Pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) tahun 2026 diwarnai sejumlah persoalan teknis, mulai dari perubahan Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis (Juklak-Juknis), miskomunikasi antar penyelenggara, pembagian atribut yang mendadak, hingga keterbatasan fasilitas ibadah. Persoalan tersebut muncul dalam keterangan sejumlah Mahasiswa Baru (Maba), Pendamping Maba, Senat Mahasiswa (SEMA) FUAD, serta panitia pelaksana.
Salah satu persoalan yang paling banyak disebut adalah perubahan informasi teknis menjelang pelaksanaan. Nasyandari Gita Megawardana mahasiswa baru Psikologi Islam mengaku harus menyesuaikan kembali perlengkapan setelah Juknis mengalami beberapa kali revisi. Ia menyebut Juknis telah dibagikan sekitar satu minggu sebelum kegiatan, tetapi kemudian mengalami dua hingga tiga kali perubahan. Perubahan tersebut, antara lain, menyangkut warna kain yang harus digunakan dan desain identitas peserta.
“Aku udah terlanjur beli-revisi, beli-revisi terus loh. Ini awalnya merah cabe. Tiba-tiba beberapa hari diganti merah marun, terus ID card-nya juga direvisi terus,” ujarnya.
Perubahan tersebut dinilai membebani Maba karena sebagian perlengkapan telah terlanjur dibeli. Menurutnya, penyampaian informasi seharusnya dilakukan setelah ketentuan benar-benar final.
Di sisi lain, Pendamping mengakui bahwa perubahan informasi dan miskomunikasi juga menjadi persoalan dalam proses pendampingan. Syauqi (bukan nama sebenarnya) dari prodi Psikologi Islam mengatakan tugas utama pendamping adalah memfasilitasi Maba dan membantu menjelaskan teknis kegiatan ketika terdapat kebingungan. Namun, proses tersebut terkadang terhambat karena informasi yang diterima pendamping belum seragam.
“Terkadang antara panitia satu dan panitia lainnya dan beda divisi itu kan. Kadang itu memberikan info di grup itu kurang jelas atau kadang juga ada yang berbeda,” tuturnya.
Nauval selaku ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FUAD mengakui peristiwa tersebut terjadi karena adanya salah ketik pada Juknis disebabkan lalainya panitia. Ia juga mengamini kurangnya komunikasi antar panitia dan pihak terkait menjadi hambatan dalam hal ini.
Persoalan koordinassi juga terlihat dalam pembagian kaos inagurasi peserta di hari pertama PBAK FUAD yang seharusnya dibagikan pada hari Minggu. Informasi mengenai pendataan nama dan Nomor Induk Mahasiswa untuk pengambilan kaos muncul secara mendadak ketika rangkaian kegiatan masih berlangsung. Pendamping kemudian harus mengumpulkan data Maba secara manual dalam waktu yang terbatas.
Siti (bukan nama sebenarnya) sebagai Pendamping mengaku bingung karena informasi tersebut belum disampaikan ketika pengarahan. Kondisi itu membuat sejumlah Maba belum mengambil kaos hingga kegiatan berakhir dan sebagian harus kembali untuk mengambilnya.
“Jujur heboh banget. Yang heboh pendamping sih, soalnya ya diburu-buru kuwi karena harus dikumpulkan datanya sebelum Forum Group Discussion (FGD),” ujarnya.
Masalah koordinasi juga berdampak pada jadwal kepulangan peserta pada PBAK FUAD hari pertama. Pengambilan kaos yang berlangsung menjelang malam membuat sebagian Maba masih berada di lokasi hingga mendekati waktu Isya’. Dani Faiz Kurniawan selaku Anggota Komisi II SEMA FUAD menilai kurangnya koordinasi antara pihak universitas, fakultas, dan panitia menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keterlambatan waktu pulang peserta.
Nauval menjelaskan bahwa pihak kampus sebelumnya tidak memiliki pembicaraan terkait pembagian kaos pada saat PBAK FUAD. Imbasnya panitia PBAK FUAD terutama Koordinator Lapangan (Korlap) kebingungan karena pembagian kaos itu dikembalikan ke fakultas masing-masing.
“Korlap akhire ya kebingungan lak moro-moro pembagian kaose iku dikembalikan ke fakultas masing-masing,” jelasnya.
Selain itu, keterbatasan fasilitas wudu menjadi persoalan ketika ratusan Maba harus menggunakan fasilitas yang tersedia secara bersamaan. Faiz yang melakukan pengawasan sejak tahap persiapan hingga evaluasi menyebut alokasi tempat ibadah belum sebanding dengan jumlah peserta yang mencapai sekitar 800 orang.
Menurut Faiz, fasilitas yang digunakan untuk salat dan wudu tersebar di beberapa lokasi, termasuk Gedung Prajna Paramita lantai dua, Letter L, Pusat Bahasa, dan mushola. Kondisi tersebut menyebabkan antrian dan mendorong sebagian Maba mencari fasilitas lain yang sebenarnya tidak diperuntukkan bagi peserta.
