Pemilu meru­pakan salah satu ben­tuk par­tisi­pasi poli­tik dimana masyarakat memil­ih sese­o­rang untuk mengisi jabatan ter­ten­tu yang mana akan mem­pen­garuhi kebi­jakan pemerintah.

Par­tisi­pasi poli­tik adalah kegiatan war­ga negara yang bertu­juan mem­pen­garuhi kepu­tu­san poli­tik. Par­tisi­pasi poli­tik dilakukan orang dalam posisinya seba­gai war­ga negara, bukan poli­tikus atau pun pegawai negeri. Sifat par­tisi­pasi poli­tik ini adalah sukarela, bukan dimo­bil­isasi oleh Negara ataupun par­tai yang berkuasa. 

Par­tisi­pasi poli­tik meru­pakan salah satu aspek pent­ing dalam demokrasi. Asum­si yang men­dasari par­tisi­pasi adalah orang yang pal­ing tau ten­tang apa yang baik bagi dirinya adalah orang itu sendiri. Kare­na kepu­tu­san poli­tik yang dibu­at dan dilak­sanakan oleh pemer­in­tah menyangkut dan mem­pen­garuhi kehidu­pan war­ga negara, sehing­ga masyarakat berhak ikut ser­ta menen­tukan isi keputusan. 

Kegiatan war­ga Negara diba­gi men­ja­di dua, yaitu mem­pen­garuhi isi kebi­jakan umum dan ikut menen­tukan pem­bu­atan dan pelak­sanaan kepu­tu­san poli­tik. Secara umum, tipolo­gi par­tisi­pasi poli­tik seba­gai kegiatan dibedakan seba­gai berikut. Per­ta­ma, par­tisi­pasi aktif yaitu par­tisi­pasi yang beror­i­en­tasi pada pros­es input dan out­put. Artinya seti­ap war­ga Negara secara aktif men­ga­jukan ususl men­ge­nai kebi­jakan pub­lik men­ga­jukan alter­natif kebi­jakan pub­lik yang berbe­da den­gan kebi­jakan pemer­in­tah, men­ga­jukan kri­tik dan per­baikan untuk melu­ruskan kebi­jakan umum, memil­ih pemimpin pemer­in­tah dan lain-lain. 

Ked­ua, par­tisi­pasi pasif yaitu par­tisi­pasi yang beri­or­i­en­tasi hanya pada ouput, dalam arti hanya menaati per­at­u­ran pemer­in­tah, mener­i­ma dan melak­sanakan seti­ap kepu­tu­san pemer­in­tah. Keti­ga, golon­gan putih (golput) atau kelom­pok apatis kare­na men­gang­gap sis­tem poli­tik yang ada telah meny­im­pang dari sesu­atu yang dicita-citakan.

 Kegiatan par­tisi­pasi poli­tik war­ga Negara mem­berikan dampak cukup pent­ing ter­hadap tatanan poli­tik dan kelang­sun­gan hidup suatu Negara, teruta­ma dalam mendekati tujuan yang hen­dak dica­pai. Par­tisi­pasi poitik yang baik adalah par­tisi­pasi yang tum­buh atas kesadaran seba­gai par­tisi­pasi murni (pure artic­i­pa­tion) tan­pa adanya paksaan. 

Pada Negara total­iter, par­tisi­pasi poli­tik dipo­la menu­rut kebi­jakan elite yang berkuasa (elite pemer­in­tah, elite par­tai). Par­tisi­pasi semacam ini dimo­bil­isas­ikan untuk tujuan ide­olo­gi ( ide­olo­gi marx­isme atau komunisme).

Ter­wu­jud­nya par­tisi­pasi murni menun­jukkan bah­wa jali­nan komu­nikasi antara elite infra­struk­tur (elite berkuasa) den­gan jali­nan har­mo­nis. Untuk mewu­jud­kan par­tisi­pasi murni, masyarakat harus lengkap dan cukup mener­i­ma pesan komu­nikasi dan infor­masi ten­tang langkah kebi­jak­sanaan pemer­in­tah yang berkai­tan den­gan kepentin­gan masyarakat. 

kesadaran poli­tik war­ga Negara men­ja­di fak­tor deter­mi­nan dalam par­tisi­pasi poli­tik masyarakat, artinya berba­gai hal yang berhubun­gan penge­tahuan dan kesadaran ter­hadap hak dan kewa­jiban yang berkai­tan den­gan lingkun­gan masyarakat dan kegiatan poli­tik men­ja­di uku­ran dan kadar sese­o­rang ter­li­bat dalam pros­es par­tisi­pasi politik.

Penulis: Ard­hani Maulana Sina­ga
Edi­tor: Nurul