Dalam teori demokrasi rep­re­sen­tatif, wak­il raky­at (par­lemen) ide­al­nya mere­flek­sikan aspi­rasi kon­stituen, men­jamin keter­li­batan pub­lik, dan men­gawasi jalan­nya ekseku­tif. Namun, real­i­tas DPR RI menun­jukkan bah­wa insti­tusi ini ten­gah meng­hadapi kri­sis legit­i­masi rep­re­sen­tatif. Mes­ki secara for­mal mengk­laim seba­gai wak­il raky­at, DPR ker­ap gagal dalam prak­tik untuk mem­per­juangkan suara pub­lik, melainkan lebih banyak melayani kepentin­gan inter­nal dan elit politik.

Transparan­si Leg­is­lasi: Ilusi Keterbukaan

Salah satu masalah pal­ing struk­tur­al adalah min­im­nya transparan­si dalam pros­es leg­is­lasi DPR. Berdasarkan peman­tauan Indone­sian Par­lia­men­tary Cen­ter (IPC), sep­a­n­jang peri­ode 2017–2021, dari 402 rap­at pem­ben­tukan undang-undang, hanya 33 risalah rap­at yang dipub­likasikan artinya hanya sek­i­tar 0,08% dari total rap­at. IPC men­je­laskan bah­wa keter­batasan jum­lah perisalah (perekam risalah) di DPR men­ja­di salah satu akar masalah. Secara ide­al, DPR memer­lukan 55 perisalah leg­is­latif dan 110 asis­ten perisalah, tetapi real­i­tas­nya jauh tert­ing­gal: hanya sek­i­tar 30 perisalah dan 18 asis­ten perisalah. Aki­bat keku­ran­gan sum­ber daya ini, pros­es pem­bu­atan risalah san­gat lam­bat: mulai dari tran­skrip­si, ver­i­fikasi bahan rap­at oleh alat kelengka­pan dewan, hing­ga publikasi.

Selain itu, kri­te­ria rap­at ter­tut­up dan petun­juk tek­nis risalah belum jelas, sehing­ga sejum­lah rap­at yang seharus­nya ter­doku­men­tasi tidak terse­dia untuk pub­lik. Keti­adaan risalah juga berdampak hukum: menu­rut Tata Tert­ib DPR (Per­at­u­ran DPR No. 1 Tahun 2020), risalah rap­at ter­bu­ka harus diu­mumkan melalui media elek­tron­ik. Jika DPR tidak memub­likasikan­nya, ini bukan hanya kega­galan moral, tapi juga poten­si pelang­garan tat­ib sendiri.

Stu­di Open Par­lia­ment ter­hadap UU Cip­ta Ker­ja mem­perku­at kri­tik ini: dalam 63 rap­at DPR untuk RUU terse­but, tidak satu pun risalah yang dipub­likasikan semua rap­at tidak memi­li­ki doku­men risalah yang bisa diak­ses pub­lik. Ini menun­jukkan bah­wa pros­es leg­is­lasi sepe­si­fik dan kon­tro­ver­sial sekalipun dilakukan tan­pa jejak transparan bagi masyarakat, yang berar­ti delib­erasi pub­lik hanya bersi­fat simbolik.

Aspi­rasi Pub­lik: Reses Tan­pa Dampak

DPR memang mengk­laim bah­wa reses (masa anggota dewan berkumpul den­gan kon­stituen) dan mekanisme lain digu­nakan untuk meny­er­ap aspi­rasi pub­lik. Namun, tan­pa doku­men­tasi yang jelas dan tin­dak lan­jut yang transparan, banyak aspi­rasi masyarakat berhen­ti pada retori­ka. Seru­an war­ga dalam reses jarang diter­jemahkan ke dalam aman­de­men RUU, catatan rap­at, atau peruba­han kebi­jakan konkrit. Pros­es terse­but gagal memenuhi dimen­si rep­re­sen­tasi sub­stan­tif (sub­stan­tive rep­re­sen­ta­tion) dalam teori demokrasi per­wak­i­lan, yaitu bah­wa aspi­rasi kon­stituen tidak hanya diden­gar, tetapi diin­ter­nal­isas­ikan ke dalam kebijakan.

