close

Newscamp

Newscamp

Gebyar Purna Wiyata IAIN Tulungagung

IMG-20190623-WA0016

Sabtu, 22 Juni 2019, IAIN Tulunggung menggelar wisuda purna wiyata. Jumlah total wisudawan yakni 991 mahasiswa, dengan rincian 880 wisudawan ke-24 S1, 102 wisudawan ke-16 S2, dan 9 wisudawan ke-2 S3. Dari 991 wisudawan, terdapat 771 wisudawan dengan “nilai tinggi” dan 220 wisudawan berpredikat “sangat memuaskan”.

baca baca
Newscamp

Kongres Mahasiswa Masih Tuai Kontroversi

IMG_1921

Kongres Mahasiswa ke-VI sempat berulang kali tersendat. Pada Kamis (30/5), akhirnya kembali berlanjut setelah diadakan mediasi antara peserta dengan Irfan Wahyu, selaku Ketua Senat Mahasiswa Institut (SEMA-I). Mediasi berakhir setelah Irfan menyatakan keputusannya untuk kembali melanjutkan kongres. “… kongres mahasiswa dilanjutkan tanggal 30 Mei 2019 pukul 20.00 di aula Zuhri. Apabila tidak melaksanakan kongres, kongres tetap bisa dijalankan KBM dengan penanggungjawab saudara Aam Ibnu Farid selaku CO institusi SEMA I,” ujarnya lewar surat pernyataannya.

Sesuai dengan surat pernyataan, kongres kembali dilanjutkan di Aula Gedung Syaifudin Zuhri, meskipun kembali molor karena registrasi yang rumit. Peserta aktif dan peninjau harus menunjukkan KTM sebelum memasuki ruang persidangan. Selain itu, juga ada pengecekan ulang nama peserta menggunakan undangan kongres yang terlampir, serta SK lembaga terkait. Oleh karena itu, forum baru bisa dimulai pukul 22.00 WIB.

Persidangan melanjutkan pembahasan terkait tata tertib kongres Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) IAIN Tulungagung 2019. Suasana kemudian menjadi gaduh ketika peserta pasif berargumentasi, padahal tidak memiliki hak suara. Hal ini menyebabkan peserta aktif menyerukan bahwa presidium kurang tegas.

Salah satu peserta aktif persidangan, yang tidak mau disebutkan identitasnya, memberi pernyataan, “Persidangan berjalan lancar karena presidium menerima segala pendapat dari peserta aktif. Mengenai kemunduran persidangan, mungkin karena banyaknya question yang menyimpang dari pembahasan.” Hal serupa dinyatakan oleh Dona, peserta aktif dari delegasi HMJ Perbankan Syariah, bahwa persidangan berjalan cukup lancar dibandingkan dengan hari kemarin.

Hampir sama dengan hari lalu, Jumat (31/5), kongres yang disepakati mulai pukul 07.00 WIB, baru dimulai pukul 10.10 WIB, sebab menunggu kesiapan quota forum (quorum) dan kehadiran presidium. Pembahasan masih seputar tata tertib dan masih berjalan kondusif. Namun, peserta mulai berkurang, terlihat dari banyaknya kursi yang kosong. Satu jam setengah berlalu, persidangan harus dijeda untuk salat Jumat serta kembali ke forum pada 13.05 WIB.

Persidangan kembali dibuka pukul 14.50 WIB. Di tengah jalannya persidangan, kembali terjadi kericuhan, sebab salah satu peserta pasif didapati menjadi peserta aktif, dengan alasan baru mendapatkan id card. Namun, presidium tidak segera mengambil keputusan, sehingga mengakibatkan peserta lain kesal, dan hampir setengah lebih bergilir meninggalkan ruangan. Sulkhan Zuhdi, selaku peserta aktif dari delegasi HMJ AFI, mengungkapkan kekecewaannya terhadap jalannya persidangan. “Sepanjang kongres banyak ketidakjelasan dan hambatan-hambatan, mulai dari kemoloran sidang, ketidaktegasan, serta ketidakjelasan dari pimpinan sidang,” paparnya.

Di samping itu, Annisa peserta aktif delegasi HMJ HTN, juga mengeluarkan keluhan,  “Saya keluar forum, karena adanya saling pihak memihak, baik presidium ataupun peserta dan kemarin juga sempat cekcok. Kongres ini cacat dari awal karena tidak ada konsisten waktu, dilakukan tanpa persiapan.” Setelah itu, akhirnya presidium memutuskan untuk mengeluarkan peserta pasif yang beralih menjadi aktif. Bahkan selanjutnya, semua peserta pasif diminta meninggalkan forum.

Menyikapi banyaknya peserta aktif yang meninggalkan persidangan tanpa izin presidium, panitia maupun presidium enggan ditanyai pendapatnya. Di samping itu, persidangan tetap berjalan, walaupun peserta kurang dari 50%+1 perwakilan lembaga. Setelah berlangsung kembali sekitar 30 menit, sidang kembali dijeda dan diputuskan kembali pada pukul 20.30 WIB.

