close
Kanthong

HMJ KPI Selengarakan Talkshow Asma Nadia

IMG-20170429-WA001

Tulunagung, Selasa (25/4) Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Tulungagung mengadakan Talkshow dan Bedah Film dengan tema “Kontribusi Film Islami dalam Memperkaya Budaya Islam”. Acara ini dimulai pukul 08.00 WIB di Gedung Syaifuddin Zuhri Lantai 6 dan dibuka dengan perfom dari panitia yaitu melantunkan lagu. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta terdiri dari mahasiswa, siswa SMA dan masyarakat umum.

Acara ini dilatar belakangi dari pandangan teman-teman KPI sendiri bahwasanya industri perfilm-an yang bertemakan dakwah di Indonesia sudah mulai terkikis oleh film Barat. “Maka dari itu, teman-teman berinisiatif mengundang Asma Nadia untuk kembali menghidupkan serta menambah minat masyarakat terutama daerah Tulungagung untuk lebih mensuport film-film Islami”. Ujar Iguh selaku ketua pelaksana dari acara tersebut.

Asma Nadia merupakan sosok penulis yang karyanya bergenre Islami. Salah satu karyanya adalah novel berjudul “Jilbab Traveller” yang sekarang menjadi Best Seller. Dalam novel ini penulis mencoba untuk memotivasi para kaum perempuan agar selalu percaya diri dalam mengenakan jilbab khususnya bagi para Traveller perempuan. Banyak sekali  traveller yang merasa takut untuk mengenakan jilbab ketika berkunjung ke negara – negara yang mayoritas penduduknya non-muslim. “Jadi untuk para perempuan yang senang travelling, jangan merasa tidak percaya diri untuk mengenakan jilbab saat mengunjungi negara yang mayoritas non-muslim”Ujar Asma Nadia pada saat talkshow. Asma Nadia juga mengungkapkan bahwa lewat film – film yang bergenre islami seperti ini  diharapkan dapat memberi motivasi tersendiri untuk membentuk karakter remaja kearah yang lebih baik.

Harapan para panitia setelah terlaksanakanya acara ini adalah besarnya kontribusi film bergenre islami, khususnya di Indonesia dalam membentuk karakter bangsa. Di karnakan banyak nya orang yang merefleksikan film ke dalam kehidupan sehari-hari. []

 

read more
Belajar

Mahasiswa ES-4 Keluhkan Pewajiban Seminar Berbayar

IMG_0127

Tulungagung (20/4), Jurusan Ekonomi Syariah (ES) semester 4 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) untuk mata kuliah Komunikasi Bisnis akan mengadakan seminar. Sedianya seminar akan dilaksanakan pada tanggal 29 April 2017. Peserta seminar semua kelas semester 4 yang diampu oleh Siti Kalimah.

Dalam seminar ini, Kalim, sapaan akrab Siti Kalimah, mengajak HMJ untuk bekerjasama sebagai pelaksana kegiatan. Latip, selaku ketua HMJ ES membenarkan kerjasama tersebut. “Iya benar. Tapi disini kami hanya memfasilitasi masalah tempat, kursi dan meja”, ujarnya.

Kalim sendiri mewajibkan setiap mahasiswanya untuk mengikuti seminar. Nantinya seminar ini akan menjadi pengganti nilai Ujian AKhir mahasiswa. “Seminar ini akan menjadi tugas UAS untuk matkul Komunikasi Bisnis”, ujar Mawardi (bukan nama sebenarnya).

Banyak mahasiswa yang mengeluhkan pewajiban mengikuti seminar. Mereka beralasan, diawal kuliah hanya disampaikan oleh Kalim akan ada seminar untuk mata kuliah Komunikasi Bisnis, tetapi tidak diwajibkan.

Mawardi menjelaskan, “Diawal perkuliahan, bu Siti Kalimah pernah ngomongin terkait matkul Komunikasi Bisnis ada sebuah seminar. Seminar tersebut intinya tidak mewajibkan awalnya. Hanya pemberitahuan aja dikelas-kelas…bahwasanya mahasiswa itu penting mengikuti seminar-seminar. Karena beberapa pentingnya mahasiswa itu harus berdandan.”

“Diawal perkuliahan bu Kalim tidak mewajibkan, hanya yang berminat saja (ikut seminar, red). Hanya saja, semakin mendekati hari H jadi diwajibkan”, tambahnya kemudian.

Keberatan mahasiswa bagi yang mengikuti seminar ini harus menggenapi registrasi sebesar 70 ribu rupiah. “(Dengan registrasi tersebut, red) Fasilitas yang didapat oleh mahasiswa seminar antara lain, produk kecantikan untuk putri, untuk putra parfum, materi cara dandan, pemateri dari Jakarta, dan sertifikat”, ujar Mawardi.

Latip sendiri  tidak mau ikut campur perihal diwajibkannya mengikuti Seminar. Dia mengatakan, “…perihal wajib dan tidaknya itu bukan hak kami. Disini kami cuma bantu memfasilitasi saja.”

Sejauh ini total 250 mahasiswa yang sudah terdaftar mengikuti seminar dari jumlah keseluruhan 400 mahasiswa yang diampu Kalim. Bagi yang tidak mengikuti seminar akan mendapat sangsi. Lewat tiap-tiap koordinator kelas, Kalim mengirimkan pesan terkait adanya sangsi bagi mahasiswa yang tidak megikuti seminar. Namun tidak menjelaskan sangsi seperti apa yang akan dimaksud.

Menjadi problem tersendiri ketika ada seminar yang diadakan kemudian mewajibkan mahasiswanya untuk mengikutinya. Apalagi, mereka harus membayar registrasi keikutsertaannya. Layak dikaji perkuliahan saat ini yang sudah memakai sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) dimana besaran biaya kuliah (BKT) dibayarkan oleh mahasiswa pada setiap semester.

Kalau mewajibkan seminar ini sebagai syarat UAS dalam perkuliahan, artinya bukankah biaya operasionalnya tercakup dalam UKT?. Seminar ini bukan satu-satunya seminar berbayar yang diwajibkan pada mahasiswa. Sudah jamak mata kuliah yang dosen pengampunya mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti seminar atau workshop berbayar. “Oleh karena diwajibkan, ini teman-teman ingin menggali ulang sistem UKT ini apakah sudah benar-benar berjalan atau bagaimana?”, ujar Mawardi

read more
Opini

Islam dan Longkangan

IMG-20170418-WA0002
Islam mewarnai berbagai ritual dan tradisi masyarakat di Indonesia. Adanya akulturasi antara Islam dan tradisi masyarakat merupakan bukti terbentuknya budaya baru tersebut. Akulturasi ialah bercampurnya
read more
Puisi

Surga Kelam

Banjir Lumpur Lapindo
Semburan hitam menjadi mimpi buruk anak cucu kami Bukan lagi hijau ranau yang menyelimuti selaput sayu mata Bau anyir dan pekatnya tanah kelam sebagai tanda
read more
1 20 21 22 23 24 26
Page 22 of 26