close

Sastra

Puisi

Surga Kelam

Banjir Lumpur Lapindo
Semburan hitam menjadi mimpi buruk anak cucu kami Bukan lagi hijau ranau yang menyelimuti selaput sayu mata Bau anyir dan
Cerpen

Cicak Buntung

cicak1
Gedung putih. Serba putih dan teratur, rapi. Lantai mengkilat, perabot mewah, halaman luas, licin. Setidaknya itu yang kulihat dari balik
Cerpen

Tumbal

tumbal-bocah-di-india
Rokan menumpahkan susu di samping petilasan Mbah Sumede. Bibirnya komat-kamit laksana dukun. Dia berusaha merapalkan mantra hafalannya sepanjang minggu. “Biarkanlah
ciricara.com-jakarta_kumuh
Puisi

Asa Cangcorang Kerdil

Tanah merekah, kering dan gersang Ringkih isinya, mengusik sekelebatan para cangcorang Yang berderai di kota, menggelisah di senja Berlumur resah, Memekik dalam hampa Cangcorang-cangcorang rendah, katanya Berkolong rekah berlindas bata Bertopeng kaca, berdaun baja Terbanglah,
baca baca
Cerpen

Watu Murup

f440cd38a60e0d50e3c3b32388f8a340
(Simo, Kedungwaru, Tulungagung) Kabut menggantung di gunung. Mentari mengintip di timur. Para lelaki mengangkat bahu ̶  berdecak kagum pada pemandangan
Puisi

Bela Saja

fire_rainbow_1
Tuhan mengabulkan secara elegan Begitu juga mengambil secara elegan Pantas, memang Tuhan tak perlu dibela Jika kita membela, kita mengkerdilkan-Nya
Essai

Pupuk dan Pilkada

download
Pupuk sudah beranak pinak. Pupuk muncul di headline Kompas hari ini (Kamis, 16 Februari 2017) dalam tajuk Pupuk Kembali Persaudaraan.
Puisi

Aih perempuan

getimage.aspx
Kau p(P)erempuan Jejak sejarah apa yang kau tinggalkan dalam hidupmu ? Jenis kelaminmu malah menjadi penghalang Kodratmu sebagai yang kerdil
1 4 5 6 7
Page 6 of 7