Tepat pukul 22.00 WIB, persidangan kembali dimulai dengan estimasi kemunduran 1,5 jam, sebab pintu gedung terlambat terbuka. Menanggapi banyaknya peserta yang tidak lagi berpartisipasi saat persidangan, Aziz salah satu peserta aktif delegasi HMJ Tadris Fiska, memilih untuk tetap hadir. “Menurut saya itu kan hak peserta untuk keluar forum atau tidak. Tapi karena tadi menurut saya mereka itu keluarnya tanpa seizin presidium. … Ya nanti kalo yg sudah log out (keluar, red.) harus terima konsekuensi dari presidium.

Setelah konsiderat tata tertib, selanjutnya dilaksanakan sidang Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA-I), dengan pimpinan presiden mahasiswa, Ibrahim Kholil Majid. Sidang ini dihadiri 9 lembaga dari 53 lembaga yang ada. Persidangan sempat dijeda selama  20 menit, sebab ketidaksiapan DEMA-I, salah satunya yakni kurannya personil.

Menanggapi jalannya persidangan Jumat (31/5) malam, Ella peserta aktif dari delegasi HMJ  Tadris Biologi mengungkapkan, “Cukup lancar, karena berjalan berdasarkan tatib yang disepakati, walaupun presidium kurang tegas.”

Sampai saat ini, pendemisioneran pengurus DEMA-I belum legal, sebab harus menunggu persetujuan rektor atau wakil rektor. Dengan demikian, persidangan kembali dijeda sampai hari Sabtu (01/06) pukul 11.00 WIB.

Hari ini, persidangan kembali digelar. Berhubung Aula Syaifuddin Zuhri tidak dioperasikan pada hari Sabtu dan Minggu, peserta sidang sempat dipindahkan ke aula UKM. Namun, tak lama kemudian SEMA-I selaku penyelenggara dan DEMA-I diinstruksikan ke ruang Dekan FTIK, untuk dipertemukan dengan peserta yang walk out (keluar), beserta Warek III, Wadek III FTIK, dan Wadek III FUAD. Akhirnya, dilakukanlah mediasi yang menyepakati ditundanya kongres. [Nat,Pril]                  

baca baca
Newscamp

Kongres Mahasiswa Alami Sandungan Bertubi

IMG-20190529-WA0022

Rabu (29/5), Senat Mahasiswa (SEMA) IAIN Tulungagung melaksanakan Kongres Mahasiswa yang ke-VI dengan tema “Merekontruksi KBM demi Terwujudnya Lembaga yang Produktif”.  Kongres yang digelar di Aula Gedung Syaifudin Zuhri tersebut, dijadwalkan akan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB. Namun, karena beberapa kendala, kongres ditunda hingga pukul 13.00 WIB.

Menurut Irfan, selaku Ketua SEMA-I hal itu dikarenakan belum selesainya draf kongres yang akan digunakan dalam persidangan. “Berhubung drafnya belum selesai, itu saya undur, dari pada nanti waktu persidangan temen-temen menunggu lama, lebih baik diselesaikan drafnya baru sidang”.  Ia menambahkan, proses administrasi untuk peserta kongres yang belum diselesaikan secara maksimal oleh panitia juga menjadi alasan tertundanya sidang kongres.

Salah satu peserta kongres, Aris Setiawan merasa kecewa atas penundaan yang dilakukan pihak SEMA-I. “Saya pribadi kecewa atas kemoloran acara yang semula di undangan tertera mulai pukul 09.00 WIB namun panitia belum siap.” Aris juga menambahkan, bahwa pengunduran kongres ini menunjukkan ketidakseriusan SEMA-I dalam menyelenggarakannya.

Sementara itu, Arif Wibowo, Ketua Umum UKM Larantuka, menilai seolah-olah SEMA-I melakukan tugas sekehendak sendiri. “Sebagai lembaga legislatif tertinggi kampus, … seolah-olah sepenake dewe.” Selain itu, ia mengatakan bahwa antar anggota SEMA-I saling lempar melempar tanggung jawab.

Keadaan sempat gaduh, tepatnya saat adanya informasi bahwa kongres diundur. Beberapa peserta dan panitia terlibat cekcok. Setelah diadakan mediasi, akhirnya panitia memutuskan untuk mengundur acara sampai dengan 13.00 WIB.

Pada praktiknya, acara baru dibuka kembali pukul 15.00 WIB. Acara dimulai dengan membahas Ketetapan Susunan Agenda Kongres Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) IAIN Tulungagung. Menjelang waktu berbuka, sesuai kesepakatan acara dijeda sampai dengan pukul 21.00 WIB.

