close
Berita

Diesnatalis Teater Protest, Tampilkan (Lagi) Pagelaran Seni

IMG-20170407-WA0004

Dimensipers.com 19/05- Tepatnya Rabu tanggal 19 Mei 2017 ini menjadi hari jadi Teater Protes yang ke-22. Teater Protest lahir pada tahun 1995. Kemarin malam ada pementasan yang menggaet mata dan telinga warga kampus IAIN Tulungagung. Kerlap-kerlip Diesnatalis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Protest.

Aula utama (masih) menjadi pilihan tempat untuk menyelenggarakan pementasan teater. Memang agaknya Aula Utama IAIN Tulungagung menjadi pilihan konsisten setiap terselenggaranya acara oleh UKM Teater Protes, terutama Diesnatalis ini. Sebab menurut mereka sangat mudah oleh mereka menyulap tata ruang dengan sedemikian rupa. Dan sebab tata panggung masih menjadikan fokus bagi setiap mata untuk menikmati cahaya panggung utama ini.

Sudah bisa ditebak, penonton menyesakki ruang aula hal ini terihat dengan jumlah deretan kendaraan yang terparkir di luar. Tepat pukul 21:01 suasana masih panas dalam rentetan alur pementasan drama teater. Terkadang gelak tawa kecil meletup dari arah penonton saat lakon-lakon mulai melontarkan dagelannya.

Ada harmoni yang sedang tercipta. Kesatuan kompak para pemain, alunan tabuhan dari keterampilan tangan yang menabuh setiap alatnya. Manggut-manggut penabuh memancing manggutan penonton pula. Menarik memang, layak yang dikatakan Puja mahasiswa Tadris Bahasa Inggris (TBI) 4A “Aku baru kali ini nonton teater Protest, ternyata ya apik (Ternyata ya bagus: Red).” begitu kesan dia yang duduk dibangku penonton.

Hal yang menarik adalah ada pada pementasan drama Jaka Tarub yang menjadi penutup beberapa pementasan sebelumnya. Jaka Tarub, Nawang Wulan dan kawan-kawan menjadi lakon yang tampil beda malam ini dengan drama-drama Jaka Tarub umumnya. Adapun alurnya terkonsep dengan gaya yang lain misalnya, Jaka Tarub dengan gaya coboy, Nawang Wulan tanpa gaun bidadari dan selendang (pakaian biasa), dan enam saudara Wulan yang terus menari menggait Jaka Tarub dengan coboy-nya tanpa sadar keberadaan saudaranya, Wulan. Hal ini memancing pertanyaan dibenak kita yang jawabannya adalah “Kan dikontemporerkan, ben lebih modern” begitu menurut Puja.

Pembacaan beberapa naskah puisi, perkusi, dan drama menjadi pewarna acara pada malam ini. Begitulah kira-kira yang dikatakan mahasiswa Tadris Biologi (TBIO) semester 2 salah satu lakon bidadari dari kayangan sebagai saudari Nawang Wulan. Semuanya telah selesai dipersembahkan. Walaupun tidak semua penonton mengikuti persembahan sampai selesai sebab mereka mulai berhambur mengundurkan diri karena jam dinding terus bergerak. Namun yang masih anget didalem ruangan juga banyak dan mengikuti sampai selesai.

Sebagai penutup salam untuk UKM Teater Protest. Kami haturkan Selamat Ulang Tahun yang Ke-22. Semoga di hari jadi yang genap kali ini menjadi berkah yang genap untuk sukses selalu. [Sur]

baca baca
Opini

Jangan Biarkan Sedikit Orang Menjadi Keren Karena Buku

18033403_1535032493175236_1433897543762187996_n

Sudah jelas bahwa minat baca masyarakat memang minim apalagi mahasiswa. Saya tidak mau bermuluk ria menjelaskan dimana urutan minat baca masyarakat Indonesia. Saya yakin kita bisa mawas diri dengan melihat ke cermin pada wajah kita sendiri-sendiri. Membaca masih menjadi hantu modern yang menakutkan. Jangankan membaca, saya yakin membeli bukupun kita jarang (sekali). Sekalipun beli buku saya yakin buku-buku itu baru dibaca setelah mahasiswa lulus. Pengangguran pascalulus menjadikan seseorang punya waktu berlebih untuk membaca. Eh……
Setidaknya saya mau ikut berbela sungkawa atas matinya minat baca mahasiswa ini. Bela sungkawa mendalam, sebab nyatanya tidak ada mahasiswa yang benar-benar suka membaca dan belajar. Entah karena kemalasan atau faktor eksternal lainnya banyaknya mahasiswa yang jarang baca bukanlah hoax.

