TANGGUNGGUNUNG GERSANG, MATA AIR HILANG, MASA DEPAN DIPERTARUHKAN

Di lereng-lereng per­buk­i­tan Keca­matan Tang­gung­gu­nung, Kabu­pat­en Tulun­ga­gung, ham­paran jagung mem­ben­tang sejauh mata meman­dang. Saat musim panen tiba, buk­it-buk­it itu berubah war­na men­ja­di coke­lat kekuningan. Panas terasa menyen­gat. Tanah tam­pak gersang.

Namun bagi Suryan­to, seo­rang petani sekali­gus pegawai Him­punan Pen­duduk Pemakai Air Minum (HIPAM) Sum­ber Songo, peman­dan­gan itu bukan sekadar tan­da musim panen. Ia meli­hat sesu­atu yang lebih besar: peringatan ten­tang masa depan kawasan yang sela­ma puluhan tahun bergan­tung pada air dari pegunungan.

Yang pal­ing saya khawatirkan adalah kek­eringan,” kata Suryan­to saat dite­mui di Tang­gung­gu­nung, Kabu­pat­en Tulun­ga­gung, Ming­gu (19/4/2026).

Kekhawati­ran itu bukan tan­pa alasan. Ia masih mengin­gat bagaimana kawasan sela­tan Tulun­ga­gung per­nah memi­li­ki hutan yang jauh lebih lebat diband­ing sekarang. Hutan-hutan itu men­ja­di penyang­ga sum­ber air yang menghidupi war­ga. Kini, seba­gian ben­tang alam terse­but berubah men­ja­di lahan per­tan­ian tana­man semusim.

Dulu masih hutan yang luar biasa. Sekarang ting­gal kenan­gan,” ujarnya.

SEJARAH KELAM 1998 DAN HILANGNYA PULUHAN MATA AIR: REFORMASI, PENJARAHAN HUTAN, DAN JEJAK KRISIS AIR DI TANGGUNGGUNUNG

Kon­disi lingkun­gan di Keca­matan Tang­gung­gu­nung, Kabu­pat­en Tulun­ga­gung, dini­lai semakin mem­pri­hatinkan aki­bat peng­gun­du­lan hutan yang berlang­sung sejak akhir 1990-an. Dampak pal­ing nya­ta dirasakan masyarakat adalah hilangnya puluhan mata air dan anca­man kek­eringan berkepan­jan­gan, teruta­ma saat musim kemarau.

Suryan­to men­ja­di sak­si hidup bagaimana ben­tang alam di tanah kelahi­ran­nya berubah drastis dalam beber­a­pa dekade ter­akhir. Pria yang sehari-hari berge­lut den­gan uru­san air dan per­tan­ian ini menu­turkan bah­wa kri­sis air di wilayah terse­but telah ter­ja­di sejak peneban­gan hutan secara mas­sal, yang meru­pakan aksi pen­jara­han pas­ca masa huru-hara 1998. Hilangnya pohon-pohon besar mem­bu­at banyak sum­ber mata air tidak lagi mam­pu berta­han saat musim kema­rau panjang.

Peng­gun­du­lan hutan wak­tu itu ter­ja­di serentak, baik hutan lin­dung maupun hutan jati. Dampaknya, puluhan mata air yang dulu masih bisa diman­faatkan kini mati total. Dulu hutan masih rap­at, udara sejuk, dan mata air masih banyak. Sekarang hutan ting­gal kenan­gan,” ungkapnya.

Kehan­cu­ran eko­sis­tem hutan ini tidak ter­ja­di dalam semalam, melainkan sebuah pros­es pem­biaran yang berakar dari masa per­go­lakan poli­tik dan sosial di pen­gu­jung abad ke-20. Sem­i­ng­gu kemu­di­an, pada Sab­tu (25/4/2026), narasi seru­pa juga dikon­fir­masi oleh Budi, seo­rang peter­nak sekali­gus petani di Desa Pak­isre­jo, yang meni­lai keterse­di­aan air men­ja­di per­soalan pal­ing kru­sial bagi keber­lang­sun­gan hidup war­ga saat ini. Budi mengin­gat kem­bali mem­o­ri kelam saat pen­jarah meron­tokkan pohon-pohon yang men­ja­di ben­teng per­ta­hanan ser­a­pan air kawasan tersebut.

Peng­gun­du­lan hutan mulai sek­i­tar 1998–1999 dan terus berang­sur sam­pai sekarang. Kalau ini terus dib­iarkan, deb­it air pasti makin berku­rang,” katanya memperingatkan.

Ilus­trasi peneban­gan hutan secara mas­sal di kawasan sela­tan Tulun­ga­gung pas­ca refor­masi 1998. (Google Gemini)

Lebih lan­jut, Budi mem­berikan gam­baran men­dalam men­ge­nai situ­asi sosi­ol­o­gis pada masa-masa awal refor­masi, di mana hukum dan pen­gawasan kehutanan seo­lah kehi­lan­gan tar­ingnya di hada­pan mas­sa yang tak terbendung.

Peng­gun­du­lan hutan ter­ja­di secara besar-besaran pada masa refor­masi. Saat itu, peneban­gan berlang­sung masif dan tidak mam­pu dice­gah. Bukan hanya Per­hutani, aparat pun kewala­han. Mas­sa san­gat banyak, semen­tara petu­gas ter­batas,” tuturnya men­ge­nang masa-masa pelik tersebut.

