Di ruang rapat penuh angka,
Masadepan ditimbang neraca.
Ilmu tak lagi jadi cahaya
Hanya komoditas bernama kerja
Efisiensi dijadikan mantra,
Pendidikan kehilangan makna
Kampus dipaksa tunduk pada pasar,
Seolah peradaban lahir dari daftar tawar.
Filsafat dianggap terlalu sunyi,
sastra dituduh tak memberi,
ilmu sosial dipinggirkan perlahan.
Seperti orang asing di rumah peradaban.
Padahal sejarah tak pernah lahir
Dari mesin yang terus berdering,
Bukan dari modal yang terus mengalir,
Tetapi dari manusia yang terus berpikir.
Mereka yang berani bertanya
Ketika mayoritas memilih percaya
Dari mereka yang berani melawan kuasa,
Saat kebenaran dibungkam penguasa.
Hari ini universitas perlahan kehilangan suara.
Didorong menjadi pabrik tenaga,
bukan rumah bagi cita dan makna.
Mahasiswa disiapkan menjadi alat kerja,
bukan warga yang berani bertanya,
bukan manusia yang menjaga nurani bangsa
Negara sibuk membaca kebutuhan pasar,
memuja target, dan standar.
Tapi lupa menanam kesadaran berakar.
Anggaran dipangkas atas nama efisiensi,
sementara mimpi besar dipidatokan setiap hari.
Indonesia emas dikumandangkan kemana-mana,
Namun pendidikan diperlakukan seperti biaya semata.
Barangkali yang krisis hari ini
Bukan kampus, bukan pula akademisi
Melainkan nalar pengendali negeri
Mengukur ilmu dengan untung rugi.
Penulis: Nafisaturrafi