Kon­disi pen­gelo­laan sam­pah di Tulun­ga­gung dini­lai masih buruk dan mem­pri­hatinkan. Ter­pan­tau dari banyaknya sam­pah yang berser­akan di ping­gir jalan, sun­gai-sun­gai mam­pet dan ter­ce­mar aki­bat lim­bah sam­pah, berdampak serius pada kese­hatan dan kelestar­i­an lingkun­gan. Pada­hal jika dil­i­hat secara his­toris­nya Tulun­ga­gung per­nah men­da­p­atkan Adipu­ra pada tahun 2023 lalu. Adipu­ra adalah sebuah peng­har­gaan yang diberikan oleh Kementer­ian Lingkun­gan Hidup dan Kehutanan untuk kota yang berhasil  men­ja­ga keber­si­han dan men­gelo­la lingkun­gan den­gan baik dan asri. Namun nyatanya masih banyak per­soalan sam­pah yang belum selesai.

Buruknya pen­gelo­laan sam­pah di Tulun­ga­gung ini bukan tan­pa sebab. Kebi­jakan yang belum opti­mal, masyarakat yang masih apatis ter­hadap sam­pah dan kurangnya infra­struk­tur  untuk men­gelo­la sam­pah men­ja­di fak­tor uta­ma kom­pleksya pence­maran lingkun­gan. Kual­i­tas reg­u­lasi yang buruk ini men­ja­di penye­bab adanya daer­ah kumuh di Tulun­ga­gung. Juli 2024, Dis­perkim (Dinas Peruma­han dan Kawasan Per­muki­man) men­catat ter­da­p­at 240 hek­tar kawasan kumuh di Tulun­ga­gung, yaitu di keca­matan Ban­dung, Cam­pur­darat, Ngantru, Sum­bergem­pol, Ngunut, Kau­man, dan Tulun­ga­gung. Wawan­cara ANTARA kepa­da kepala Dis­perkim, Anang Pras­tianto men­gatakan bah­wa luas peemuki­man kumuh tahun 2025 di Tulun­ga­gung men­ca­pai 119,97 ha. 

Dampak dari lim­bah sam­pah yang tidak teru­rus men­datangkan berba­gai masalah lingkun­gan dan kese­hatan. Sam­pah yang dib­iarkan meng­gu­nung dap­at mence­mari tanah dan meng­hasilkan bau tidak sedap. Selain itu pem­buan­gan lim­bah indus­tri pabrik yang tidak diper­hatikan akan mem­ba­hayakan keber­si­han dan eko­sis­tem sun­gai. Dari keadaan terse­but dap­at memu­nculkan beragam penyak­it, seper­ti demam kasus berdarah yang mel­on­jak ting­gi satu  tahun belakan­gan ini. Sam­pah-sam­pah ini turut men­ja­di penye­bab hadirnya ban­jir seti­ap musim hujan, teruta­ma di wilayah kota yang jarang ter­da­p­at daer­ah resapan. Hal ini ter­ja­di kare­na sam­pah yang terse­but menut­up gorong-gorong ali­ran air, sehing­ga air melu­ap ke jalan.

Kebi­jakan men­ge­nai reg­u­lasi sam­pah di Tulun­ga­gung yang belum mak­si­mal men­ja­di masalah pent­ing saat ini. Tem­pat Pen­gelo­laan Sam­pah Ter­padu (TPST) yang sudah melakukan pemi­la­han sam­pah jarang sekali dite­mui atau bahkan tidak ada. Masih banyak TPST yang hanya memindahkan sam­pah tan­pa memi­lah sam­pah men­ja­di organik, anor­ganik, dan B3. Selain itu, di beber­a­pa tem­pat masih dite­mui tem­pat sam­pah yang dicam­pur men­ja­di satu tan­pa memisahkan jenis­nya. Di sisi lain, kurang tegas­nya kebi­jakan men­ge­nai per­i­laku masyarakat mem­buang sam­pah sem­barangan dan pem­buan­gan lim­bah di sun­gai dap­at menam­bah pen­garuh buruk ter­hadap keadaan tersebut.