AIR BERSIH YANG TAK PERNAH GRATIS, BERTAHAN HIDUP DI TENGAH KELANGKAAN AIR

HIPAM Sum­ber Songo di Tang­gung­gu­nung yang men­ja­di tumpuan dis­tribusi air bersih war­ga di ten­gah tekanan kerusakan lingkun­gan. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Kri­sis air per­nah men­ja­di bagian dari kehidu­pan masyarakat Tang­gung­gu­nung. Sebelum sis­tem dis­tribusi air dari Sum­ber Songo berkem­bang seper­ti sekarang, war­ga di sejum­lah wilayah harus meng­hadapi musim kema­rau den­gan penuh keti­dak­pas­t­ian. Berdasarkan penu­tu­ran Suryan­to, saat ini kebu­tuhan air bersih masyarakat relatif ter­tan­gani berkat keber­adaan HIPAM Sum­ber Songo yang mema­sok air bersih ke seba­gian besar Keca­matan Tang­gung­gu­nung. Namun, infra­struk­tur ini belum mam­pu men­jangkau selu­ruh jengkal wilayah berbuk­it terse­but. Wilayah yang tidak ter­jangkau jaringan HIPAM Sum­ber Songo, seper­ti seba­gian Desa Pak­isre­jo dan Teng­gare­jo, masih bergan­tung pada ban­tu­an pemer­in­tah, mem­be­li air tang­ki dari luar, atau men­gangkut sendiri dari mata air hing­ga diban­gun­nya sumur bor pada tahun 2023 kemarin.

Kalau musim kema­rau dan tidak ada ban­tu­an PDAM atau BPBD, war­ga bisa sam­pai empat atau lima hari tidak pun­ya air bersih. Ter­pak­sa beli air tang­ki den­gan biaya mahal,” ungkap Suryan­to men­je­laskan jer­i­tan war­ga yang bera­da di luar jangkauan HIPAM sebelum ada sumur bor.

Budi men­ge­nang masa lalu, mem­band­ingkan ker­ja keras fisik zaman dahu­lu den­gan beban ekono­mi zaman sekarang. Beta­pa sulit­nya kon­disi sebelum adanya sumur bor, keti­ka war­ga harus memikul air dari mata air untuk dibawa pulang ke rumah. Namun, mod­ernisasi beru­pa pipa-pipa air tidak ser­ta-mer­ta menghi­langkan kece­masan. Budi mengin­gatkan bah­wa anca­man keku­ran­gan air tetap ada di masa depan aki­bat peng­gun­du­lan hutan. Ia men­je­laskan sulit­nya men­ja­di petani dan

peter­nak di ten­gah keter­batasan air, bagaimana masyarakat harus memeras tena­ga atau men­guras isi dom­pet demi memenuhi kebu­tuhan sehari-hari.

Kalau musim kema­rau, war­ga biasanya men­cari mata air di bagian bawah. Di sana ser­ing bere­but kare­na airnya ter­batas, sam­bil menung­gu ban­tu­an dari pemer­in­tah,” kata Budi men­ge­nang masa sulit itu.

Ilus­trasi potret masa lalu war­ga men­gangkut air dari sum­ber air ke rumah. (Ilus­trasi Google Gemini)

Keti­ka alam tidak lagi bersa­ha­bat dan pasokan ban­tu­an dari otori­tas daer­ah tak kun­jung datang atau tidak men­cukupi, lem­baran-lem­baran uang rupi­ah ter­pak­sa diko­r­bankan demi menyam­bung hidup. Menu­rut Budi, keti­ka ban­tu­an air dari pemer­in­tah daer­ah tidak men­cukupi, war­ga ter­pak­sa mem­be­li air secara mandiri. Har­ga satu tang­ki berka­p­a­sitas sek­i­tar 4 meter kubik men­ca­pai Rp250.000.

Kalau untuk dua orang bisa berta­han dua ming­gu, tapi kalau satu kelu­ar­ga bisa habis dalam 10 hari. Dalam sebu­lan bisa beli dua kali,” ujarnya.

Info­grafis ske­ma pen­gelu­aran war­ga untuk mem­be­li air tang­ki sela­ma kri­sis air, den­gan biaya ratu­san ribu rupi­ah per bulan yang mem­be­bani ekono­mi war­ga. (Chat­G­PT)

Bagi masyarakat pedesaan yang men­gan­dalkan pen­da­p­atan dari sek­tor agraris yang tidak menen­tu, pen­gelu­aran untuk mem­be­li air ini ten­tu men­ja­di beban berat bagi sta­bil­i­tas ekono­mi keluarga.

Pen­gelu­aran untuk mem­be­li air, cukup mem­ber­atkan war­ga dan berdampak pada kebu­tuhan lain. Mau tidak mau kebu­tuhan lain diku­ran­gi. Uangnya biasanya dari jual hasil bumi. Jadi memang berat, tapi air harus tetap ada,” keluhnya.

KONDISI DESA PAKISREJO SAAT MUSIM KEMARAU: AIR HARUS DIBAGI DEMI BERTAHAN

Sumur bor di Desa Pak­isre­jo, Keca­matan Tang­gung­gu­nung, Tulun­ga­gung, yang men­ja­di tumpuan pasokan air war­ga yang tidak ter­jangkau jaringan HIPAM. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Walaupun sudah ada sumur bor, kri­sis air bersih masih men­ja­di anca­man. Ketaku­tan ini bukan sekadar ceri­ta dari satu atau dua orang, melainkan real­i­tas kolek­tif yang men­gakar kuat di desa-desa seper­ti Pak­isre­jo. Keterse­di­aan air bersih masih men­ja­di per­soalan uta­ma bagi war­ga Desa Pak­isre­jo, teruta­ma saat musim kema­rau. Mes­ki keber­adaan sumur bor cukup mem­ban­tu, pasokan air tetap ter­batas dan harus diba­gi secara bergilir keti­ka deb­it mata air menurun.

Musir­an, seo­rang petani sekali­gus pen­gelo­la sumur bor desa, mema­ha­mi betul dinami­ka naik turun­nya pasokan air yang bersum­ber dari sumur bor Pak­isre­jo. Ia men­gatakan bah­wa air sela­ma ini diman­faatkan untuk kebu­tuhan dasar rumah tang­ga, mulai dari minum, memasak, men­cu­ci, hing­ga untuk ter­nak. Kebu­tuhan air bersih war­ga bergan­tung pada sumur bor yang men­ja­di sum­ber utama.

