, dalam hal ini enggan dimintai keterangan.

Selain pada PBAK-I, pungutan juga terjadi pada PBAK Fakultas (PBAK-F). Menurut keterangan Firman Hidayat, Maba Jurusan Akutansi Syariah (AKS), kali ini biaya parkir mencapai Rp 5.000 per hari.

Menyoal pembagian keuntungan, Tb selaku Ketua DEMA Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) mengatakan, “Kalau PBAK-F kesepakatan bersama antar Ketua DEMA itu, nanti yang jaga dapet berapa. Keuntungan seluruhnya dikumpulkan, nanti siapa yang tugas jaga itu ya dikasih makan atau dibuat beli minum, atau apalah secukupnya dan sisanya itu dibagi rata setiap fakultas, karena seluruh Ketua DEMA kemarin atau yang mewakili semua menyetujui.”

Sampai saat ini, keterangan perizinan terkait parkir berbayar belum kunjung tuntas. Vc selaku Ketua DEMA Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) mengatakan, “Kalau itu belum, tapi sudah pembicaraan di rektorat  semua DEMA ada, … tapi dari rektorat sendiri belum ada kepastian dan akhirnya teman-teman mengambil tindakan sendirikatanya akan dirapatkan lagi, tapi kok tidak dirapatkan lagi.”

Kemudian Vc menambahkan, bahwa setelah adanya pertemuan tersebut, diadakanlah musyawarah lanjut antar ketua DEMA-F untuk membahas PBAK dan parkir berbayar. Adapun putusan akhir musyawarah tersebut menuai hasil, bahwa semua Ketua DEMA menyanggupinya.

             Adapun Maba yang merasa keberatan dengan adanya parkir berbayar, yakni Fika Ayu Maba Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Ilsa Yolanda Putri selaku Maba Jurusan Managemen dan Bisnis Syariah (MBS). Keduanya memiliki pernyataan yang selaras, yakni tidak menyetujui adanya parkir berbayar. “Saya kira di sini tidak bayar karena masih wilayah kampus buat mahasiswanya sendiri Maba otomatis berpikiran gratis, masa di wilayah kampus sendiri bayar terus apa bedanya dengan yang di luar,” terang Ilsa.

Hal yang sama juga dikatakan Safrizal, selaku Maba Jurusan Perbankan Syariah (MBS) “Saya tidak setuju, karena ini kan juga masih wilayah kampus, kita juga mahasiswa jadi kenapa ditarikin uang parkir. Katanya ini kampus syariah tapi kenapa masih ada yang menjalankan bisnis konvensional.

Menanggapi hal ini, Abad Badruzzaman, selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama menyatakan, tidak mengizinkan adanya parkir berbayar. “Waktu rapat koordinasi antara panitia PBAK dari pihak rektorat dengan pihak mahasiswa, sempat terlontar soal penarikan itu. Dan kami waktu itu tidak mengizinkan. Tapi kalau mereka bilang kalau kami menyetujui, jelas tidak benar, terang Abad.

Setelah Kru Dimensi mengklarifikasi hal tersebut kepada Imam Mutholib, selaku Kasubag Umum, ia menegaskan “Menyoal parkir berbayar di Gedung Pascasarjana bagi mahasiswa baru, apapun alasan panitia PBAK terkait uang hasil parkir, birokrasi tetap melarang dan menindak keras kepada oknum yang tetap bersikukuh menarik uang parkir.

Tholib juga menambahkan, berapa pun besaran biaya parkir yang didapat, hal tersebut tetap menyalahi komitmen. Perihal ini pernah disampaikannya dalam rapat PBAK bersama birokrasi serta Presiden DEMA-I, bahwa adanya pelarangan terjadinya penarikan uang di acara PBAK. [Hen, Rif & Pril]

baca baca
Newscamp

Perputaran Ekonomi dari Peluang Bisnis PBAK

IMG-20190818-WA0014

Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) menjadi agenda tahunan IAIN Tulungagung guna menyambut Mahasiswa Baru (Maba). PBAK yang dilangsungkan minggu kemarin dan menempuh empat hari tersebut mengharuskan Maba membawa berbagai atribut yang dijadikan prasyarat peserta PBAK.

Total 5521 Maba yang diterima IAIN Tulungagung tahun ini menjadikan kebutuhan penunjang PBAK meningkat. Hal ini dimanfaatkan bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk membuka bisnis. Mulai dari penjualan atribut, seperti Id card, caping, bambu kuning, bendera merah putih, dan pita; penjualan makanan; pengelolaan parkir; hingga penyewaan kos.

