Cum laude, label impian maha­siswa yang menggam­barkan lulu­san per­gu­ru­an ting­gi lewat capa­ian Indeks Prestasi Kumu­lat­ifnya (IPK). Ter­den­gar eksklusif nan elite kala itu, keti­ka hanya segelin­tir wisu­dawan yang bisa men­ca­painya, sehing­ga perusa­haan ker­ja mudah dalam men­yaring maha­siswa berkom­pe­ten­si ting­gi hanya den­gan meli­hat label cum laude yang dim­i­li­ki. Apalah daya sekarang ini, maha­siswa gam­pang dicatut label cum laude sehing­ga inflasi nilai di dunia per­gu­ru­an ting­gi ter­ja­di. Hal ini men­ja­di dampak buruk bagi esen­si IPK cum laude yang men­ja­di sim­bol kual­i­tas ung­gul mahasiswa.

Berbicara Inflasi tak melu­lu soal pan­gan dan uang. Seti­ap hal keti­ka terus-menerus men­gala­mi kenaikan bakal ter­ja­di yang namanya inflasi, seper­ti kenaikan jum­lah uang yang dikelu­arkan oleh negara dap­at berak­i­bat pada kemerosotan nilai mata uang. Sama hal­nya den­gan IPK, bila seti­ap kam­pus menaikkan jum­lah maha­siswa berpredikat cum laude, kemerosotan kom­pe­ten­si maha­siswa juga akan terjadi.

Per­me­ndik­bud No. 3 Tahun 2020 men­je­laskan, stan­dar dikatakan maha­siswa cum laude apa­bi­la nilai IPK men­ca­pai 3,50 ke atas. Meli­hat saat ini nilai IPK 3,50 mudah dida­p­at, cum laude men­ja­di hal yang umum dim­i­li­ki mahasiswa.

Meningkat­nya cum laude dap­at dil­i­hat melalui anal­i­sis deduktif.id men­ge­nai jum­lah wisu­dawan cum laude di Insti­tut Teknolo­gi Ban­dung (ITB). Mulai tahun 2020 sam­pai tahun 2023, jum­lah maha­siswa cum laude rata-rata di atas 45% dari total wisu­dawan seti­ap tahun­nya, berbe­da dari tahun 2013 yang hanya memi­li­ki 568 maha­siswa cum laude dari 4.000 total wisu­dawan, atau sebe­sar 14%. 

Tak hanya ter­ja­di di ITB, hal ini juga dirasakan di selu­ruh kam­pus Indone­sia. Diperte­gas oleh data Tirto.id yang men­catat bertam­bah­nya rata-rata IPK nasion­al dari 3,18 pada tahun 2018 men­ja­di 3,39 pada tahun 2023. 

Fenom­e­na terse­but dipicu oleh stan­dar akred­i­tasi dari Badan Akred­i­tasi Nasion­al Per­gu­ru­an Ting­gi (BAN-PT). Dalam mengeval­u­asi aspek pen­didikan dan pen­ga­jaran pada Trid­har­ma Per­gu­ru­an Ting­gi, rata-rata IPK ser­ing kali dijadikan salah satu indika­tor keber­hasi­lan. Aki­bat­nya, per­gu­ru­an ting­gi cen­derung beru­paya men­ja­ga tren IPK maha­siswa tetap ting­gi demi menga­mankan predikat unggul.

Sis­tem eval­u­asi dosen turut men­ja­di fak­tor mudah­nya men­ca­pai cum laude. Pasal­nya, maha­siswa diper­si­lakan meni­lai bagaimana kin­er­ja dosen sela­ma men­ga­jar satu semes­ter, mulai dari predikat “san­gat baik” sam­pai “san­gat tidak baik”. Sis­tem ini buruk saat maha­siswa mem­beri predikat “san­gat tidak baik” pada dosen­nya kare­na dikasih nilai di bawah C. Alhasil, dosen mem­berikan nilai A agar tidak dini­lai jelek oleh mahasiswa.