Air dipakai untuk kebu­tuhan rumah tang­ga, minum, masak, cuci, juga untuk ter­nak. Sela­ma ini dari mata air sini, dari sumur bor,” ujar Musir­an den­gan lugas pada Sab­tu (25/4/2026).

Musir­an mem­per­li­hatkan penam­pun­gan air dari sumur bor Desa Pak­isre­jo, yang men­ja­di sum­ber uta­ma kebu­tuhan air bersih war­ga. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Namun, air dari sumur bor itu menyusut drastis keti­ka musim kema­rau. Pasokan air tidak lagi men­galir penuh ke rumah-rumah war­ga. Dis­tribusi air harus dibatasi agar tetap bisa men­cukupi selu­ruh kebu­tuhan warga.

Kalau kema­rau sekarang masih diba­gi. Kare­na airnya kurang kalau dialirkan penuh ke semua war­ga,” jelas Musir­an men­erangkan sis­tem gili­ran yang ter­pak­sa dit­er­ap­kan demi kead­i­lan bersama.

War­ga Pak­isre­jo sejauh ini masih men­co­ba berta­han den­gan apa yang ter­sisa di alam mere­ka. Menu­rut Musir­an, war­ga Pak­isre­jo belum sepenuh­nya bergan­tung pada air drop­ping ban­tu­an pemer­in­tah. Ban­tu­an air den­gan mobil tang­ki biasanya baru diberikan jika kema­rau berlang­sung pan­jang dan deb­it mata air benar-benar menu­run drastis.

Kalau kema­rau pan­jang itu bisa di-drop­ping air dari pemer­in­tah. Tapi kalau mata air masih ada, ya belum,” katanya.

Namun saat kon­disi semakin sulit, war­ga biasanya hanya bisa berharap pada ban­tu­an pemer­in­tah untuk memenuhi kebu­tuhan air sehari-hari.

Kalau kurang air, biasanya minta ban­tu­an dari pemer­in­tah. Per­nah dap­at ban­tu­an air gratis,” katanya.

Musir­an menam­bahkan catatan pent­ing men­ge­nai keter­batasan ban­tu­an logis­tik tersebut.

Satu tang­ki itu pal­ing cukup untuk satu sam­pai dua hari saja, kare­na diba­gi ke beber­a­pa war­ga,” tambahnya.

Musir­an, yang meru­pakan war­ga asli Pak­isre­jo, menyak­sikan trans­for­masi bagaimana cara war­ga men­da­p­atkan air dari dekade ke dekade. Sebelum adanya sumur bor, war­ga harus mengam­bil air lang­sung dari mata air di kawasan pegu­nun­gan atau belik, yang jaraknya cukup jauh dari pemukiman.

Dulu sebelum ada sumur bor, semua war­ga ambil air di belik di pegu­nun­gan,” tutur Musiran.

OBSESI MENANAM JAGUNG DAN DILEMA REBOISASI DI MATA PETANI

Lahan jagung yang men­dom­i­nasi per­buk­i­tan Tang­gung­gu­nung, men­gubah ben­tang alam hutan dan memen­garuhi daya ser­ap tanah ter­hadap air. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Kri­sis air yang ter­ja­di di seba­gian wilayah Tang­gung­gu­nung tidak akan ter­ja­di jika hutan kem­bali lebat sehing­ga mam­pu men­ja­di resapan air. Pas­ca peneban­gan masal, hutan yang telah gun­dul sulit kem­bali hijau seper­ti sebelum­nya kare­na berkai­tan lang­sung den­gan kebu­tuhan hidup petani. Sete­lah hutan dibu­ka, lahan terse­but beral­ih fungsi men­ja­di area per­tan­ian, teruta­ma untuk menanam jagung. Suryan­to men­je­laskan bah­wa jagung dip­il­ih kare­na bisa dipa­nen dalam wak­tu singkat sehing­ga men­ja­di sum­ber peng­hasi­lan cepat bagi warga.

Jagung dip­il­ih kare­na umur tanam­nya pen­dek, sek­i­tar empat bulan sudah panen. Tapi efek jang­ka pan­jangnya berat, kare­na tanah tidak lagi mam­pu meny­im­pan air,” terang Suryan­to mem­be­dah akar masalah ekol­o­gis ini.

Harun seo­rang aktivis lingkun­gan, juga sepen­da­p­at den­gan Suryan­to terkait keter­gan­tun­gan masyarakat pada tana­man jagung yang dini­lai berakar pada per­soalan ekono­mi jang­ka pendek.

Alasan­nya tetap perut. Demi ekono­mi, war­ga tidak memikirkan dampak jang­ka pan­jang. Pada­hal sete­lah panen jagung, musim kema­rau datang dan air tidak ada,” katanya saat dite­mui pada Senin (1/6/2026).

Pil­i­han ekono­mi jang­ka pen­dek ini berdampak pada min­im­nya resapan air. Aki­bat­nya, sejum­lah sum­ber mata air di wilayah Bolu, Tang­gung­gu­nung, hing­ga Pak­isre­jo hilang. Kon­disi ini berdampak lang­sung pada per­tan­ian dan peternakan

yang men­ja­di pusat kehidu­pan war­ga. Apala­gi saat kema­rau air men­ja­di san­gat sulit.

Untuk ter­nak saja airnya dari air bekas yang dis­ar­ing ulang. Lahan per­tan­ian banyak yang dib­iarkan kosong kare­na tidak ada air,” ungkap Suryan­to menggam­barkan beta­pa sulit­nya situ­asi di lapangan.

Budi juga mem­be­narkan bah­wa dom­i­nasi komod­i­tas jagung telah men­gubah pola pikir kolek­tif masyarakat ter­hadap pro­gram-pro­gram penghi­jauan yang diu­mumkan oleh pemangku kebi­jakan. Upaya reboisasi sebe­narnya terus dilakukan melalui imbauan pemer­in­tah dan desa, namun belum sepenuh­nya berhasil.

