Setiap tanggal 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia. Ini bukan sekadar perayaan yang terus berulang setiap tahun. Di dalam momentum ini, terdapat pengingat penting bahwa kemajuan yang kita nikmati saat ini tidak terlepas dari catatan historis para pendahulu yang telah mengkodifikasikan ilmu pengetahuan melalui kumpulan tulisan yang kini kita kenal sebagai buku.
Sering kali kita mendengar pepatah tentang buku: “Buku adalah jendela dunia,” atau “Buku adalah jembatan ilmu.” Pepatah-pepatah ini mungkin berasal dari kebijaksanaan masa lampau dan tersebar dari mulut ke mulut. Namun demikian, pepatah tetaplah pepatah. Yang lebih penting adalah bagaimana buku, sebagai produk historis, benar-benar telah membawa peradaban menuju kemajuan. Jejak literasi dan sumber-sumber bacaan dapat ditelusuri sejak masa prasejarah hingga pemikiran para filsuf besar yang meletakkan dasar pemahaman kita terhadap dunia melalui bahasa dan literatur, mulai dari Aristoteles yang mengklasifikasikan kata ke dalam sepuluh kategori, hingga Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai Bapak Linguistik.
Sejarah buku pada dasarnya telah membentang sepanjang sejarah peradaban manusia. Shirley Biagi dalam bukunya Media Impact: An Introduction to Mass Media (2010), menjelaskan bahwa kemunculan buku berkaitan erat dengan sejarah komunikasi dan komunikasi memerlukan tulisan, yang disebutnya sebagai bagian dari revolusi komunikasi. Jika ditelusuri lebih jauh, bentuk komunikasi sudah muncul sejak sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi, ketika manusia mulai memahatkan gambar-gambar sebagai sarana ekspresi di permukaan batu. Selanjutnya, pada tahun 2.500 tahun sebelum masehi, bangsa Mesir menemukan daun lontar (papyrus) untuk ditulisi berbagai informasi.
1.000 tahun sebelum masehi kemudian terjadi revolusi informasi komunikasi pertama dengan dimulainya penulisan fonetik (bidang linguistik tentang pengucapan bunyi dan ujar). Setelah itu, 200 tahun sebelum masehi bangsa Yunani menyempurnakan fonetik dengan cara menulis pada kertas dari kulit. Seratus tahun sebelum masehi, bangsa China mulai menemukan kertas dan memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan komunikasi.
Perkembangan literatur dapat ditelusuri secara kronologis, dimulai pada tahun 1300 ketika bangsa Eropa mulai menggunakan kertas sebagai media komunikasi. Selanjutnya, pada tahun 1445, bangsa Tiongkok menciptakan mesin cetak dari tembaga. Pada tahun yang sama, Biagi mencatat bahwa telah terjadi revolusi informasi komunikasi kedua, yang ditandai dengan ditemukannya mesin cetak bergerak.
Kemudian, pada tahun 1640, bangsa Amerika menerbitkan buku untuk pertama kalinya. Hal ini dilanjutkan dengan penerbitan surat kabar pertama di Amerika Serikat pada tahun 1690. Pada 1741, Amerika Serikat kembali mencatat sejarah dengan menerbitkan majalah pertamanya. Sementara itu, pada tahun 1877, Thomas Edison mendemonstrasikan gramofon untuk pertama kalinya.
Pada tahun 1927, film layar lebar pertama yang menggunakan suara, The Jazz Singer, ditayangkan di New York. Selanjutnya, pada tahun 1939, stasiun TV NBC memulai siaran perdananya dengan menayangkan Gelanggang Dunia New York. Dalam ajang tersebut, televisi dengan ukuran 5 dan 9 inci turut dipamerkan, dengan harga berkisar antara 199,50 hingga 600 dolar.
