Tulisan-tulisan kalian ter­lalu tajam. Sesekali dong bikin beri­ta yang mem­bang­gakan kam­pus.

Kali­mat itu bukan hal baru bagi kami, para pers maha­siswa. Ia datang bukan dari orang asing, melainkan dari pihak kam­pus sendiri. Sebuah per­mintaan yang ter­den­gar wajar, tapi sesung­guh­nya menyi­ratkan sesu­atu yang mengkhawatirkan: men­gan­cam kebe­basan pers mahasiswa.

Di ten­gah iklim kam­pus yang seharus­nya men­jun­jung ting­gi kebe­basan berpikir dan kebe­basan akademik, kri­tik masih ser­ing diang­gap seba­gai ben­tuk pem­berontakan atau bahkan per­musuhan. Pada­hal, bagi kami yang bek­er­ja di ruang redak­si, menulis kri­tik bukan kare­na kami mem­ben­ci kam­pus. Jus­tru kare­na kami peduli.

Kri­tik adalah ben­tuk cin­ta yang pal­ing jujur. Ia mungkin tak man­is, tak menye­nangkan, bahkan bisa menyak­itkan. Tapi di balik seti­ap kri­tik, ada hara­pan agar sesu­atu men­ja­di lebih baik. Pers maha­siswa dalam hal ini  bukan sekadar peliput kegiatan kam­pus, melainkan juga pen­ja­ga nurani pub­lik akademik.

Kri­tik Seba­gai Fungsi Kon­trol Mahasiswa

Men­ja­di maha­siswa berar­ti memikul tang­gung jawab sosial. Dalam Tri Dhar­ma Per­gu­ru­an Ting­gi, maha­siswa tak hanya ditun­tut untuk bela­jar, tapi juga untuk mengab­di kepa­da masyarakat dan mengem­bangkan kehidu­pan berbangsa. Fungsi kon­trol ter­hadap kebi­jakan dan arah kam­pus adalah bagian dari pengab­di­an itu.

Keti­ka kami mengkri­tik, mis­al­nya, soal transparan­si dana kegiatan maha­siswa, atau soal kebi­jakan rek­torat yang ter­tut­up dan kurang meli­batkan maha­siswa, itu bukan berar­ti kami ingin men­jatuhkan kam­pus. Jus­tru seba­liknya, kami ingin kam­pus men­ja­di rumah bersama yang sehat, ter­bu­ka, dan jujur ter­hadap war­ganya sendiri.

Tan­pa fungsi kon­trol, kam­pus akan men­ja­di ruang yang ham­pa reflek­si. Semua ber­jalan seper­ti biasa, tapi tan­pa ada yang men­gorek­si, tak ada yang mem­per­bai­ki. Kri­tik hadir untuk menyen­til, agar ada per­baikan yang bisa dimulai.

Tan­pa Kri­tik, Kam­pus Kehi­lan­gan Reflek­si Diri

Bayangkan jika semua media kam­pus hanya berisi beri­ta-beri­ta kegiatan ser­e­mo­ni­al yang isinya penuh puja-puji. Apakah itu mem­bu­at kam­pus ter­li­hat baik? Mungkin iya, di per­mukaan. Tapi di balik itu, sesung­guh­nya kita sedang mem­ban­gun budaya semu: budaya menye­nangkan atasan, bukan mem­bela kebenaran.

Kri­tik itu seper­ti kaca ia meman­tulkan wajah kita sendiri, lengkap den­gan luka dan cela. Dan terkadang, pihak kam­pus eng­gan berka­ca kare­na takut meli­hat keku­ran­gan­nya sendiri. Tapi kam­pus yang sehat jus­tru adalah kam­pus yang berani bercermin.

Seba­gai con­toh, keti­ka pers maha­siswa mengkri­tik min­im­nya ruang diskusi ter­bu­ka, atau ketim­pan­gan akses maha­siswa ter­hadap bea­siswa, kami hanya sedang meny­orot fak­ta. Fak­ta yang kadang tak ter­li­hat kare­na ter­tut­up eufo­ria prestasi yang terus diumbar.