Masyarakat sudah ter­lan­jur nya­man menanam jagung. Kalau tana­man tegakan seper­ti jati atau mahoni, mere­ka tidak mau kare­na diang­gap men­gu­ran­gi hasil per­tan­ian,” jelas Budi.

Namun, angga­pan bah­wa petani sepenuh­nya meno­lak reboisasi segera diban­tah oleh Suryan­to. Seba­gai petani sekali­gus pen­gelo­la air, ia meni­lai masalah uta­manya ter­letak pada kurangnya komu­nikasi dan jenis tana­man yang dis­osial­isas­ikan. Per­soalan­nya bukan pada penana­man pohon, melainkan pada jenis tana­man yang ditawarkan tidak men­gun­tungkan petani.

Kalau yang ditanam jati, aka­sia, atau kayu putih, petani pasti keber­atan kare­na tidak ada nilai ekonominya. Sebe­narnya banyak sekali vari­etas (yang cocok untuk reboisasi) yang bisa kita tanam seper­ti duri­an, alpukat, cengkeh yang nilai ekonominya ting­gi. Dan ini akan men­ja­di salah satu penopang mata air,” jelasnya.

Suryan­to menun­jukkan tana­man kopi di lahan­nya, seba­gai bagian dari upaya per­al­i­han menu­ju per­tan­ian pro­duk­tif, men­er­ap­kan ske­ma agro­fore­stri untuk men­ja­ga keber­lan­ju­tan lingkun­gan sekali­gus meningkatkan ekonomi.

Pan­dan­gan terse­but tidak berdiri sendiri. Harun, menekankan bah­wa tana­man seper­ti kopi memi­li­ki fungsi ekol­o­gis yang pent­ing kare­na akarnya mam­pu meny­er­ap dan meny­im­pan air.

Keti­ka kopi ditanam, akarnya men­ja­di peny­er­ap air. Apala­gi kalau dita­m­bah tana­man besar seper­ti duri­an dan jengkol, mata air akan tim­bul kem­bali. Walaupun butuh wak­tu lama, itu tabun­gan untuk masa depan,” ujarnya.

Suryan­to tidak sekadar melem­par wacana atau menun­tut pihak lain. Di atas tanah­nya sendiri, ia telah mem­buk­tikan bah­wa ekolo­gi dan ekono­mi bisa ber­jalan beriringan tan­pa harus sal­ing mene­gasikan. Ia men­gaku telah men­er­ap­kan pola tanam tumpangsari di lahan­nya, den­gan men­gom­bi­nasikan tana­man pro­duk­tif yang cocok untuk reboisasi dan tana­man semusim yang cepat menghasilkan.

Dalam satu baris ada tana­man tegakan pro­duk­tif, jaraknya sek­i­tar enam sam­pai tujuh meter, sisanya untuk jagung atau tana­man lain. Hasil ekonominya dalam jang­ka pan­jang jauh lebih men­gun­tungkan,” paparnya mem­bagikan metode reboisasi yang efektif.

Dari pen­gala­man­nya itu, ia menyadari bah­wa per­tan­ian jagung yang terus diu­lang tan­pa jeda sebe­narnya melelahkan.

Jagung kita tanam hari ini, tiga bulan panen kita tebas habis. Musim berikut­nya tanam lagi dari nol. Itu beru­lang terus, tapi kalau kopi, duri­an dan alpukat, sekali tanam bisa dipa­nen bertahun-tahun. Itu sebe­narnya tabun­gan,” jelasnyanya.

Seba­gai ket­ua kelom­pok tani, Suryan­to aktif mengam­pa­nyekan per­al­i­han ke tana­man pro­duk­tif dan peng­gu­naan pupuk organik. Namun, men­gubah pola pikir yang sudah men­gakar sela­ma puluhan tahun bukan­lah perkara mudah. Dari 132 kelom­pok tani di Keca­matan Tang­gung­gu­nung, ia mem­perki­rakan baru sek­i­tar 40 persen petani yang mulai mengiku­ti pola tersebut.

Yang masih sulit dia­jak itu kare­na masih ter­ob­sesi jagung dan tidak berani berpikir jang­ka pan­jang,” keluhnya.

Cit­ra satelit Keca­matan Tang­gung­gu­nung, Kabu­pat­en Tulun­ga­gung, pada tahun 2025, yang mem­per­li­hatkan berku­rangnya tutu­pan hutan dan dom­i­nasi ladang jagung di kawasan per­buk­i­tan, berdampak pada menu­run­nya daya ser­ap air dan keber­lan­ju­tan mata air. (Google Earth)

PERTANIAN TADAH HUJAN DAN RISIKO GAGAL PANEN

Ilus­trasi ske­ma per­tan­ian tadah hujan yang bergan­tung sepenuh­nya pada curah hujan, sehing­ga aktiv­i­tas tanam war­ga di kawasan per­buk­i­tan Tang­gung­gu­nung hanya dap­at dilakukan saat musim penghu­jan. (Chat­G­PT)

Min­im­nya pohon pena­han air di per­buk­i­tan Tang­gung­gu­nung pada akhirnya berdampak pada petani yang meng­gan­tungkan hidup­nya dari sek­tor agraris. Dalam sek­tor per­tan­ian, keter­batasan air men­ja­di tan­ta­n­gan tersendiri. Di Desa Pak­isre­jo, mis­al­nya, per­tan­ian di wilayah ini sepenuh­nya men­gan­dalkan air hujan sehing­ga aktiv­i­tas tanam hanya bisa dilakukan saat musim penghujan.

Kalau per­tan­ian, pakai sis­tem tadah hujan. Kalau ada hujan baru berco­cok tanam. Kalau kema­rau ya tidak, menung­gu,” ungkap Musir­an menggam­barkan keti­dak­pas­t­ian yang dihadapi para petani seti­ap tahunnya.