Salah satu pihak yang memanfaatkan momen PBAK untuk berbisnis adalah dalam lingkup lembaga atau komunitas adalah DEC (Dynamic English Course). DEC merupakan lembaga kursus Bahasa Inggris cabang Pare-Tulungagung yang menyediakan peralatan PBAK, mulai dari caping, tongkat, bendera, id card, bibit tanaman, dan makanan untuk PBAK institut (PBAK-I) dan PBAK Fakultas (PBAK-F) Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Sementara strategi penjualan yang dilakukan yakni dengan memasuki grup-grup Maba, kemudian memulai chat personal untuk promosi.

Adapun rincian dari pasaran DEC yakni Rp 30.000 untuk atribut, Rp 25.000 untuk makanan PBAK institut dan Rp 25.000 untuk PBAK FTIK, Rp 15.000 untuk bibit tanaman, serta Rp 100.000 untuk kos OSPEK per anak selama empat hari. Secara keseluruhan, total keuntungan yang diperoleh dari penjualan makanan dan kos mencapai Rp 1.500.000.

Keuntungan kita bagi menjadi dua, yaitu pihak pengurus DEC sendiri dan orang yang membantu penjualan, dengan rincian 900.000 rupiah untuk pengurus DEC dan 600.000 rupiah untuk pihak yang membantu. Yang mana laba itu digunakan untuk membayar kontrakan DEC,” ungkap Wida selaku pengurus DEC.

Selain DEC, komunitas mahasiswa lain yang turut serta yakni Ikatan Mahasiswa Kota Angin (IMAKA) yakni menyediakan peralatan PBAK Institut, dengan rincian Rp 50.000 untuk makanan dan Rp 70.000 jika sekaligus perlengkapan PBAK FTIK. Namun, tidak untuk  persediaan buku dan bibit tanaman. “Tidak menjual buku dan tanaman, karena belum bisa mematok harga dan belum ada channel,” ujar Thoif selaku pengurus IMAKA.

Selain peralatan PBAK, IMAKA juga menyediakan kos OSPEK khusus laki-laki dengan harga 100.000 selama empat hari. “IMAKA tidak merasa dirugikan, seumpama tahun depan PBAK tidak memerlukan atribut seperti tahun ini, karena memang tujuannya hanya membantu mahasiswa baru, khususnya mahasiswa baru dari Nganjuk, masalah keuntungan itu hanya bonus,” terang Thoif.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Avicenna juga menjual peralatan PBAK dan menyediakan kos untuk Maba. Kos yang disediakan dipatok harga Rp 230.000 untuk laki-laki dan Rp 280.000 untuk perempuan selama empat hari, termasuk biaya makan. Adapun keuntungan yang diperoleh untuk penyewaan kamar kos dialokasikan untuk biaya kontrakan rayon.

Lain halnya dengan Fikri yang menjual atribut PBAK beserta baju yang dikenakan saat PBAK. Modal diperoleh dari uang kas hasil dari usaha lain yang dijalani bersama tiga temannya. Ia lebih menuai banyak keuntungan dari penjualan baju daripada atribut karena memang sebelumnya sudah fokus pada penjualan baju. “Per satu atribut lengkap mendapat keuntungan 5000 rupiah, sama halnya dengan baju, namun pemesanan baju lebih melejit dengan total pemesanan 300 pcs,” terang Fikri.

Di sisi lain, Purwati yang juga menyediakan kos OSPEK putri dan perlengkapan seharga Rp 270.000 untuk empat hari, dengan rincian Rp100.000 untuk kos, dan Rp 170.000 untuk perlengkapan PBAK, termasuk makan selama empat hari. Strategi yang digunakan adalah memiringkan harga agar mahasiswa tertarik, karena semakin maraknya kos-kos yang berharga murah menjadikan sulit bersaing.

Ndisek awal buka enek telulas bocah, saiki pitu ae Alhamdulillah. Ndisek tau bukak rego paling murah ben payu (dulu awal buka ada tiga belas anak, sekarang tujuh saja sudah Alhamdulillah, dulu pernah membuka harga paling murah agar laku,” jelas Purwati.

Kurangnya lahan parkir di area kampus menjadikan tidak muatnya menampung kendaraan Maba. Hal ini dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk membuka area parkir di luar kampus. Salah satunya Ambiya, yang hanya membuka parkir saat PBAK dengan modal Rp50.000 untuk membuat kartu parkir. Biasanya Ambiya bekerja sama dengan beberapa orang. Keuntungan yang diperoleh kira-kira mencapai Rp 300.000 sampai Rp400.000 per hari. Keuntungan tersebut kemudian dibagi sesuai jumlah orang yang bekerja pada hari itu.