Fungsi Pen­gawasan DPR yang Memudar

Salah satu pilar uta­ma par­lemen dalam demokrasi adalah fungsi pen­gawasan (checks and bal­ances) ter­hadap ekseku­tif. Namun, real­i­tas menun­jukkan DPR semakin kehi­lan­gan nyawa pen­gawasan. Ben­tuk kri­tik tajam jarang muncul secara sis­tem­a­tis, dan banyak kebi­jakan ekseku­tif dis­e­tu­jui tan­pa per­tanyaan men­dasar. Di saat DPR lebih ser­ing men­ja­di lem­ba­ga “stem­pel” dari­pa­da pengim­bang sejati, maka legit­i­masi par­lemen seba­gai lem­ba­ga kon­trol melemah.

Legit­i­masi Pub­lik yang Rentan

Keper­cayaan pub­lik ter­hadap DPR saat ini bera­da dalam kon­disi yang mem­pri­hatinkan dan terus menun­jukkan tren penu­runan. Berdasarkan lapo­ran survei ter­baru dari Indika­tor Poli­tik Indone­sia yang diber­i­takan oleh Tem­po rilis pada Novem­ber 2025, DPR kini men­dudu­ki per­ingkat ter­bawah seba­gai lem­ba­ga yang pal­ing tidak diper­caya oleh masyarakat.

Data terse­but menun­jukkan bah­wa sebanyak 41 persen respon­den meny­atakan tidak per­caya kepa­da DPR, yang men­jadikan­nya angka keti­dakper­cayaan tert­ing­gi diband­ingkan 10 lem­ba­ga negara lain­nya. Kon­disi ini mencer­minkan kemerosotan drastis jika diband­ingkan den­gan hasil survei pada Mei 2025, di mana tingkat keper­cayaan pub­lik ter­hadap DPR sem­pat menyen­tuh angka 71 persen. Dalam kon­teks teori rep­re­sen­tasi, tingginya angka keti­dakper­cayaan yang ter­catat dalam pem­ber­i­taan Tem­po terse­but meru­pakan sinyal kuat adanya kri­sis legit­i­masi: raky­at tidak lagi merasa bah­wa DPR adalah wak­il yang efek­tif dalam mem­per­juangkan aspi­rasi mere­ka di tingkat kebijakan.

Apakah DPR Sudah Mem­per­bai­ki Citra?

Dis­isi lain, beber­a­pa pihak DPR menun­jukkan hasil survei Lit­bang Kom­pas (Juni 2024) yang menye­but cit­ra DPR meningkat men­ja­di 62,6% posi­tif, diband­ingkan 50,5% di tahun sebelum­nya. Mere­ka menaf­sirkan ini seba­gai buk­ti bah­wa DPR berusa­ha lebih ter­bu­ka dan efisien.

Namun, anal­i­sis kri­tis mem­per­li­hatkan bah­wa per­baikan cit­ra saja tidak cukup. Cit­ra pub­lik bisa naik kare­na komu­nikasi pub­lik yang lebih masif, tetapi tan­pa refor­masi sub­stan­sial dalam transparan­si dan par­tisi­pasi, peruba­han itu bersi­fat kos­metik. Masyarakat mungkin “meli­hat” DPR lebih aktif, tetapi tidak memi­li­ki akses memadai ter­hadap hasil pem­ba­hasan kebi­jakan, kare­na risalah dan doku­men pem­ba­hasan masih san­gat terbatas. 