Budi juga meman­dang den­gan penuh kece­masan seti­ap kali mendekati musim kema­rau. Kon­disi per­tan­ian dini­lai kurang men­jan­jikan. Curah hujan yang tidak menen­tu mem­bu­at hasil panen menu­run dan risiko gagal panen meningkat.

Kalau gagal panen ya sudah pas­rah. Tidak ada pema­sukan. Untuk bertani lagi juga sulit kare­na air tidak ada,” kata Budi pasrah.

Saat kon­disi ekono­mi semakin sulit dan lahan tidak dap­at ditana­mi, hewan ter­nak men­ja­di andalan ter­akhir bagi kelu­ar­ga di per­buk­i­tan Tang­gung­gu­nung agar tetap bisa berta­han. Budi menye­but ter­nak seper­ti kamb­ing dan sapi ker­ap dijadikan sim­panan daru­rat keti­ka mem­bu­tuhkan uang.

Kalau butuh uang, ter­nak itu yang dijual,” tuturnya mere­flek­sikan strate­gi berta­han hidup masyarakat.

Bagi Budi, pen­gala­man hidup di daer­ah kri­sis air mem­ben­tuk pan­dan­gan hidup tersendiri ten­tang beta­pa pent­ingnya air, sesu­atu yang ker­ap diang­gap sepele.

Air itu nilainya melebi­hi emas. Tan­pa air, kita tidak bisa hidup,” tegasnya.

Ilus­trasi ske­ma pros­es ekol­o­gis hilangnya hutan yang menye­babkan air hujan tidak ter­sim­pan di dalam tanah, sehing­ga mata air menyusut dan pasokan air war­ga berku­rang. (Chat­G­PT)

INFRASTRUKTUR VERSUS MATA AIR: HUTAN YANG DIBABAT DEMI PEMBANGUNAN JALAN

Proyek pem­ban­gu­nan Jalur Lin­tas Sela­tan (JLS) yang men­gor­bankan hutan Tang­gung­gu­nung, Tulun­ga­gung, memu­nculkan kekhawati­ran akan dampak ekol­o­gis. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Jika dil­i­hat dalam skala yang lebih luas, kon­disi hutan di Tang­gung­gu­nung tidak hanya dipen­garuhi oleh per­lu­asan per­tan­ian jagung, tetapi juga oleh pem­ban­gu­nan infra­struk­tur. Secara umum, hutan di wilayah sela­tan Keca­matan Tang­gung­gu­nung, Kabu­pat­en Tulun­ga­gung, masih ter­go­long cukup baik. Namun, pem­bukaan Jalur Lin­tas Sela­tan (JLS) dan peruba­han cara peman­faatan lahan per­tan­ian mulai mem­berikan tekanan ter­hadap tutu­pan hutan dan kelang­sun­gan sum­ber mata air.

Pem­ban­gu­nan fasil­i­tas pub­lik di kawasan per­buk­i­tan Tang­gung­gu­nung dihadap­kan pada dile­ma antara kebu­tuhan infra­struk­tur dan kelestar­i­an hutan negara. Asis­ten Per­hutani (Asper) sekali­gus Kepala Bagian Kesat­u­an Pemangkuan Hutan (BKPH) Cam­pur­darat, Nur Faiz Ramd­hani, menye­but pem­ban­gu­nan memang tidak tere­lakkan, tetapi mem­bawa kon­sekuen­si serius bagi eko­sis­tem hutan. Hal itu ia sam­paikan dalam wawan­cara pada Senin (19/5/2026).

Di beber­a­pa titik, mau tidak mau kawasan hutan harus diko­r­bankan untuk pem­ban­gu­nan jalur lin­tas sela­tan. Itu tan­ta­n­gan ekster­nal yang tidak bisa dihin­dari,” ujar Faiz secara ter­bu­ka men­ge­nai real­i­tas pembangunan.

Mes­ki men­da­p­at tan­ta­n­gan dari luar, Faiz meni­lai per­an masyarakat Tang­gung­gu­nung cukup baik dalam men­ja­ga hutan. Menu­rut­nya, seba­gian besar petani masih beru­paya menye­im­bangkan kebu­tuhan ekono­mi dan kelestar­i­an lingkun­gan melalui pola tanam agroforestri.

Secara umum masyarakat di kawasan Tang­gung­gu­nung cukup men­ja­ga hutan­nya. Kami melakukan penana­man bersama den­gan sis­tem agro­fore­stri, yaitu per­tan­ian dan kehutanan di titik yang sama,” jelas Faiz men­ge­nai strate­gi pen­gelo­laan hutan bersama masyarakat.

Namun, Faiz juga tidak menut­up mata ter­hadap real­i­tas di lapan­gan, di mana ego ekono­mi jang­ka pen­dek ker­ap kali men­galahkan komit­men jang­ka pan­jang dalam mer­awat pohon-pohon tegakan. Faiz men­gungkap­kan bah­wa seba­gian petani lebih mem­pri­or­i­taskan tana­man semusim seper­ti jagung dan tebu, semen­tara tana­man kehutanan kurang dirawat.

Yang dirawat jagungnya, pohon­nya tidak. Akhirnya yang tum­buh hanya ladang jagung sejauh mata meman­dang, pada­hal seharus­nya ked­u­anya bisa berdampin­gan,” ujar Faiz.