Dalam buku yang sama, Biagi juga menjelaskan bahwa revolusi informasi komunikasi ketiga terjadi pada tahun 1951, ditandai dengan ditemukannya komputer digital yang mampu memproses, menyimpan, dan mengambil kembali informasi. Kemudian, pada tahun 1980, Komisi Komunikasi Federal (Federal Communications Commission/FCC) mulai melakukan deregulasi terhadap media penyiaran. Sembilan tahun kemudian, pada 1989, Tim Berners-Lee mengembangkan halaman web pertama di internet.
Tahun 2008 menjadi tonggak penting dalam dunia periklanan, karena internet mulai menjadi sarana utama iklan secara global, dengan estimasi pendapatan mencapai 23 miliar dolar per tahun. Kemajuan teknologi komunikasi ini pada akhirnya melahirkan berbagai bentuk baru dalam mengakses informasi, termasuk membaca buku melalui smartphone hingga munculnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Secara historis, AI juga berkaitan dengan revolusi komunikasi ketiga, dengan ide awalnya dicetuskan oleh Alan Mathison Turing, seorang ahli logika dan pelopor komputer asal Inggris. Istilah “Artificial Intelligence” sendiri muncul pertama kali pada tahun 1956 dalam Konferensi Dartmouth di Amerika Serikat
Meskipun sempat mengalami masa stagnasi yang dikenal sebagai AI Winter, perkembangan teknologi akhirnya memunculkan ledakan data yang diunggah di internet, peningkatan daya komputasi, serta algoritma yang semakin canggih, yang akhirnya membuat AI bangkit kembali dan menjadi bagian dari kehidupan modern. Namun, kemajuan pun juga membawa hal buruk. Kemudahan dalam mengakses informasi secara instan melalui AI dan internet sering kali membuat manusia meninggalkan proses alamiah dalam membaca dan menulis. Kecenderungan untuk mencari informasi yang lebih cepat dan instan telah menurunkan minat terhadap buku sebagai sarana informasi dan pemahaman dibandingkan AI.
Yuval Noah Harari dalam rangka memperingati hari ulang tahun bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind yang ke-10 menjelaskan pesatnya perkembangan teknologi AI dengan cara yang unik, dengan membuat tulisan kata pengantar baru yang dimuat di bukunya menggunakan Chat-GPT sebelum melakukan disclaimer setelah beberapa Alinea kata pengantar baru tersebut selesai.
“Kata-kata barusan bukan ditulis oleh saya Yuval Noah Harari, melainkan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) yang diajari menulis seperti saya, Ketika diminta menulis kata pengantar baru untuk ulang tahun buku saya yang ke-10 Sapiens, GPT melahap buku-buku, artikel-artikel, dan wawancara-wawancara saya, juga miliaran kalimat lain dari internet, kemudian menggunakan bahan mentah itu untuk menghasilkan teks tadi. Membaca karya GPT yang meniru tulisan saya, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, saya tak terkesan. Sekarang saya merasa masih aman GPT belum akan mengambil alih pekerjaan saya, minimal tidak dalam beberapa tahun kedepan” ujar Yuval dalam bukunya Sapiens edisi ulang tahun ke-10.
Di sinilah urgensi Hari Buku Sedunia. Bukan hanya soal memperingati dan mempertahankan eksistensi buku, jika buruk kata zaman ini adalah masa menjelang kepunahan buku dan segala literatur. Tapi Hari Buku Sedunia sekaligus moment untuk merefleksikan bagaimana memposisikan buku dalam era digital yang serba cepat segala perkembangannya. Apakah buku masih menjadi pilihan utama yang relevan dalam mencari dan membentuk pemahaman? Atau kita justru mulai perlahan-lahan melupakan proses alamiah, hanya demi kecepatan instan? Maka dengan peringatan hari Buku Sedunia setiap 23 April ini seharusnya menjadi alarm untuk kembali sadar bahwa di tengah semua kemajuan teknologi, buku harus tetap relevan sebagai pondasi intelektual dan budaya manusia secara historis yang harus dijunjung tinggi.
Penulis: Wahyu Firmansyah
Ilustrator: Nadhira Anfa
Redaktur: Mustofa Ismail
AI? Refleksi Hari Buku Sedunia">