Melalui surat pengu­mu­man No.07/Un.18/01/2025, Uni­ver­si­tas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah Tulun­ga­gung (SATU) secara res­mi mengu­mumkan per­al­i­han sis­tem infor­masi akademik dari Smart­Cam­pus ke Sis­tem Infor­masi Akademik (Siakad). Kepu­tu­san ini men­ja­di top­ik hangat di kalan­gan maha­siswa dan staf pen­ga­jar, mengin­gat Smart­Cam­pus pada perten­ga­han tahun 2022 sudah per­nah digu­nakan seba­gai plat­form uta­ma untuk berba­gai kegiatan akademis. Pihak kam­pus yang menan­gani Siakad men­je­laskan bah­wa per­al­i­han ini didasari oleh eval­u­asi men­dalam dan per­tim­ban­gan strate­gis untuk meningkatkan efisien­si, sta­bil­i­tas, dan kemam­puan pengem­ban­gan sis­tem di masa mendatang.

Banyak maha­siswa merasa resah ter­hadap per­al­i­han yang ter­ja­di, salah sat­un­ya adalah Fauzi, maha­siswa Pen­didikan Aga­ma Islam (PAI). Fauzi menanyakan per­i­hal per­al­i­han sis­tem lama ke sis­tem baru.

Kena­pa keti­ka ter­ja­di kendala dari sis­tem yang lama, kena­pa lebih memil­ih mem­bu­at sis­tem baru dari­pa­da mem­per­bai­ki?” tanya Fauzi.

Fauzi turut men­gungkap bah­wa seharus­nya sis­tem lama dikem­bangkan kare­na lebih efisien dan efek­tif diband­ingkan harus men­gubah­nya men­ja­di sis­tem yang baru.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Rid­ho, salah satu maha­siswa UIN SATU yang men­gungkap­kan kesuli­tan yang dihadapinya saat beradap­tasi den­gan sis­tem baru. Ia men­gungkap­kan kebin­gun­gan­nya saat ingin masuk ke Siakad.

Awal­nya bin­gung cara masuknya (ke dalam Siakad), kare­na ter­biasa memakai Smart­Cam­pus,” ungkap Ridho.

Hal terse­but meru­pakan keluhan yang banyak dihadapi oleh maha­siswa di saat Smart­Cam­pus bertran­sisi ke sis­tem baru, kare­na maha­siswa telah ter­biasa dan lebih nya­man den­gan sis­tem lama.

Ahmad Habibi, seba­gai staf IT UIN SATU, men­je­laskan alasan uta­ma di balik per­al­i­han ini adalah ter­pusat pada Smart­Cam­pus yang berpoten­si menim­bulkan masalah overload.

Kalau dulu Smart­Cam­pus kan banyak sub-sub­nya, itu kan lang­sung jadi satu serv­er, makanya keti­ka satu mata kuli­ah lah, ibarat­nya itu dia itu over­load bera­da pada keselu­ruhan,” jelasnya.

Dia men­con­tohkan situ­asi saat pengisian IRS (Isian Ren­cana Stu­di), di mana lon­jakan akses secara bersamaan dap­at menye­babkan sis­tem men­ja­di lam­bat atau bahkan tidak dap­at diak­ses. Maka dirubahlah ke Siakad den­gan dijadikan beber­a­pa por­tal. Den­gan demikian, jika satu bagian sis­tem men­gala­mi masalah, bagian lain tetap dap­at berfungsi den­gan baik, sehing­ga dap­at mem­i­ni­mal­isir gang­guan bagi pengguna.

Masalah lain adalah kesuli­tan saat login ke Siakad. Habibi men­je­laskan bah­wa hal ini ser­ingkali dise­babkan kare­na maha­siswa ter­biasa meny­im­pan pass­word Smart­Cam­pus yang akhirnya lupa saat dima­sukkan ke Siakad. Den­gan per­al­i­han ke Sin­gle Sign-On (SSO), maha­siswa per­lu mengin­gat kata san­di baru mere­ka. Dia juga men­yarankan maha­siswa untuk men­catat kata san­di mere­ka den­gan aman atau meng­gu­nakan fitur reset pass­word jika lupa.

Keung­gu­lan Siakad

Keung­gu­lan Siakad ter­letak pada flek­si­bil­i­tas dan kemu­da­han dalam men­jalin ker­ja sama den­gan pihak keti­ga. Habibi men­je­laskan bah­wa kon­trak Smart­Cam­pus telah berakhir dan sulit untuk dikem­bangkan lebih lan­jut. Semen­tara itu, Siakad menawarkan pelu­ang kolab­o­rasi yang lebih baik den­gan pengem­bang eksternal.

Kalau Siakad­nya itu kan ker­ja samanya mudah, pihak keti­ganya mudah, juga dike­nal pihak kam­pus sini, jadi kalau ada masalah itu komu­nikasinya mudah,” ungkapnya.

Kemam­puan untuk berko­mu­nikasi dan bek­er­ja sama den­gan pengem­bang secara efek­tif san­gat pent­ing untuk memas­tikan sis­tem dap­at terus dit­ingkatkan dan dis­esuaikan den­gan kebu­tuhan universitas.

Namun, per­al­i­han ini masih menim­bulkan masalah. Beber­a­pa maha­siswa mela­porkan berba­gai keluhan, seper­ti jad­w­al yang tidak muncul, infor­masi dosen yang hilang, dan nilai yang tidak ter­catat den­gan benar.