Perge­ser­an tutu­pan lahan di kawasan ini berlang­sung cepat dalam dua dekade ter­akhir, seir­ing ter­bukanya akses ke wilayah-wilayah yang sebelum­nya ter­iso­lasi. Faiz meni­lai peruba­han pal­ing drastis ter­ja­di dalam rentang 10 hing­ga 20 tahun ter­akhir di wilayah sela­tan yang dahu­lu beru­pa hutan lebat. Masuknya jaringan jalan dan meningkat­nya aktiv­i­tas manu­sia men­dorong ekspan­si per­tan­ian jagung dan tebu secara masif, semen­tara luasan hutan terus tergerus. “Kalau ini dib­iarkan, dampaknya bukan hanya long­sor, tapi juga anca­man ter­hadap mata air,” tegas Faiz mem­peringatkan kon­sekuen­si ekol­o­gis yang mengintai

Mata Air Sum­ber Songo tetap men­galir dan men­ja­di penopang kebu­tuhan war­ga Tang­gung­gu­nung, Tulun­ga­gung, mes­ki kon­disi lingkun­gan sek­i­tar terus tertekan. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Terkait sum­ber air, Faiz menye­but mata air Sum­ber Songo masih men­ja­di tumpuan uta­ma war­ga. Mata air terse­but mema­sok kebu­tuhan air bersih ham­pir selu­ruh Keca­matan Tang­gung­gu­nung hing­ga wilayah sek­i­tar seper­ti Besole.

Kon­disinya saat ini masih cukup baik kare­na ditopang oleh hutan di sek­i­tarnya dan dirawat bersama oleh masyarakat dan Per­hutani,” ujarnya.

Mes­ki hing­ga satu dekade ter­akhir belum ada lapo­ran mata air Sum­ber Songo yang men­ger­ing, Faiz mengin­gatkan dampak jang­ka pan­jang jika alih fungsi lahan terus berlanjut.

Mata air itu bukan sim­sal­abim. Kalau hutan­nya gun­dul, mungkin sekarang air masih ada, tapi lima atau sepu­luh tahun lagi bisa hilang. Mengem­ba­likan­nya butuh wak­tu puluhan tahun,” katanya menekankan.

SOLUSI AGROFORESTRI, JALAN TENGAH MENYELAMATKAN DESA

Pola agro­fore­stri yang mulai dit­er­ap­kan war­ga di kawasan per­buk­i­tan Tang­gung­gu­nung, Tulun­ga­gung, den­gan men­gom­bi­nasikan tana­man pro­duk­tif dan per­tan­ian (jagung) seba­gai upaya memulihkan eko­sis­tem sekali­gus men­ja­ga keber­lan­ju­tan sum­ber air. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Meng­hadapi anca­man nya­ta beru­pa kek­eringan di masa depan, semua pihak sep­a­kat bah­wa jalan kelu­ar harus segera diru­muskan. Seba­gai solusi, Per­hutani men­dorong pen­er­a­pan agro­fore­stri den­gan pen­gat­u­ran jarak tanam pohon agar tana­man per­tan­ian tetap bisa tum­buh. Selain itu, jenis tana­man berkayu seper­ti kopi, alpukat,

duri­an, ser­ta pucang dini­lai lebih cocok dikem­bangkan di wilayah per­buk­i­tan kare­na mem­beri man­faat ekono­mi tan­pa harus menebang pohon.

Per­hutani men­jadikan agro­fore­stri seba­gai salah satu pro­gram uta­ma pen­gelo­laan kawasan hutan bersama masyarakat.

Yang kami dorong adalah kese­im­ban­gan. Masyarakat tetap bisa bertani, tetapi pohon­nya juga tetap ada,” kata Faiz.

Suryan­to ter­ma­suk petani yang aktif mengkam­pa­nyekan pola terse­but. Menu­rut­nya, pen­dekatan itu tidak hanya mem­ban­tu men­ja­ga lingkun­gan, tetapi juga mem­berikan pelu­ang ekono­mi yang lebih men­jan­jikan dalam jang­ka panjang.

Kalau kopi sudah berbuah, petani tidak per­lu men­go­lah tanah terus-menerus seper­ti jagung,” ujarnya.

Faiz menekankan bah­wa keber­hasi­lan pro­gram penghi­jauan san­gat bergan­tung pada keter­li­batan masyarakat setempat.

Kalau penghi­jauan tidak datang dari keing­i­nan masyarakat sek­i­tar, kemu­ngk­i­nan besar gagal. Kuncinya komu­nikasi, kesadaran, jenis tana­man yang tepat, dan per­awatan min­i­mal lima tahun,” urai Faiz men­ge­nai syarat mut­lak keber­hasi­lan reboisasi.

Faiz, Asper Cam­pur­darat, mema­parkan ten­tang keber­lan­ju­tan hutan ser­ta mata air di wilayah Tang­gung­gu­nung pada tim TGEx di kan­tor BKPH Cam­pur­darat, Tulun­ga­gung, pada Selasa (19/5/2026). (LPM Dimensi/Tim TGex)

Selain itu, pen­dekatan kul­tur­al dan huma­n­is juga men­ja­di poin pent­ing yang dis­uarakan oleh Budi. Ia berharap pemer­in­tah dap­at menam­bah pengeb­o­ran dan pen­gelo­laan mata air agar kebu­tuhan war­ga ter­cukupi tan­pa harus mem­be­li air tang­ki saat kema­rau. Untuk penghi­jauan, Budi menekankan pent­ingnya pen­dekatan persuasif.

Penghi­jauan harus dari hati ke hati. Kalau hanya pro­gram, pasti gagal. Masyarakat harus sadar sendiri bah­wa pohon itu pent­ing, kare­na tan­pa pohon kita tidak bisa berna­pas,” pungkas Budi mem­berikan reflek­si men­dalam men­ge­nai hubun­gan manu­sia dan pohon.

Di sisi lain, Suryan­to meni­lai per­an pemer­in­tah san­gat kru­sial untuk mem­per­cepat peruba­han pola per­tan­ian yang hanya men­gan­dalkan jagung menu­ju sis­tem agro­fore­stri den­gan tana­man pro­duk­tif. Ia berharap adanya pen­dampin­gan, ban­tu­an bib­it, ser­ta kepas­t­ian pasar agar petani berani mengam­bil langkah besar untuk beral­ih ke pola per­tan­ian yang lebih berkelanjutan.

