UIN Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah (SATU) Tulun­ga­gung, kini beru­sia satu pan­cawarsa sejak diresmikan melalui Per­at­u­ran Pres­i­den (Per­pres) Nomor 40 Tahun 2021. Dalam kurun wak­tu terse­but, pem­ban­gu­nan kian mentereng den­gan diban­gun­nya Gedung Pra­j­na­parami­ta, Gedung Start Up dan Gedung BLU.

Nam­paknya per­al­i­han papan nama itu bukan hanya sekadar omon-omon bela­ka. Pasal­nya, sete­lah pem­ban­gu­nan gedung yang masif, kam­pus juga men­ja­di kekin­ian den­gan mer­am­bah ke bis­nis Food and Bev­er­age (F&B) Satu Cof­fee. Di saat yang ham­pir bersamaan, UIN SATU juga melun­curkan tiga pro­gram stu­di baru yakni  Infor­mati­ka, Sains Data, Bidang Teknolo­gi Pan­gan & Hasil Pertanian.

Lewat capa­ian pem­ban­gu­nan dan ino­vasinya, UIN SATU pun­ya kesan yang cemer­lang. Hing­ga pada tahun 2024, UIN SATU men­gan­ton­gi 9.097 calon maha­siswa lewat jalur pendaf­taran Ujian Masuk Per­gu­ru­an Ting­gi Keaga­maan Islam Negeri (UM-PTKIN) dan mam­pu ber­saing den­gan 10 kam­pus den­gan pem­i­nat terbe­sar UIN se-Indonesia.

Selain kema­juan infra­struk­tur, kam­pus kian adap­tif melalui media sosial. Di Insta­gram, UIN SATU pun­ya 3 akun uta­ma yang aktif @uin_satu (78,1rb pengikut), @satutelevisi (5.383 pengikut), dan @uin.satupay (9.651 pengikut) per 2 Mei 2026. Den­gan ribuan pengikut itu, UIN SATU dap­at men­jangkau pub­lik yang luas.

Kam­pus hari ini telah berhasil mer­a­mu cit­ra di mata pub­lik, melalui pem­ban­gu­nan infra­struk­tur dan adap­tasi lewat media sosial. Sayangnya, keber­hasi­lan itu bersi­fat semu apa­bi­la kita menin­jau dari Uang Kuli­ah Tung­gal (UKT) UIN SATU  tahun 2025. Angkanya terasa mencekik bila diband­ingkan Upah Min­i­mum Kabupaten/Kota (UMK) di wilayah berplat kendaraan AG yang cen­derung rendah. 

Sum­ber: Data UMK 2025 & UKT UIN Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah Tulungagung.

Dil­i­hat dari Info­grafik di atas, rata-rata biaya kuli­ah di UIN SATU mus­tahil ter­ba­yar den­gan satu bulan upah min­i­mum di kares­i­de­nan Kediri. Berdasarkan Sta­tus Dom­i­nan 4 dari tujuh wilayah bersta­tus “Berat”. Kabu­pat­en Treng­galek memi­li­ki kesen­jan­gan pal­ing sig­nifikan den­gan per­bandin­gan biaya kuli­ah. Hal ini men­ja­di anom­ali pem­ban­gu­nan, teruta­ma bagi calon maha­siswa dari Kabu­pat­en Treng­galek yang berisiko ting­gi tidak dap­at melan­jutkan kuliah.

Jurang kesen­jan­gan akses pen­didikan per­gu­ru­an ting­gi diper­je­las oleh data nasion­al. Lulu­san sar­jana di Indone­sia hanya menyen­tuh angka 10,10 persen. Angka ini diper­oleh dari pen­guku­ran data berge­lar sar­jana atau diplo­ma di atas usia 15 tahun Badan Pusat Sta­tis­tik (BPS) tahun 2024. Berka­ca dari data ini masyarakat Indone­sia tert­ing­gi meru­pakan lulu­san SMA 30,85 persen. Miris­nya angka sar­jana bahkan tak sam­pai seten­gah dari lulu­san SD 24,72 persen atau lulu­san SMP 22,79 persen.