Pers Maha­siswa dan Sejarah Perlawanan

Tak bisa disangkal, pers maha­siswa pun­ya sejarah pan­jang dalam per­juan­gan sosial poli­tik di Indone­sia. Dari masa Orde Baru hing­ga refor­masi, suara maha­siswa di media kam­pus men­ja­di salah satu instru­men pent­ing dalam melawan pem­bungka­man dan ketidakadilan.

Kita men­ge­nal trage­di Malari, aksi-aksi 1998, dan ger­akan Refor­masi Diko­rup­si semua memi­li­ki benang mer­ah yang sama: maha­siswa dan kri­tiknya memainkan per­an sen­tral dalam peruba­han. Apakah kita lupa bah­wa kam­pus adalah tem­pat lahirnya pemiki­ran kri­tis, bukan tem­pat menyem­bun­yikan keny­ataan pahit?

Pers maha­siswa bukan musuh birokrasi kam­pus. Kami hanya ingin mengem­ba­likan kam­pus seba­gai ruang pem­be­la­jaran yang jujur, adil, dan ter­bu­ka ter­hadap masukan.

Men­jawab Ketaku­tan: Kri­tik Tidak Merusak, Tapi Menguatkan

Salah satu alasan umum yang ser­ing dilon­tarkan oleh pihak kam­pus adalah: “Kalau kalian ter­lalu banyak mengkri­tik, cit­ra kam­pus bisa rusak.” Kali­mat ini menun­jukkan beta­pa cit­ra ser­ingkali diang­gap lebih pent­ing dari­pa­da realita.

Pada­hal, apa yang benar-benar merusak cit­ra kam­pus bukan­lah kri­tik, melainkan kebi­jakan-kebi­jakan yang anti-kri­tik. Keti­ka kam­pus mem­bungkam suara maha­siswa, jus­tru saat itu­lah nilai-nilai akademik tercoreng.

Cit­ra yang kuat lahir dari keberan­ian meng­hadapi masalah, bukan dari upaya menut­up-nutupi masalah itu. Maka, jika kam­pus ingin ter­li­hat baik, mulailah den­gan men­ja­di baik, bukan den­gan mem­bungkam kritik.

Kri­tik Bukan Per­musuhan, Tapi Kepedulian

Seba­gai penulis dan bagian dari pers maha­siswa, kami tak sedang menikmati posisi seba­gai opo­sisi. Men­ja­di pengkri­tik bukan posisi yang nya­man. Kami juga ingin menulis hal-hal posi­tif, men­gapre­si­asi keber­hasi­lan kam­pus, dan men­gangkat tokoh-tokoh inspi­ratif dari lingkun­gan kita sendiri.

Namun keti­ka ada ketim­pan­gan, keti­dakadi­lan, atau prak­tik-prak­tik tak transparan, kami tidak bisa diam. Diam berar­ti menyetu­jui. Dan menyetu­jui berar­ti mengkhi­a­nati tugas kami seba­gai mahasiswa.

Kri­tik bukan berar­ti mem­ben­ci. Jus­tru seba­liknya, kri­tik adalah wujud cin­ta yang tulus cin­ta yang tak ingin kam­pus ini tengge­lam dalam pujian pal­su. Kami ingin kam­pus ini tum­buh dan dewasa, seba­gaimana kami juga sedang bertum­buh melalui pros­es berpikir dan bertindak.

Kri­tik seba­gai Vit­a­min Demokrasi Kampus

Sudah wak­tun­ya kam­pus meli­hat kri­tik seba­gai vit­a­min, bukan racun. Kri­tik menyem­buhkan, bukan menyak­itkan. Ia menum­buhkan keberan­ian berpikir, bukan menebar kebencian.

Jika kam­pus ingin dihor­mati, maka mulailah den­gan meng­hor­mati suara-suara berbe­da di dalam­nya. Bukankah kam­pus seharus­nya men­ja­di ruang pal­ing demokratis untuk berpikir dan bersuara?

Dan sekali lagi kami tegaskan: kri­tik bukan berar­ti mem­ben­ci. Ia adalah ben­tuk cin­ta yang tak berpura-pura.

Penulis: Amelia Alfi Karimah
Ilus­trasi: Sifana Sofia
Redak­tur: Musto­fa Ismail