Kalau pemer­in­tah hadir seba­gai penye­man­gat, saya yakin banyak petani mau ikut. Ini bukan cuma soal ekono­mi, tapi soal masa depan desa,” harap Suryanto.

Menat­ap lima hing­ga sepu­luh tahun ke depan, kekhawati­ran terbe­sar Suryan­to teta­plah pada bayang-bayang kek­eringan parah aki­bat hilangnya hutan di Tang­gung­gu­nung jika kam­pa­nye agro­fore­stri gagal. Ia meni­tip­kan sebuah pesan reflek­tif yang men­dalam ten­tang fungsi ekol­o­gis sebatang pohon yang melam­paui nilai komer­sial karung-karung jagung.

Kalau masyarakat tidak mau menanam kem­bali, dampaknya kek­eringan dan pem­anasan luar biasa. Satu pohon itu bank oksi­gen. Kalau kita berhen­ti menanam, kita sendiri yang menang­gung aki­bat­nya,” tutur Suryan­to mengingatkan.

Faiz pun menut­up perny­ataan­nya den­gan menyam­paikan pesan khusus kepa­da gen­erasi muda, para penerus yang akan mewarisi bumi Tang­gung­gu­nung di masa depan, agar tidak ter­je­bak dalam prag­ma­tisme ekono­mi yang mengabaikan kelestar­i­an alam.

Kalau kita hanya menge­jar nilai uang, kita akan lupa pent­ingnya pohon, mata air, dan oksi­gen. Jan­gan sam­pai kita baru menye­sal keti­ka semuanya sudah hilang,” pungkas Faiz menut­up wawancara.

Lem­baran real­i­tas sosi­ol­o­gis dan ekol­o­gis di wilayah per­buk­i­tan ini dirangkum oleh Suryan­to den­gan sebuah kali­mat singkat namun meno­hok, yang menggam­barkan potret utuh Keca­matan Tang­gung­gu­nung hari ini.

Kea­manan kon­dusif, ekono­mi kurang kon­dusif, dan kon­disi hutan san­gat mem­pri­hatinkan,” ujar Suryan­to mene­gaskan garis besar per­soalan yang musti segera dis­e­le­saikan bersama.

PROGRES 40 PERSEN PETANI YANG MULAI MENANAM TANAMAN PRODUKTIF

Mes­ki begi­tu Suryan­to tak menut­up mata den­gan 40 persen petani yang telah men­er­ap­kan agro­fore­stri. Per­jalanan pan­jang menu­ju pemuli­han eko­sis­tem di per­buk­i­tan Tang­gung­gu­nung sedang dilakukan secara per­la­han. Saat diwawan­car­ai lagi pada Selasa (19/52026), via tele­pon, Suryan­to men­gungkap­kan pro­gres petani yang telah menanam tana­man pro­duk­tif, kopi jadi pil­i­han favorit.

Sekarang petani mulai meli­hat hasil nya­ta dari kopi,” katanya.

Ger­akan dari hati ke hati yang awal­nya senyap kini mem­bawa peruba­han. Per­mintaan benih kopi mel­on­jak. Minat petani untuk menanam tana­man pro­duk­tif terus meningkat dari bulan ke bulan. Berdasarkan data per­mintaan benih yang masuk hing­ga akhir Mei, kopi men­ja­di komod­i­tas pal­ing diminati.

Kalau dari kelom­pok saya saja, per­mintaan benih kopi sudah ham­pir 22.000 batang. Kalau diga­bung beber­a­pa kelom­pok, total­nya ham­pir 120.000 batang,” jelas­nya mem­be­berkan lom­patan data yang fantastis.

Menu­rut­nya, angka ini mel­on­jak tajam diband­ing tahun-tahun sebelumnya.

Lon­jakan­nya bukan 110 persen, tapi sek­i­tar 150 persen. Dari sebelum­nya hanya

4.000 atau 5.000, sekarang ham­pir 120.000 batang,” ungkapnya.

Ia juga men­je­laskan bah­wa dari sisi per­tan­ian pro­duk­tif, kon­disi tana­man menun­jukkan hasil yang cukup menggembirakan.

Untuk alpukat seba­gian ham­pir panen, duri­an juga ham­pir panen. Perki­raan perten­ga­han Juni duri­an sudah panen semua. Kalau kopi rata-rata sudah dipa­nen,” katanya den­gan optimis.

Duri­an di ladang milik Suryan­to menun­jukkan hasil yang cukup menggem­bi­rakan seba­gai bagian dari pen­er­a­pan per­tan­ian pro­duk­tif. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Menu­rut­nya, ada beber­a­pa fak­tor yang men­dorong lon­jakan minat tersebut.

Yang per­ta­ma dari kam­pa­nye teman-teman petani sendiri. Ked­ua, ada pro­gram dari Dinas Per­tan­ian. Keti­ga, jan­ji dari Bupati yang saya sam­paikan lang­sung ke petani. Itu yang bikin lon­jakan­nya luar biasa,” katanya men­jabarkan kolab­o­rasi yang mulai terbangun.

Dari beber­a­pa jenis tana­man pro­duk­tif yang diperkenalkan—kopi, alpukat, dan durian—kopi dini­lai pal­ing men­jan­jikan dalam jang­ka pen­dek oleh para petani

Tang­gung­gu­nung. Sik­lus ekonominya yang cepat men­ja­di alasan uta­ma men­ga­pa tana­man ini begi­tu cepat memikat hati masyarakat yang ter­biasa den­gan per­putaran uang cepat dari jagung.

Semen­tara ini yang pal­ing men­jan­jikan kopi. Jangkanya pen­dek, sek­i­tar dua tahun sudah bisa merasakan hasil. Per­awatan­nya juga lebih mudah diband­ing alpukat,” ujarnya.