Ketert­ing­galan ini kian kon­tras bila disand­ingkan den­gan negara-negara maju anggota Organ­i­sa­tion for Eco­nom­ic Co-oper­a­tion and Devel­op­ment (OECD), yang rata-rata lulu­san per­gu­ru­an ting­gi men­ca­pai 47,42 persen. Di Asia, Korea Sela­tan memimpin di antara negara OECD lain den­gan men­catatkan angka kelu­lu­san 70 persen pada pen­duduk usia 25–34 tahun.

Bahkan, diband­ingkan den­gan Tur­ki yang memi­li­ki skor teren­dah OECD sebe­sar 25 persen (2022), capa­ian Indone­sia hanya 10,10 persen belum men­ca­pai seten­gah­nya. Indone­sia mus­tahil mam­pu menge­jar ketert­ing­galan untuk ber­saing di kanc­ah inter­na­sion­al, bila pen­didikan ting­gi kita masih men­ja­di barang mewah yang hanya bisa dijangkau segelin­tir  masyarakat.

Ironi per­al­i­han sta­tus akred­i­tasinya men­ja­di Uni­ver­si­tas (den­gan “U”, yang dalam bahasa Latin berar­ti uni­ver­sal dan komu­nal) hanya seba­gai kedok untuk mengkap­i­tal­isasi pen­didikan. Semen­tara itu, mak­na uni­ver­si­tas (den­gan “u” kecil) telah gagal dit­er­ap­kan UIN SATU. Tan­pa ske­ma per­lin­dun­gan biaya, per­gu­ru­an ting­gi ini bere­siko mendekatkan maha­siswa den­gan hutang dan pin­ja­man online.

Polas-poles Cit­ra demi Engage­ment

Seba­gai alum­nus maha­siswa Komu­nikasi penyiaran Islam (KPI) UIN SATU, yang dididik untuk men­gua­sai sim­bol dan pesan, saya meli­hat perkem­ban­gan kam­pus belakan­gan ini den­gan perasaan cam­pur aduk–antara bang­ga den­gan kemasan­nya dan cemas akan substansinya. 

Sejak kepemimp­inan rek­tor sebelum­nya, ter­li­hat bah­wa cit­ra rek­tor memang sen­ga­ja diben­tuk den­gan humoris dan sadar kam­era. Barangkali, tampi­lan itu jauh lebih rel­e­van di mata maha­siswa Gen Z. Abd Aziz, dalam kap­a­sitas­nya seba­gai rek­tor UIN SATU dan Guru Besar Pen­didikan sedang mem­ban­gun pop­u­lar­i­tas di media sosial seba­gai langkah prak­tis. Sebuah pil­i­han tak­tis yang diam­bil untuk menyokong laju per­tum­buhan ser­ta daya tarik per­gu­ru­an ting­gi yang ten­gah dipimpinnya.

Sosok Aziz icon­ic den­gan gaya khas kumis tebal, senyum ramah dan peci hitam yang selalu melekat. Ia ker­ap mem­bawakan narasi pop­ulis di depan para maha­siswa. Salah satu momen yang saya ingat adalah saat Wisu­da ke-45; Aziz memang­gil Gin­cu Marcuet–nama pang­gung dari Ard­hany Maulana, wisu­dawan juru­san KPI–ke atas podi­um. Ia mem­beri apre­si­asi beru­pa uang kepa­da Gin­cu atas pop­u­lar­i­tas­nya di media sosial.

Apre­si­asi wisu­da itu kemu­di­an diung­gah Gin­cu lewat akun Tik­Tok @gincumarcuet, den­gan 49 juta orang yang menon­ton. Fenom­e­na ini seo­lah menandai perge­ser­an stan­dar prestasi. Kini capa­ian lulu­san ter­baik den­gan Indeks Prestasi Kumu­latif (IPK) ting­gi harus ber­saing den­gan pop­u­lar­i­tas selebri­ti kam­pus. Di pang­gung wisu­da itu, nilai akademik dipak­sa berkom­petisi den­gan jum­lah likes dan view kon­ten.

Tak berhen­ti di pang­gung wisu­da, penampi­lan selebri­ti kam­pus itu juga kem­bali dihadirkan seba­gai Mas­ter of Cer­e­mo­ny (MC) dalam Pen­ge­nalan Budaya Akademik Kam­pus (PBAK) 2025. Di atas pang­gung uta­ma, Ia tampil mem­bawa gaya ekspre­sif khas Gen Z di PBAK UIN SATU. Namun aksi joget­nya men­gun­dang keri­uhan di ten­gah peser­ta PBAK itu sebe­narnya men­ja­di tan­da tanya besar. 