Tidak hanya bisnis atribut, kos dan parkir, masyarakat juga memanfaatkan momen ini untuk menjual makanan yang dibawa saat PBAK, salah satunya Muntinah. Ia menjual beraneka makanan minuman, dan buah-buahan dengan harga Rp 7.500, 00 per paket. Dalam sehari Muntinah dapat menjual kurang lebih 60 bungkus.

 “Bedane dodolan tahun iki jan adoh, lek tahun dek ingi mek titik, saiki nyelot akeh sing tuku (Bedanya jualan tahun ini sangat jauh, kalau tahun kemarin hanya sedikit, sekarang lebih banyak yang beli, Red.),” imbuh Muntinah.

Berbeda dengan pemilik usaha percetakan, yang mengeluhkan pendapatannya saat memasuki musim PBAK. Pendapatan yang mereka peroleh lebih banyak daripada hari-hari perkuliahan biasa. Adapun jasa yang digunakan hanya untuk pembuatan Id card, dengan rincian keuntungan yaitu Rp 500 untuk print, dan Rp 2.500 untuk laminating.

Kalau waktu PBAK hanya sedikit yang print atau laminating, kita-kira total 50 orang, karena kebanyakan sudah disediakan oleh kos atau asrama. Jadi, yang ke sini hanya mahasiswa yang Id cardnya ketinggalan atau rusak, kalau hari biasa, kan ramai mahasiswa yang print tugas atau skripsi,” ungkap Hasyim Asari, pemilik Arif Print.

Di bidang lain, Sisno Sutrisno seorang penjual kayu dan pemilik kantin, juga berjualan atribut PBAK. Ia sudah menjual atribut PBAK sejak tahun 1996 dengan tetap mempertahankan penjualan non-daring.

Menurut Sisno, harga caping dari tengkulak mula-mula Rp 5.500, akan tetapi pada momen PBAK menjadi Rp 8.500, dan dijual dengan harga Rp.12.000. Sementara harga bendera yang mula-mula Rp 6.000 dari tengkulak, kemudian dijual Rp 10.000. “Pernah saya menjual bendera hanya dengan untung Rp 700, itu pun menjahit sendiri. Caping saja harga Rp 12.000, masih ditawar Rp 10.000, padahal belum biaya cat dan tenaganya,” tutur Sisno.

Sisno memproduksi atribut PBAK dengan modal pribadi, bahkan bambu-bambu kuning yang dijual juga ditanam olehnya sendiri. “Keuntungan saya peroleh biasa-biasa saja, apalagi tahun ini, sangat menurun. Itu karena orang dalam yang menjual ulang barang bekas, sebaiknya bisa diberikan ke fakir/tani seperti saya. Kalau menjual bekas itu tidak etis, sebaiknya membeli yang baru. Bendera pula seharusnya dialokasikan ke masyarakat atau ke pondok, bukan malah didaur ulang yang merugikan warga,” tuturnya.

Sudah menjadi tradisi di hari terakhir PBAK institut untuk membawa tumpeng, sehingga para penjual tumpeng mempromosikan dagangannya, baik lewat media sosial maupun brosur-brosur yang ditempel di area kampus. Namun, tahun ini tak semua penjual tumpeng merasa diuntungkan.

Yati seorang penjual gorengan, nasi, sekaligus tumpeng di Desa Plosokandang yang sejak lama sudah menggeluti usahanya mengaku merasa diuntungkan dengan adanya PBAK. Bu Yati hanya membuat tumpeng saat ada pesanan saja, sedangkan untuk harga tergantung berapa porsi orang yang mengkonsumsinya. “Saya mendapatkan untung Rp  50. 000 per tumpeng, kali ini saya mendapatkan satu pesanan tumpeng. Menurut saya labanya cukup terasa,” ungkapnya.

Di lain sisi, salah seorang warga Plosokandang yang tidak mau disebutkan namanya, merasa rugi terhadap PBAK tahun ini, pasalnya ia sudah mendapatkan banyak pesanan dan pada akhirnya dibatalkan begitu saja. “Usaha saya tidak mulus begitu saja, saya mendengar bahwa SC (Steering Committee, Red.) menghandle pesanan tumpeng, sehingga banyak yang terlanjur pesan membatalkannya. Saya sudah menyiapkan banyak bahan-bahan masakan, namun malah dicancel, sebagai pengusaha saya merasa dirugikan,” ujarnya.