Menjelang pukul 21.00 WIB, peserta mulai berdatangan ke tempat kongres. Namun, pintu gedung masih terkunci rapat, sementara pihak panitia tidak berada di lokasi. Lama menunggu kepastian panitia, peserta bersama-sama melantunkan selawat untuk sejenak menenangkan suasana. Tepat pada pukul 21.42 WIB, melalui grup WhatsApp, Irfan mengumumkan penundaan kongres sampai esok hari (30/5) pukul 08.00 WIB.

Kamis (30/5), tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Kongres yang semestinya dimulai pukul 08.00 WIB, hingga berita ini ditulis, belum ada kejelasan mengenai keberlanjutan kongres. Hal ini disebabkan lambannya respon panitia terkait waktu pelaksanaan dan tempat kongres berlangsung.

Berbagai tanggapan diutarakan oleh peserta kongres. “Banyak alasan dari sana, yang katanya belum siaplah. Harusnya dikonsep mateng-mateng, karena ini kegiatan besar. Sebenarnya untuk penundaan itu wajar, jika hanya satu atau dua jam … ini kalau saya memandang ada maksud terselubung dari pihak penyelenggara. Kita sendiri sebagai peserta tidak mengetahui rundown. Rundown kegiatan ini kita tidak diberi … itu sangat disayangkan sekali ketika lembaga legislatif seperti itu,” ungkap Yurosa selaku Ketua DEMA FASIH.

Tanggapan serupa diutarakan oleh Tamba selaku Ketua DEMA FUAD. “Panitia dan oknum-oknum yang ada dalam kongres punya banyak taktik, ini dapat dilihat dari alasan-alasan panitia yang tidak logis … penundaan dari pukul 21.00 (kemarin, red.) sampai sekarang belum terlaksana. Panitia belum siap dan tidak serius,” ujarnya.

Saat ditemui kru Dimensi pada Rabu (29/5), Abad Badruzzaman selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama menyatakan, bahwa tidak ada rekomendasi untuk mengundur kongres. “Tidak ada rekomendasi dari Abah Abad(saya, red.) untuk mengundur acara. Bahkan disarankan untuk segera dimulai agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan … kalaupun diundur jangan sampai ganti hari,” ungkapnya.

Pihak panitia sendiri enggan memberikan informasi terkait acara yang terus menerus diundur. Saat ditemui kru Dimensi (30/5), Zulfikar selaku ketua pelaksana hanya meminta maaf dan tidak mau memberi tanggapan atau klarifikasi apapun.

baca baca
DimutNewscamp

Peringati Hari Puisi, Lintas Komunitas Gelar Apresiasi Puisi

IMG-20190430-WA0000

Dimensipers.com – Sejumlah mahasiswa dari berbagai elemen dan komunitas menggelar acara bertajuk “Malam Apresiasi Puisi”. Acara yang digelar di teras gedung  Syaifuddin Zuhri  IAIN Tulungagung berlangsung kemarin pada Minggu (28/04/2019) malam mulai pukul 18.30 WIB. Acara tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional yang diperingati setiap tanggal 28 April. Acara ini mengundang Tri Harianto selaku pegiat sastra Tulungagung.

baca baca
Newscamp

Seminar Nasional: “Agama Itu Ilusi?”

58375318_10211286996570120_5494388942641823744_n

Dimensipers.com – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Islam mengadakan Seminar Nasional, dengan tema “Agama itu Ilusi?, Penganut Agama Dalam Perspektif Psikoanalisa”. Acara diselenggarakan pada Selasa, 23 April 2019, di Auditorium lantai 6 gedung KH. Arief Mutaqiem. Dihadiri para mahasiswa Psikologi Islam (wajib), dan berbagai kalangan masyarakat, serta tamu undangan. Pemateri pada acara ini adalah Fakhrun Siroj, PSA, NCPsy A, FISAP, selaku pendiri dan ketua Asosiasi Psikoanalisis Indonesia (API), dan Lilik Rofiqoh, S. Hum., MA, selaku Sekretaris Jurusan (Sekjur) Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Tulungagung. Serta dimoderatori oleh Virgo N. Setiawan (psychoclok).

baca baca
AgendaNewscamp

Nonton Bareng dan Diskusi Film Sexy Killers Tulungagung

IMG-20190412-WA0077

Dimensipers.com – Jumat, (13/04) telah terselenggara nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Sexy Killers” di aula Gedung KH Arief Mustaqiem IAIN Tulungagung. Acara ini diadakan oleh Forum Perempuan Filsafat ( FPF), Gusdurian Tulungagung, LPM Dimensi, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (DEMA-F) Usluhudin Adab dan Dakwah, Sadha.net, IJIR, serta didukung semua  peserta nobar dan diskusi yang terundang secara umum. Diskusi terkait nobar film ini dipantik oleh Dwijo U. Maksum dari Majelis Etik AJI Indonesia dan Ahmad Gunawan dari Inisiatif Bandung.

baca baca
1 2 3 14
Page 1 of 14