Sebab, peng­gu­naan selebri­tas kam­pus ini bagaikan pedang berma­ta dua. Saya mem­in­jam anal­i­sis Grant McCrack­en, antropolog budaya asal Har­vard, cit­ra fig­ur yang diun­dang akan otoma­tis melekat pada instan­si. Namun, alih-alih selek­tif demi men­ja­ga mar­wah akademik, kam­pus jus­tru “keblinger” oleh angka pop­u­lar­i­tas. Den­gan merangkul sosok yang ker­ap mem­ban­gun per­sona vul­gar dan sek­sis di media sosial, UIN SATU sebe­narnya sedang mem­permalukan dirinya demi menge­jar validasi. 

Obsesi ter­hadap val­i­dasi semu ini sudah men­jangk­it insti­tusi, ter­li­hat dari penye­leng­garaan PBAK sela­ma 4 tahun ter­akhir. Demi naik pang­gung nasion­al, PBAK ditung­gan­gi untuk menc­etak Rekor MURI yang menun­jukan gejala Nar­cis­sis­tic Per­son­al­i­ty Dis­or­der (NPD) insti­tusi. Sete­lah rekor buku ter­te­bal (2022) dan kaligrafi ter­pan­jang (2023), tahun lalu kam­pus memec­ahkan rekor 3.648 tong sam­pah bam­bu (2025). Sayangnya, prestasi terse­but hanya berakhir berde­bu, atau lebih iro­nis lagi jus­tru ribuan tong sam­pah bam­bu mem­busuk men­ja­di sam­pah itu sendiri. 

PBAK seharus­nya men­ja­di ger­bang awal bagi maha­siswa untuk menye­la­mi atmos­fer akademik. Di sanalah budaya berpikir kri­tis dan disi­plin penelit­ian dis­e­mai seba­gai lan­dasan pem­ban­gu­nan bagi per­ad­a­ban. Jus­tru kam­pus hanya sibuk mengek­sploitasi maha­siswa bertal­en­ta demi pop­u­lar­i­tas. Wal­hasil, insti­tusi tak lebih dari pang­gung opera sabun, hibu­ran receh untuk kedan­gkalan intelek­tu­al demi sorak-sorai.

Ambisi kam­pus terny­a­ta tak berhen­ti dis­ana. Belakan­gan UIN SATU kian giat merekrut para maha­siswa seba­gai tim admisi di seti­ap fakul­tas. Sebuah upaya sis­tem­a­tis untuk men­jangkau calon maha­siswa melalui esteti­ka media sosial. Has­rat val­i­dasi ini telah mengko­mod­i­fikasi maha­siswa men­ja­di sekedar “wajah” pemasaran, demi algo­rit­ma Instagram.

Strate­gi dig­i­tal ini ter­wu­jud dalam fenom­e­na per­banyakan akun pro­mosi yang masif namun dan­gkal. Lihat saja akun @admisi_uinsatu yang baru men­jar­ing 2.144 pengikut sejak Novem­ber 2025,  atau akun-akun fakul­tas seper­ti @admisifebi_uinsatu dan @admisiftik.uinsatu yang masih berku­tat pada angka ratu­san. Alih-alih men­ja­di pusat infor­masi yang sub­stan­sial, upaya ini tam­pak seba­gai proyek arti­fisial untuk menu­tupi anom­ali statistik.

Sum­ber: Web­site res­mi UIN Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah (Data Press rilis PBAK dan Buku Wisu­da ke 52) 

Syah­wat insti­tu­sion­al itu nyatanya kon­tras den­gan reali­ta lapan­gan. Semen­jak ekspan­si  sta­tus­nya seba­gai uni­ver­si­tas, angka kelu­lu­san memang meningkat secara drastis. Namun, jum­lah maha­siswa baru jus­tru ter­jun bebas. Berdasarkan data grafik, tahun 2025 men­catatkan angka teren­dah dalam 6 tahun ter­akhir, yakni  3.937 maha­siswa baru. Sebuah anom­ali yang mem­buk­tikan ekspan­si sta­tus tidak berband­ing lurus den­gan daya tarik insti­tusi di mata publik.