Masyarakat yang apatis dan tidak mau men­ja­ga keber­si­han lingkun­gan men­ja­di tan­ta­n­gan besar dalam hal ini. Nor­mal­isasi mem­buang sam­pah pada tem­pat­nya dan sesuai jenis dipan­dang tidak pent­ing oleh masyarakat. Hal ini dap­at dil­i­hat dari masih banyak orang mem­buang sam­pah sem­barangan dan tem­pat sam­pah organik juga B3 dipenuhi oleh plas­tik, yang meru­pakan jenis sam­pah anor­ganik. Banyak masyarakat yang berpikir bah­wa memi­lah sam­pah bukan­lah hal yang pent­ing. Mere­ka men­gang­gap semua sam­pah itu sama saja, sehing­ga bisa dibuang bebas tan­pa peduli jenis­nya. Hal terse­but kare­na banyak masyarakat yang masih men­gang­gap bah­wa pen­gelo­laan sam­pah hanya tugas pemer­i­tah saja, pada­hal dalam hal ini masyarakat juga berkon­tibusi besar ter­hadap keber­si­han lingkun­gan sek­i­tar. Selain itu tidak semua orang paham akan jenis dan cara memi­lah sampah. 

Pemer­in­tah Tulu­na­gung seba­gai instan­si yang memi­lik otono­mi untuk men­gatur daer­ah­nya sendiri harus mem­per­ke­tat reg­u­lasi sam­pah den­gan mem­bu­at kebi­jakan-kebi­jakan rela­van ter­hadap keadaan daer­ah­nya ser­ta melakukan per­bandin­gan, kemu­di­an meniru bagaimana daer­ah lain men­jalankan pros­es pen­gelo­laan sam­pah­nya, seper­ti di Kota Malang yang berhasil men­gelo­la 98,68 persen dari total tim­bunan sam­pah har­i­an, desa Kuri­pan di Peka­lon­gan yang meraih peng­har­gaan desa mandiri sam­pah kare­na berhasil men­gelo­la dan meman­faatkan sam­pah den­gan baik, dan lain-lainnya.

Pada dasarnya reg­u­lasi terkait pen­gelo­laan sam­pah sudah diatur dalam UU Nomor 18 Tahun 2008. Dalam pasal 16 dise­butkan bah­wa tugas pemer­in­tah untuk men­gelo­la sam­pah adalah untuk menum­buhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat ter­hadap bagaimana cara men­gelo­la sam­pah. Kemu­di­an melakukan pengem­ban­gan teknolo­gi dan melakukan penelit­ian ter­hadap penan­ganan sam­pah. Pemer­in­tah harus mem­fasil­i­tasi, mengem­bangkan dan menye­di­akan sarana prasarana seba­gai upaya pen­gelo­laan sam­pah. Dalam hal ini, mungkin pemer­in­tah dap­at mem­bu­at sebuah ran­can­gan untuk menan­gani dan beri­no­vasi ter­hadap cara kelo­la sam­pah. Seper­ti melakukan kegiatan yang men­gubah sam­pah anor­ganik men­ja­di sebuah barang yang lebih fung­sion­al dalam kehidupan.

Untuk itu, pemer­in­tah Tulun­ga­gung dihara­p­kan dap­at mem­per­bai­ki dan menam­bah infra­struk­tur pen­gelo­laan sam­pah, meliputi tem­pat sam­pah, uta­manya di tem­pat-tem­pat atau taman yang ser­ing digu­nakan untuk perkumpul seper­i­ti alun-alun, dll. Selain tem­pat sam­pah pemer­in­tah Tulun­ga­gung dihara­p­kan dap­at men­gelo­la TPST men­ja­di lebih maski­mal den­gan meng­hadirkan pro­gram pemi­la­han sam­pah yang berprin­sip pada 3R (Reduce, Reuse, dan Recy­cle) seba­gai upaya men­gu­ran­gi lingkun­gan dari dampak buruk pence­maran sam­pah.  Kemu­di­an pemer­in­tah juga per­lu menge­dukasi masyarakat akan pent­ingnya dan bagaimana cara men­gelo­la sam­pah yang baik dan benar, baik sam­pah rumah tang­ga dan sam­pah di lingkun­gan sek­i­tar mere­ka. Apa­bi­la diper­lukan, pemer­in­tah dap­at men­er­ap­kan den­da pada masyarakat yang tidak taat atu­ran seper­ti yang berlaku di Sin­ga­pu­ra.  selain itu pemer­in­tah juga harus berko­lab­o­rasi dan lebih mem­per­hatikan aktivis-aktivis lingkun­gan. Hal terse­but untuk men­cip­takan pen­gelo­laan sam­pah Tulun­ga­gung yang mak­si­mal seba­gai upaya meningkatkan  pelestar­i­an lingkungan.

Penulis: Khairin Najwa Alfi­an­syah Putri
Edi­tor: Musto­fa Ismail