Untuk mengem­ba­likan DPR ke fungsi rep­re­sen­tatif sejatinya, diper­lukan refor­masi struk­tur­al dan regulatif:

  1. Perku­at Sum­ber Daya Risalah

Den­gan menam­bah jum­lah perisalah leg­is­latif dan asis­ten perisalah sesuai stan­dar ide­al, risalah rap­at dap­at dis­usun dan dipub­likasikan secara kom­pre­hen­sif. Selain itu per­lu juga dite­tap­kan stan­dar opera­sion­al prose­dur (SOP) untuk risalah: batas wak­tu tran­skrip­si, ver­i­fikasi, dan pub­likasi harus jelas, den­gan kewa­jiban pub­likasi di SIRIH, SILEG, dan SIAr.

  1. Transparan­si Leg­is­lasi Seutuhnya

DPR diwa­jibkan pub­likasi semua doku­men pem­ba­hasan RUU: naskah akademik, draf, risalah, dan catatan rap­at pada por­tal DPR yang ter­pusat dan mudah diak­ses pub­lik. Ser­ta meli­batkan pub­lik secara aktif dalam kon­sul­tasi RUU: forum dar­ing res­mi, kon­sul­tasi akademis, dan audi­en­si masyarakat harus men­ja­di bagian inte­gral dari pros­es legislasi.

  1. Akunt­abil­i­tas Anggota DPR

DPR harus­nya mem­bu­at mekanisme eval­u­asi kin­er­ja anggota DPR berdasarkan rep­re­sen­tasi kon­stituen: seber­a­pa banyak aspi­rasi war­ga yang dire­spon, diadop­si dalam RUU, dan dila­porkan secara pub­lik. Ser­ta men­er­ap­kan kode etik dan sanksi bagi anggota yang gagal memenuhi kewa­jiban rep­re­sen­tat­ifnya, seper­ti keti­dakhadi­ran reses, kega­galan mela­porkan tin­dak lan­jut aspi­rasi, atau tidak mem­pub­likasikan hasil reses.

  1. Refor­masi Sis­tem Pemilu & Partai

Kri­sis rep­re­sen­tasi ini menun­tut adanya refor­masi sis­tem pemilu dan par­tai yang fun­da­men­tal melalui per­tim­ban­gan mekanisme pemilu alter­natif yang mam­pu mem­perku­at ikatan antara wak­il dan kon­stituen, mis­al­nya melalui pen­er­a­pan dis­trik rep­re­sen­tatif kecil atau sis­tem pro­por­sion­al yang mem­berikan insen­tif bagi calon inde­pen­den. Langkah terse­but harus dibaren­gi den­gan doron­gan refor­masi inter­nal par­tai poli­tik agar mere­ka mam­pu meny­er­ap aspi­rasi raky­at secara lebih men­dalam dan transparan, sehing­ga wak­il yang dilem­par ke DPR tidak hanya diten­tukan oleh struk­tur par­tai sema­ta, tetapi juga benar-benar rep­re­sen­tatif ter­hadap basis konstituennya.

Man­dat Raky­at Harus Dire­but Kembali

Kri­sis rep­re­sen­tasi DPR RI bukan hanya soal cit­ra, tetapi menyen­tuh legit­i­masi dasar insti­tusi leg­is­latif. Jika DPR terus berop­erasi dalam kerang­ka transparan­si sim­bo­lik dan par­tisi­pasi semu, maka fungsinya seba­gai wak­il raky­at akan semakin lun­tur. Raky­at tidak boleh hanya men­ja­di pemil­ih pasif. Kita harus menun­tut keter­bukaan nya­ta, akunt­abil­i­tas yang konkret, dan refor­masi insti­tu­sion­al. Den­gan demikian, DPR bukan lagi sekadar sim­bol wak­il raky­at, tetapi lem­ba­ga sub­stan­sial yang benar-benar mem­per­juangkan kepentin­gan pub­lik bukan kepentin­gan elit.

Penulis: Muham­mad Alif (Kon­trib­u­tor)
Redak­tur: Sifana Sofia