Ku dari utara mer­awat ingatan
Ke sela­tan lin­tasi Jef­fer­son
Ben­teng Belan­da dan pen­jara di taman”

Poton­gan lagu diatas meru­pakan salah satu dari jejer­an album ter­baru Fstvlst berta­juk Paradoks Diame­tral yang mengin­gatkan den­gan amat jelas trage­di pem­ban­ta­ian berse­jarah. Namun, lagu itu tidak bert­e­ri­ak, melainkan mer­ayap pelan seper­ti orang ber­jalan mele­wati tem­pat yang men­ja­di sak­si keke­ja­man dan berhen­ti seje­nak untuk men­ge­nang kem­bali bayan­gan yang tak per­nah pergi.

Sosok Farid Stevy hadir seba­gai penulis lagu, ia lahir di Gunungkidul  20 Okto­ber 1982 yang lebih dike­nal seba­gai vokalis grup band Fstvlst. Farid men­cip­takan lagu ini atas memo­ar kakeknya yang berna­ma Sirin seo­rang pamong desa Keca­matan Playen, Gunungkidul pada tahun 1965 dituduh seba­gai sim­pati­san palu arit dicu­lik lalu din­tero­gasi di Gedung Jef­fer­son dan tak per­nah kembali.

Gedung Jef­fer­son sendiri adalah bekas per­pus­takaan kon­gres Ameri­ka Serikat di Indone­sia yang berna­ma Jef­fer­son Library. Nama gedung terse­but diam­bil dari nama pres­i­den keti­ga Ameri­ka, Thomas Jef­fer­son dan diban­gun seba­gai ben­tuk kedekatan ser­ta ker­jasama pemer­in­tah Indone­sia den­gan amerika.

Kala itu bagi kalan­gan pela­jar, budayawan, dan kelu­ar­ga ker­a­ton gedung per­pus­takaan terse­but bagai pusat per­ad­a­ban. Kajian ilmu, pen­dala­man budaya, dan pemiki­ran orang orang ameri­ka telah men­ja­di makanan sehari-hari disana.

Pada Tahun 1965 gedung itu diam­bil alih oleh aparat militer untuk dijadikan tem­pat pena­hanan dan intero­gasi orang-orang yang dituduh seba­gai sim­pati­san par­tai palu arit. Ban­gu­nan berar­sitek­tur tro­pis den­gan pola-pola ver­tikal dan grid itu meny­im­pan banyak teri­akan teri­akan kor­ban trage­di 1965.

Enam puluh lima macam mati
Satu seten­gah juta
Kan hidup kem­bali
Di tepi sumur kapur
Ku bersak­si cahaya Gusti”

Peng­galan lirik di atas bukan hanya sekedar ima­ji­nasi kosong, melainkan pen­gakuan atas jum­lah kor­ban yang masih diperde­batkan, masih diingkari bahkan masih men­ja­di angin lalu. Bagi kelu­ar­ga kor­ban yang masih menang­gung stig­ma, Sep­tem­ber tahun 1965 belum per­nah selesai.

Sep­tem­ber selalu men­ja­di bulan yang penuh ironi, pada­hal baru saja mer­ayakan kemerdekaan di bulan agus­tus den­gan berba­gai eufo­ria dan upacara. Namun, selang beber­a­pa ming­gu sudah dihadap­kan pada sejarah yang pal­ing kelam. 

Trage­di 1965 adalah buk­ti bagaimana negara bisa berubah men­ja­di mesin yang memakan war­ganya sendiri, bagaimana tetang­ga bisa men­ja­di algo­jo, dan  bagaimana ketaku­tan bisa men­jadikan raky­at diam puluhan tahun. Teri­akan kaum tertin­das tak akan per­nah senyap atas masa kelam itu dan lagu akan selalu men­ja­di salah satu media mer­awat ingatan para kolek­tif pelawan penin­das HAM

Farid berhasil mem­bawakan peri­s­ti­wa per­son­al yang ia ala­mi dalam lagun­ya. Sir­rin, kakeknya dicu­lik lalu din­tro­gasi dan tidak per­nah kem­bali. Peri­s­ti­wa yang sama juga diala­mi oleh Mia Bus­tam di dalam bukun­ya “Dari Kamp Ke-Kamp” yang mana mencer­i­takan posko-posko salah sat­un­ya jef­fer­son, yang telah men­ja­di tem­pat perem­puan dile­cehkan, diperkosa bahkan dip­isahkan dari anaknya sebelum dibuang ke pen­jara Wirogu­nan atau dias­ingkan ke Kamp Pelantungan.

Trage­di keji itu juga diala­mi oleh Kingkin Rahayu seo­rang maha­siswi sekali­gus guru yang hidup di Yogyakar­ta.  Kingkin bersak­si pada sidang inter­na­tion­al peo­ple tri­bunal di Den Haag bah­wa ia di sik­sa bahkan sam­pai dite­lan­jan­gi oleh aparat dan ia  juga di sik­sa oleh salah salah satu guru besar uni­ver­si­tas di Yogyakarta.

Tan­pa ditanya saya diten­dang kepala saya. Dite­lan­jan­gi lagi. Dalam keadaan telan­jang dipegan­gi dua orang men­garah kepa­da pemerik­sa…” 

Di Sep­tem­ber 2026 ini, nam­paknya gen­erasi muda semakin jauh dari ingatan peri­s­ti­wa itu, dan lagu ini dap­at men­ja­di semacam jangkar atas ingatan yang mulai terkelu­pas. Seti­ap liriknya yang beriringan meno­lak ver­si sejarah yang ter­lalu bersih dan rapi sehing­ga dap­at mengem­ba­likan ribuan ceri­ta yang digariskan den­gan darah dan ketakutan.

Uca­pan ter­i­makasih pada Fstvlst  tidak akan cukup kare­na sudah men­cip­takan lagu jef­fer­son. Keti­ka peri­s­ti­wa 1965 selalu dia­baikan, Kata lawan akan selalu men­ja­di apre­si­asi ter­baik seir­ing Tuhan masih mem­berikan kesem­patan untuk terus men­dukung dulu,kini dan nan­ti.

Penulis: M. Kho­lil­ur Ridlo