Meli­hat real­i­tas dari ked­ua fak­tor di atas, cara men­ca­pai nilai A sekarang san­gat­lah mudah. Hadir tiap ada mata kuli­ah dan menger­jakan tugas saja berke­mu­ngk­i­nan bisa men­da­p­at nilai A atau B+. Apala­gi diim­ban­gi den­gan aktif bertanya dan berdiskusi.

Fasil­i­tas mod­ern Arti­fi­cial Intel­li­gence (AI) yang memu­dahkan pen­car­i­an ref­er­en­si, turut menyum­bang kenaikan IPK di luar dari sis­tem akred­i­tasi dan eval­u­asi dosen. Den­gan hanya duduk meng­hadap lap­top pun bisa men­gak­ses 50 rujukan. Berbe­da den­gan masa lam­pau yang harus berke­lil­ing dunia untuk men­da­p­at satu kata bermak­na. Jika kemu­da­han ini tidak diim­ban­gi oleh pedo­man akademisi, maka nilai IPK naik beriringan den­gan kaburnya mutu akademisi.

Inflasi IPK bertang­gung jawab atas hilangnya stan­dar kual­i­tas lulu­san di mata indus­tri. Den­gan banyaknya lulu­san cum laude, stan­dar perusa­haan akan berbe­da. Mere­ka akan meli­hat dari mana per­gu­ru­an tingginya, ter­akred­i­tasi ung­gul atau tidak. Belum lagi keti­ka perusa­haan meli­hat lulu­san per­gu­ru­an ting­gi den­gan nilai pas-pasan ser­ta ter­akred­i­tasi ren­dah. Mere­ka tidak bisa masuk di pasar kerja.

Berdasarkan penelusuran Deduktif.id tahun 2024 di situs indeed.com (Google-nya lowon­gan ker­ja), menun­jukkan 64,5% perusa­haan men­syaratkan min­i­mal IPK 3,5 untuk masuk ke tahap wawan­cara. Dilan­jut 28,3% perusa­haan yang men­can­tumkan IPK 3,0–3,4 seba­gai syarat, dan hanya 7,2% perusa­haan yang masih mau mener­i­ma pela­mar den­gan IPK 2,75. Hilang sudah marta­bat maha­siswa cum laude jika diben­turkan den­gan semua itu.

Logis jika meli­hat data Kementer­ian Kete­na­gak­er­jaan bah­wa angka pen­gang­gu­ran dari maha­siswa hing­ga perten­ga­han tahun 2025, ter­da­p­at 1 juta dari 7,28 juta pen­gang­gu­ran di Indone­sia. Fak­ta terse­but meny­atakan cum laude saja tidak cukup. Perkem­ban­gan di luar mata kuli­ah lewat organ­isasi, pelati­han, dan mag­a­ng harus dilakukan seba­gai langkah menghias Cur­ricu­lum Vitae (CV). Maha­siswa harus sadar IPK sekarang hanyalah ger­bang untuk wawancara.

Mengem­ba­likan marta­bat cum laude sekarang tidak­lah gam­pang. Keja­di­an inflasi ini sulit ditan­gani tapi bisa diim­ban­gi. Pen­in­jauan ulang ter­hadap rentang nilai akademik per­lu ada keje­lasan kem­bali men­ge­nai mak­na nilai A, A‑, B+, dan B. Dosen harus lebih berani mem­beri nilai objek­tif kepa­da maha­siswa sia­pa yang layak men­da­p­atkan nilai B ke atas. Den­gan begi­tu, nilai IPK tidak hanya angka tan­pa esensi.

Seba­liknya maha­siswa harus bijak dalam meng­gu­nakan sys­tem eval­u­asi dosen. Adanya sys­tem ini bukan untuk meni­lai kebaikan dosen dalam mem­berikan nilai A, melainkan agar men­da­p­at hak pem­be­la­jaran berlan­daskan profesionalitas.

Peni­la­ian ter­hadap label cum­laude harus berbe­da dari biasanya, Meli­hat IPK saja tidak cukup, sep­ak ter­jang maha­siswa dari segi organ­isasi dan prestasi juga harus dil­i­hat. Den­gan begi­tu lulu­san cum­laude hanya akan dica­pai oleh mere­ka yang layak.

Penulis: Haidar Noufal
Redak­tur: Sifana Sofia