Mayoritas Maba yang mendapatkan informasi dari SC beranggapan, bahwa mereka wajib memesan tumpeng pada panitia. “Kelompok saya membeli tumpeng 3, yang 2 membeli di panitia, dan yang 1 pesan di luar. Intruksi dari panitia awalnya mewajibkan membeli dari panitia institut, namun setelah ada komplain dari P/IP panitia memutuskan bahwa jika sudah terlanjur membeli di luar, diperkenankan,” tutur Mangkoe, Maba jurusan Akuntansi Syariah.

Sama halnya dengan Mangkoe, salah seorang Maba dari jurusan Perbankan Syariah mengungkapkan, bahwa kelompoknya sudah memesan tumpeng sebelum panitia menyampaikan pengumuman terkait pemesanan tumpeng. Alhasil, kelompoknya sepakat membatalkan pesanan tumpeng sebelumnya dan memesan kepada panitia.

Menanggapi permasalahan tumpeng yang simpang siur, Rokhim selaku SC penanggung jawab materi dan perlengkapan meluruskan, “Ada misskomunikasi antara panitia dengan Maba dan P/IP, bahwa sebenarnya panitia tidak mewajibkan untuk memesan tumpeng di panitia. Panitia hanya menjembatani agar mempermudah pemesanan. Pada akhirnya juga kami alokasikan untuk dipesankan ke masyarakat sekitar, misalnya ke Mak Har dan Mak Ana, jika sudah pesan tidak apa-apa.”

PBAK memiliki peranan dalam perputaran ekonomi masyarakat sekitar kampus. Hal ini memunculkan persaingan pasar antar berbagai pihak yang melek akan peluang bisnis yang dapat menguntungkan atau bahkan sebaliknya. [Nat, Tan, Del, As, & Sad]

baca baca
Newscamp

Beras di PBAK-I 2019

rice-498688_1280

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) merupakan upaya pengenalan lingkungan kampus kepada Mahasiswa Baru (Maba). Setiap pergurun tinggi memiliki kebijakan tersendiri terhadap kegiatan PBAK (Ospek) dan Rektor selaku pimpinan tertinggi lembaga bertanggung jawab atas terlaksananya kegiatan. Terlaksananya PBAK juga melibatkan mahasiswa dan tenaga kependidikan lembaga kampus. Sementara panitia yang terlibat berada di bawah koordinasi pimpinan perguruan tinggi pada bidang kemahasiswaan.

baca baca
Newscamp

Quo Vadis Tema PBAK Institut?

IMG-20190817-WA0010

Narasi ini berbentuk klarifikasi terhadap tema Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Institut 2019 IAIN Tulungagung dan berita pada dimensipers.com  yang berjudul “Tema PBAK Institut yang Samar-Samar.”  Narasumber pada wawancara kali ini tidak berkenan untuk disebutkan nama dan bagian panitia pada PBAK Institut 2019.

baca baca
Newscamp

Puncak PBAK Institut IAIN Tulungagung 2019

IMG_3005

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan Institut (PBAK-I) IAIN Tulungagung pada Kamis 15 Agustus 2019 berjalan tak jauh sebagaimana hari perdana. Mahasiswa Baru (Maba) sejumlah 5.521 dibagi ke dalam 70 kelompok, dengan 138 pendamping (P) dan Instruktur Pendamping (IP) serta Koordinator Lapangan (Korlap) sejumlah 24 anggota.

Dalam rundown resmi PBAK IAIN Tulungagung tertera, bahwa pukul 05.00 peserta mestinya telah melakukan check-in dengan cara mengambil posisi baris berbanjar. Sementara Muniri selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja sama Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) mengatakan, bahwa peserta PBAK cukup datang pukul 05.30 atau 06.00, dikarenakan semakin lama Maba check-in, jalanan pun semakin padat kendaraan.

Peserta PBAK yang membawa sepeda motor diarahkan ke timur Gedung Pascasarjana. Namun, di hari kedua peserta PBAK lebih memilih parkir di area sekitar kampus. Hal ini disebabkan peserta mengeluhkan sepeda yang tidak dapat diambil ketika istirahat, salat, dan makan. Bangkit Aji selaku bagian keamanan menambahkan, “Iya, dari panitia itu memang (sengaja, red.) ketika Isama, jam dua itu tidak bisa keluar. Takutnya nanti peserta PBAK tidak kembali ke acara PBAK.

Usai check-in, peserta diarahkan berbaris sesuai dengan nomor kelompok yang telah ditentukan dan dilanjutkan dengan sarapan. Adapun menu PBAK hari kedua adalah “makanan para pejuang kemerdekaan” yakni nasi jagung, ikan asin, urap-urap, dan sambal.