Tren ini berto­lak belakang den­gan lon­jakan peser­ta wisu­dawan yang terus dic­etak. Bila ketim­pan­gan antara input dan out­put ini terus dib­iarkan, kam­pus berisiko men­gala­mi krisi maha­siswa secara sis­temik di masa depan. Sudah sep­a­tut­nya insti­tusi menin­jau ulang pri­or­i­tas kebi­jakan­nya. Berhen­ti­lah sibuk mem­o­les wajah den­gan ilusi kehe­batan jika sebe­narnya tubuh lem­ba­ga sedang men­gala­mi penu­runan minat. Esen­si akademik tidak boleh diko­r­bankan demi kepuasan ego kam­pus belaka.

Beban Akademik yang Kita Pikul 

Kita juga per­lu menin­jau kem­bali per­soalan dari sisi akademis di UIN SATU yang kini bera­da dalam “zona mer­ah”. Kege­lisa­han maha­siswa men­ge­nai dosen kian “obral” kelu­lu­san pas­ca-per­al­i­han akred­i­tasi patut dicuri­gai. Pasal­nya, mes­ki telah beral­ih sta­tus, kesen­jan­gan antara jum­lah pen­ga­jar dan beban ker­ja dosen masih lebar. 

Berdasarkan Ren­cana Bis­nis dan Anggaran (RBA) peruba­han Badan Layanan Umum (BLU) UIN SATU tahun 2023, men­catat data 24.629 maha­siswa. Semen­tara itu, kam­pus hanya didukung 498 dosen (257 PNS, 85 dosen tetap Non-PNS, dan 156 Dosen Luar Biasa). Secara teori, rasio dosen pem­bimb­ing men­ca­pai 1:49. Namun, fak­tanya menun­jukkan beban ini jauh lebih berat kare­na 154 dosen harus merangkap jabatan di struk­tur birokrasi.

Berar­ti, ham­pir 45 persen dosen tetap UIN SATU harus mem­ba­gi fokus­nya antara men­ga­jar dan men­gu­rus admin­is­trasi. Den­gan beban gan­da terse­but, dosen sudah pasti ngos-ngosan sete­lah rap­at-rap­at birokrasi bahkan sebelum sem­pat masuk ruang kelas. Di ten­gah keter­batasan ini, siv­i­tas akademi­ka seo­lah dipak­sa menyu­lap angka-angka sarjana. 

Meru­juk pada info­grafik peser­ta PBAK dan Wisu­da 2020–2025, nam­pak ambisi insti­tusi untuk men­ga­trol jum­lah wisu­dawan pas­ca-alih sta­tus. Pun­caknya ter­ja­di pada tahun 2022, bertepatan den­gan momen pen­ingkatan akred­i­tasi, di mana angka wisu­dawan menyen­tuh 7.506 orang, rekor tert­ing­gi dalam kurun wak­tu 6 tahun terakhir. 

Sayangnya, sta­tis­tik kelu­lu­san yang dipak­sa ini men­cip­takan deval­u­asi nilai gelar sar­jana. Keny­ataan ini kian diper­parah oleh angka pener­i­maan maha­siswa baru merosot tajam sebe­sar 28,42 persen dalam kurun 2020 dan 2025.

Fenom­e­na “pengka­trolan” ini bukan kabar baik. Kual­i­tas lulu­san diper­taruhkan, mere­ka hanya menam­bah angka pen­gang­gu­ran. Angka-angka itu men­ja­di catatan di atas ker­tas yang hilang mak­na dan daya tawar di mata publik.

Pada akhirnya, Maha­siswa hanya dijadikan komod­i­tas yang diperas demi angka sta­tis­tik. Demi akred­i­tasi, gelar sar­jana dikap­i­tal­isasi seba­gai alat mem­o­les per­gu­ru­an ting­gi. Seyo­gianya per­gu­ru­an ting­gi per­lu men­gubah strate­ginya, berhen­ti hanya mem­pri­or­i­taskan tar­get bis­nis melalui ske­ma BLU, dan per­lu mulai mem­per­lakukan maha­siswa seba­gai aset inves­tasi peradaban.

Penulis: Dimas Wahyu Gilang (Koor­di­na­tor
Lit­bang LPM Dimen­si Peri­ode 2022)
Redak­tur: Sifana Sofia