Pihak uni­ver­si­tas men­gakui adanya per­masala­han ini dan menang­gapinya seba­gai bagian dari pros­es adap­tasi. “Namanya juga baru per­pin­da­han, itu pro­di-pro­di juga masih mem­pela­jari sis­tem baru ini atau ‘sek grayah-grayah’ (masih bela­jar).” Habibi men­je­laskan bah­wa beber­a­pa kuriku­lum belum sepenuh­nya ter­in­te­grasi ke dalam sis­tem baru, yang menye­babkan seba­gian infor­masi tidak tampil den­gan benar. Pihak kam­pus ber­jan­ji untuk terus melakukan per­baikan dan mem­berikan dukun­gan kepa­da fakul­tas dan maha­siswa sela­ma masa tran­sisi ini.

Menariknya, sebelum meng­gu­nakan Smart­Cam­pus, UIN SATU sebe­narnya per­nah meng­gu­nakan Siakad. Namun, kon­trak yang singkat men­ja­di kendala dalam pengem­ban­gan sistem.

Dulu itu kan Pak Rek­tor pen­gen­nya semuanya all-in-one dijadikan satu. Hanya, keti­ka ber­jalan buat kon­trak berikut­nya hanya satu tahun. Itu keti­ka namanya Siakad, itu nggak bisa satu ber­jalan, Mbak. Min­i­mal harus satu gen­erasi, empat tahun sam­pai lulus agar tahu masalah-masalah­nya itu apa,” jelas Habibi.

Kon­trak seba­gai alasan uta­ma peralihan

Kon­trak jang­ka pen­dek ini meng­ham­bat kemam­puan uni­ver­si­tas untuk mengi­den­ti­fikasi dan menye­le­saikan masalah secara kom­pre­hen­sif. Den­gan kon­trak yang lebih pan­jang, dihara­p­kan Siakad dap­at berkem­bang secara opti­mal dan mem­berikan man­faat yang mak­si­mal bagi selu­ruh komu­ni­tas akademik.

Ke depan­nya, Siakad akan men­ja­di plat­form uta­ma untuk kegiatan akademik di UIN SATU. Meskipun demikian, beber­a­pa fitur seper­ti KKN (Kuli­ah Ker­ja Nya­ta), PPL (Prak­tik Pen­gala­man Lapan­gan), dan tugas akhir masih akan meng­gu­nakan Smart­Cam­pus untuk semen­tara wak­tu. Pihak kam­pus mene­gaskan bah­wa Smart­Cam­pus masih dap­at digu­nakan untuk men­gelo­la data yang sudah ada, meskipun kon­trak den­gan pengem­bang telah berakhir.

Dari PTIPD belum bisa ngem­ban­gin, cuma men­gen­da­likan saja, tidak sam­pai dikem­bangkan ya. Kalau ada error-error itu masih bisa ditan­gani, cuma kalau pengem­ban­gan sam­pai hari ini udah nggak bisa, udah kesuli­tan. Kare­na Siakad itu aplikasi besar, yang menan­ganinya juga mem­bu­tuhkan ban­tu­an banyak orang, bukan cuma satu orang,” papar Habibi.

Terkait perbe­daan isi antara Siakad dan Smart­Cam­pus, seper­ti adanya menu baru yaitu menu agen­da kegiatan, Habibi men­je­laskan bah­wa hal ini dilakukan untuk men­gu­ran­gi beban sistem.

Itu jadi dipec­ah-pec­ah supaya tidak berat. Kalau Smart­Cam­pus kan jadi satu rumah, kalau satu masalah itu ibarat­nya yang lain ikut berim­bas. Kalau dipec­ah, jadi yang satu berat, yang lain tetap bisa jalan, makanya dipec­ah-pec­ah gitu,” jelasnya.

Den­gan memec­ah sis­tem men­ja­di mod­ul-mod­ul ter­pisah, dihara­p­kan kin­er­ja sis­tem secara keselu­ruhan dap­at ditingkatkan.

Dia juga meny­oroti bah­wa Siakad memi­li­ki kemam­puan untuk memerik­sa nilai maha­siswa den­gan lebih detail. Siakad lebih ketat dalam meman­tau kin­er­ja akademik maha­siswa dan mem­berikan kon­sekuen­si yang sesuai jika maha­siswa tidak memenuhi stan­dar yang ditetapkan.

Iya, lebih detail Siakad. Jadi Siakad sekarang lebih spe­si­fik. Jadi, kalian nggak kuli­ah ya, jatah­mu berikut­nya berku­rang. Smart­Cam­pus kan endak dulu. Kalau kalian nggak kuli­ah, jatah­mu tetap utuh. Kalau sekarang nggak bisa. Kalau kalian nggak kuli­ah, nilainya E. Keti­ka semes­ter berikut­nya, jatah­mu SKS berku­rang,” jelasnya.

Selain itu, Siakad juga memu­dahkan pros­es peruba­han kelas mata kuli­ah. “Sekarang bisa, ting­gal prodinya sudah mem­pela­jari belum. Sekarang mudah kok, ting­gal ngek­lik. Yang nggak pent­ing di-can­cel, kemu­di­an dima­sukkan IRS mata kuli­ah yang baru. Nama maha­siswa dima­sukkan dulu, nan­ti kelu­ar mata kuli­ah terus bisa. Ting­gal prodinya sudah bela­jar atau belum. Masalah­nya ting­gal di prodinya,” pungkas Habibi.

Meskipun masih dalam tahap awal imple­men­tasi, Habibi opti­mistis bah­wa Siakad akan mem­berikan man­faat yang sig­nifikan bagi UIN SATU. Den­gan eval­u­asi dan per­baikan berke­lan­ju­tan, Siakad dihara­p­kan dap­at men­ja­di solusi yang lebih baik untuk pen­gelo­laan infor­masi akademik dan men­dukung pros­es bela­jar men­ga­jar di universitas.

Penulis: Bel­la Nur­jan­nah
Reporter: Aina Nur, Nad­hi­ra Anfa, Bel­la Nur­jan­nah
Edi­tor: Musto­fa Ismail