Setelah itu, peserta diarahkan untuk memperoleh dengan tema kebangsaan dan kemahasiswaan. Milatus Sholihah selaku P menjelaskan, bahwa Discussion Small Group (DSG) bertempat di Gedung Saifuddin Zuhri bagi kelompok 1-30, Arief Mustaqim bagi kelompok 31-55, Gedung Leter L FASIH lama bagi kelompok 56-59, dan Gedung Stasiun bagi kelompok 60-70.

Di sisi lain, Lila selaku Maba jurusan PAI mengeluhkan kondisi lapangan saat pemberian materi. “Terlalu lelah, apalagi dengan kondisi tubuh yang kurang fit, terlalu panas, kurangnya koordinasi waktu yang terkesan molor dari panitia sehingga kurang kondusif.” Di samping itu, Veni selaku PMI KSR menyatakan, bahwa jumlah peserta yang jatuh sakit tidak berbeda jauh dengan tahun lalu. “Banyak dari peserta mengalami sesak nafas”, tambah Binti Nadhifatul Ainiyah selaku panitia bagian kesehatan.

Seusai pemerolehan materi pada siang hari, penyampaian orasi yang diberikan sembari menyambut peserta kembali ke lapangan menyulut emosi. Para peserta bergerombol dan merasa mendapatkan perlakuan yang menyudutkan dari panitia. Bahkan beberapa peserta berusaha merobohkan podium. Namun, sebelum terjadi kisruh lebih lanjut, Resimen Mahasiswa (Menwa), Anggota pramuka dan beberapa P/IP dapat melerai, hingga keadaan kembali membaik. Di sisi lain, Muiz selaku mahasiswa baru jurusan Manajemen Zakat dan Wakaf (Mazawa) mengkiritik “Seharusnya kalau Maba kepanasan yang orasi juga kepanasan, biar sepadan.”

Adapun puncak PBAK-I merupakan istigasah akbar memperingati HUT RI ke-74 sekaligus penutupan. Istigasah dihadiri oleh Abad Badruzzaman selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama dan dipimpin oleh Abdul Aziz selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga IAIN Tulungagung. (Ria, Nis, Ind)

baca baca
Newscamp

Tema PBAK Institut 2019 yang Samar-Samar

IMG-20190816-WA0006

Setiap kegiatan tema menjadi pokok pikiran pada suatu acara. Tema acara direalisasikan melewati agenda dan kegiatan dalam acara tersebut. Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Institut IAIN Tulungagung 2019  mengambil tema “Pecundang Milenial”.

baca baca
Newscamp

Pernik PBAK IAIN Tulungagung 2019

IMG-20190815-WA0020

IAIN Tulungagung kembali mengadakan kegiatan rutinan setiap tahun, yakni Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK). Seperti tahun sebelumnya, PBAK dibagi menjadi dua bagian, yaitu PBAK Institut, pada 14-15 Agustus 2019 dan PBAK Fakultas pada 16-17 Agustus 2019 yang bertempat di lapangan IAIN Tulungagung. Menurut data dari iainta.sparkling, peserta yang ikut serta dalam acara mencapai 5521 Mahasiswa Baru (Maba).

baca baca
Newscamp

Gelaran Perdana PBAK IAIN Tulungagung 2019

IMG-20190815-WA0018

Rabu, 14 Agustus 2019 IAIN Tulungagung memulai kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), yang akan berlangsung hingga 17 Agustus mendatang. PBAK merupakan kegiatan pememberian pengetahuan mengenai kebudayaan dan keakademikan mahasiswa. Sebab demikian, PBAK menjadi agenda yang dianjurkan bagi setiap kampus.

baca baca
Newscamp

Mengaji Kitab Ihya bareng Gus Ulil

IMG_20190722_123340

IAIN Tulungagung adakan Kopi Darat (Kopdar) untuk mengaji kitab Ihya Ulumuddin pada Sabtu, 20 Juli 2019. Acara ini digelar dalam rangka milad IAIN Tulungagung yang ke-51. Tema besar yang diusung adalah yakni “Kopdar: Ngaji Ihya bersama Ulil Abshar Abdalla”. Kehadiran Ulil Abshar Abdallah atau yang akrab dipanggil Gus Ulil bersama istrinya Tsuroiya disambut langsung oleh Maftukhin, Rektor IAIN Tulungagung dan Abad Badruzzaman Wakil Rektor Bidang Kerja Kemahasiswaan dan Kerja Sama.

baca baca
1 2 3 15
Page 1 of 15