Mereka lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain-main dengan gawainya bahkan traveling ke tempat-tempat keren. Saya rasa ini semua merupakan serangkaian upacara berkembangnya gawai, tempat wisata, tren pakaian, dan lain-lain. Masyarakat kita digiring menuju hal-hal berbau kekinian untuk menanggalkan banyak budaya termasuk budaya baca. Selain itu ketidakmampuan lepas dari media sosial merupakan penyakit turun temurun yang mulai menyebar. Mahasiswa sekarang lebih panik ketika ketinggalan charger telepon pintar mereka ketimbang ketinggalan buku. Bukankah begitu??…..

Gawai, berkembangnya gawai menjadi magnet kuat yang bahkan tidak bisa dilepaskan dari jemari mahasiswa. Mahasiswa cenderung menghabiskan waktu mereka untuk melotot didepan gawai. Sebagaimana yang biasa terjadi didalam kelas sekalipun, mahasiswa lebih tertarik pada gawai daripada diskusi. Ini merupakan perubahan zaman yang tidak bisa dihindari sekalipun oleh mahasiswa militan yang getol membaca. Saya yakin dirinya akan menyingkirkan gawai beberapa meter darinya untuk meluangkan waktu dan membaca.

Tepatnya 15 tahun yang lalu di hari yang sama yaitu 17 Mei dirayakan sebagai Hari Buku Nasional. Namun disamping perayaan ini mengikuti pula matinya semangat baca khususnya dalam dunia pendidikan. Seringkali saya jumpai justru mereka-mereka yang tidak menempuh pendidikan tinggilah yang malah getol mempertahankan buku dan budaya baca. Perlu kita sayangkan adalah sudah tidak ada lagi geliat literasi yang tumbuh dalam diri mahasiswa. Padahal mahasiswa merupakan tonggak utama sebagai generasi muda yang melestarikan semangat baca. Kita sepertinya sudah tersihir dengan zona nyaman yang membuat kita enggan membaca.

Padahal perayaan hari ini merupakan wujud perhatian pemerintah akan rendahnya minat baca masyarakat kita. Namun setelah belasan tahun Hari Buku Nasional ini digaungkan, kondisi masyarakat kita (masih) sama. Bahkan dalam dunia pendidikan sekalipun masih jarang yang melek literasi. Dapatlah kita hitung dengan jari berapa orang yang memang mencintai dan membaca buku.

Perayaan hari buku ini masih sebatas pajangan buku pada rak-rak buku dirumah. Meskipun sudah ada (pula) perpustakaan keliling nyatanya minat baca masih juga dekaden. Saya kira ketakutan akan buku dan membaca ini memang menjadi momok menyeramkan bagi generasi kita. Belum ada solusi pragmatis yang dapat mengubah kebiasaan buruk ini. Sekalipun saya, anda atau sudah banyak orang menyuarakan semangat membaca dan mencintai buku.

Nyatanya memang semangat membaca ini masih mitos dalam sejarah negara kita ini. Kalau anda mau memecahkan mitos itu, setidaknya anda harus mulai memberi contoh membaca buku. Jika tidak kita lakukan maka membaca buku akan menjadi kebiasaan langka. Hal itu berarti akan segera muncul mitos baru bahwa mereka yang membaca buku adalah orang paling keren. Ehehe tidak lupa kita harus berucap “Selamat Hari Buku Nasional”, jangan biarkan segelintir orang saja yang (menjadi) keren. []

baca baca
1 26 27 28 29 30 33
Page 28 of 33