Con­toh pohon kopi di ladang milik Suryan­to yang meru­pakan komod­i­tas favorit petani seba­gai tana­man pro­duk­tif dalam ske­ma agro­fore­stri, kare­na dini­lai cepat meng­hasilkan. (LPM Dimensi/Tim TGex)

Semen­tara itu, minat ter­hadap alpukat masih relatif kecil diband­ingkan kopi.

Kalau alpukat penana­man­nya masih kecil. Yang terus bertam­bah itu kopi,” tambahnya.

Poten­si kopi juga diakui oleh Harun, yang meli­hat kopi memi­li­ki nilai ekono­mi ting­gi. Pen­gala­man itu ia buk­tikan lang­sung lewat warung kopi yang dikelolanya, kopi lokal hasil petani dihar­gai lebih ting­gi diband­ing kopi pabrikan.

Di warung saya, kopi dari roast­ing-an teman-teman min­i­mal Rp5.000, semen­tara kopi pabrikan hanya Rp3.000–4.000. Artinya dari situ kita tahu bah­wa kopi pun bisa lebih mahal. Kare­na keti­ka teman-teman me-roast­ing, memetiknya den­gan buah yang berkual­i­tas,” ujarnya.

Warung kopi Pak Harun men­ja­di ruang dis­tribusi kopi hasil panen petani lokal, seba­gai upaya menghubungkan keber­lan­ju­tan alam dan ekono­mi war­ga. (LPM Dimensi/Tim TGex)

PERLUNYA DUKUNGAN MASIF PEMERINTAH UNTUK MENYEDIAKAN BENIH

Kendati gelom­bang seman­gat sedang ting­gi-tingginya, tan­ta­n­gan birokrasi masih mem­bayan­gi. Jan­ji benih dari pemer­in­tah masih menung­gu real­isasi. Terkait jan­ji ban­tu­an dari Bupati, Suryan­to menye­but ban­tu­an akan diberikan dalam ben­tuk benih, namun, hing­ga saat ini belum selu­ruh­nya terealisasi.

Kalau jan­ji Bupati itu ben­tuknya benih. Tapi kemarin belum tere­al­isasi,” katanya men­gon­fir­masi situ­asi riil.

Mes­ki demikian, komu­nikasi inten­sif terus ber­jalan. Dalam wak­tu dekat, pemer­in­tah diren­canakan akan menyalurkan benih kakao seba­gai bagian dari diver­si­fikasi komod­i­tas kehutanan masyarakat.

Yang mau di-drop dulu itu kakao, ham­pir 10.000 batang. Kalau benih kopi, kami ajukan untuk musim tanam bulan Sep­tem­ber,” jelas­nya men­erangkan lini masa penanaman.

Penyalu­ran terse­but harus dihi­tung den­gan cer­mat agar selaras den­gan ritme alam dan keterse­di­aan air hujan.

Soal­nya sek­i­tar Sep­tem­ber atau Desem­ber sudah mulai turun hujan,” tambahnya.

KONDISI KETERSEDIAAN AIR UNTUK MASYARAKAT KECAMATAN TANGGUNGGUNUNG PADA KEMARAU TAHUN INI

Sam­bil menung­gu tunas-tunas hijau itu mer­im­bunkan kem­bali buk­it Tang­gung­gu­nung yang gun­dul, per­juan­gan mem­per­ta­hankan air di musim ker­ing tetap ber­jalan seti­ap hari yang kini telah mema­su­ki kema­rau. Kabar baiknya, air bersih aman. Pada musim kema­rau tahun ini, den­gan kon­disi per­buk­i­tan yang tam­pak ger­sang aki­bat panen jagung, keterse­di­aan air bersih di Tang­gung­gu­nung masih ter­ja­ga. Saat ini, aktiv­i­tas kelom­pok Suryan­to juga difokuskan pada per­awatan infra­struk­tur air.

Hari ini kami melakukan per­awatan pipa air bersih,” ujarnya mencer­i­takan kesi­bukan tek­nis kelompoknya.

Ia men­je­laskan, sebelum­nya sem­pat ter­ja­di gang­guan pada sis­tem pom­pa di kawasan Sum­ber Songo.

Kemarin ada trou­ble listrik dan satu pom­pa bermasalah. Jadi kita sam­bungkan ke mesin lain. Kalau satu mesin trou­ble, lang­sung bisa dial­ihkan ke mesin cadan­gan,” katanya mema­parkan sis­tem mit­i­gasi yang mere­ka bangun.

Saat ini, kon­disi pipa diny­atakan aman dan pasokan air ke ribuan kelu­ar­ga dipastikan tidak terputus.

Pipa sekarang aman, hanya boco­ran kecil-kecil saja,” ujarnya.

Mes­ki kon­disi lahan tam­pak panas dan ker­ing sete­lah panen jagung, ia memas­tikan pasokan air bagi war­ga masih men­cukupi, sebuah real­i­tas yang kon­tras namun mel­e­gakan diband­ing dekade-dekade sebelumnya.

Sekarang memang panas dan ger­sang kare­na jagung panen, tapi alham­dulil­lah air aman, ten­tram, loh jinawi,” kata Suryan­to men­je­laskan situ­asi masih terkendali.

Kon­disi-kon­disi ter­baru ini menun­jukkan bah­wa HIPAM telah mem­ban­tu men­gu­ran­gi kekhawati­ran war­ga. Namun, per­soalan air bersih di Desa Pak­isre­jo dan wilayah Keca­matan Tang­gung­gu­nung pada umum­nya masih memer­lukan solusi jang­ka pan­jang agar masyarakat tidak terus bera­da dalam situ­asi rawan kek­eringan seti­ap musim kemarau.

.

Penulis : Nia, Luluk, Ali­fia
Redak­tur : Fad­ly
Diliput oleh LPM Dimen­si: Tim TGEx (Tulu­gan­gung Green Expedition)