“Jumlah mahasiswa yang sekitar 800-an. Dan akhirnya itu ada sebagian Maba yang naik sampai tempat yang tidak seharusnya disiapkan oleh panitia,” jelasnya.
Mengenai hal itu Nauval memaparkan bahwa faktor kurangya air pada lantai dua hingga empat gedung Prajna Paramita menjadi penyebab. Akhirnya Korlap mengalihkan beberapa Maba ke ruang untuk wudhu dan salat.
“Mengenai membludaknya itu dikarenakan lantai dua airnya tidak bisa dipakai, kemudian lantai tiga dan empat juga sama, akhirnya dari Korlap mengalihkan beberapa Maba ke ruang bahasa untuk wudhu dan sholat,” paparnya.
Dari sisi kepanitiaan, persiapan PBAK disebut telah berlangsung sekitar dua setengah bulan, mulai dari pembentukan panitia, open recruitment, rapat-rapat, hingga rapat final. Namun, M. Fatkhur Roziq selaku Ketua Pelaksana mengakui terdapar kendala administratif, terutama dalam pengurusan perizinan dan pencairan dana.
“Memang dana cair setelah acara. Tapi dari kami HMPS nya kan banyak. Jadi Pinjam HMPS, ujarnya.
Selain persoalan teknis, PBAK FUAD 2026 menggunakan landasan hukum yang masih mengacu pada template 2016. Padahal telah terdapat pembaruan acuan regulasi pada 2024. Rohib Latiful Hannan selaku Steering Committee (SC) Materi, Ia mengakui bahwa penggunaan acuan lama terjadi karena bagian tersebut merupakan template yang digunakan dari tahun ke tahun. Ia bahkan mengaku baru mengetahui bahwa template tersebut berasal dari 2016.
“Memang saya kurang update perihal undang-undang tersebut. Landasan hukum itu memang template dari 2016,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembentukan tema PBAK tidak sekadar mengikuti template, melainkan melalui diskusi dan menggunakan sejumlah referensi akademik.
Persoalan ini menjadi bagian yang perlu dievaluasi karena materi PBAK sebagai pengenalan awal kehidupan akademik mahasiswa seharusnya menggunakan regulasi yang relevan dan terbaru. Pembaruan landasan hukum juga diperlukan agar informasi yang diberikan kepada mahasiswa baru memiliki dasar yang tepat.
Konsep PBAK FUAD 2026 mengusung tema yang mengkritisi arah pendidikan tinggi dan kondisi akademik. Rohib menjelaskan bahwa tema tersebut tidak sekadar dibuat sebagai slogan, melainkan melalui diskusi mengenai perubahan orientasi kampus, kehidupan akademik, serta kecenderungan mahasiswa yang semakin pragmatis.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui prosesi ruwatan, teatrikal, pembakaran nisan simbolis, serta penggunaan mawar putih. Mawar putih diposisikan sebagai simbol kematian dalam narasi acara, sedangkan nisan menggambarkan kritik terhadap kampus yang dinilai kehilangan arah akademiknya.
Meski terdapat berbagai persoalan, respons Maba terhadap kegiatan secara umum tetap dinilai cukup antusias. Siti menyebut Maba di kelompoknya yang ia dampingi aktif mengikuti kegiatan, termasuk secara sukarela mengajukan diri dalam pentas seni.
“Mereka juga cukup antusias seperti contoh ketika ini kan baru pensi ya. Nah, itu ada beberapa di kelompokku yang kayak mengajukan gitu loh,” ujar Siti.
Putri Varamidita sebagai mahasiswa baru mengapresiasi FGD dalam rangkaian PBAK FUAD menjadi salah satu kegiatan yang sangat efektif dalam memberi ruang diskusi dan membantu mahasiswa baru memahami materi dari perspektif yang lebih beragam.
“Kalau menurut saya efektif banget, soalnya bisa jadi open minded ya. Jadi kan bisa diskusi sama kakak-kakak, sama temen-temen itu ternyata mereka berpikir kritis banget. Jadi kita ikut berpikir kritis juga. Jadi seru, kalau kuliah itu beda banget sama sekolah. Kalau kuliah itu pemikirannya lebih kritis banget gitu,” katanya.
Melihat dinamika PBAK FUAD kali ini Nauval meminta maaf atas penyelenggaraan PBAK kali ini yang tidak lepas dar kendala-kendala yang terjadi. Disamping itu Ia juga berharap agar PBAK FUAD kedepanya tidak mengalami deretan problematika serupa pada tahun ini.
“saya mewakili daripada seluruh panitia SC maupun oc meminta maaf sebesar-besarnya atas banyaknya kekurangan di moment pbak tahun ini, dan ” ucapnya.
“Harapan saya semoga tahun besok PBAK FUAD semakin lebih baik, lancar, ketata, menggecarkan seuniversitas dan semakin baik untuk semuanya dan semoga Maba-Mabanya juga semakin mengetahui mengenai materi-materi yang telah di paparkan selama PBAK bukan hanya formalitas,” tambahnya.
Penulis: Nia Nurmaya
Redaktur: Haidar Noufal Alifi
Reporter: Kholil, Nala, Darma, Elma
Ilustrasi: Kholil
PBAK