Pam­er­an seni rupa “Duduk Man­iss” hadir seba­gai wadah bagi sen­i­man muda untuk men­uangkan ide dan kreativ­i­tas dari kepala mere­ka ke dalam ben­tuk karya visu­al. Dige­lar di Pago Cre­ative Space, Kelu­ra­han Kepati­han, Tulun­ga­gung, pam­er­an ini berlang­sung sela­ma dela­pan hari, mulai 28 Juni hing­ga 5 Juli 2026.

Komu­ni­tas Berkah Berkharis­ma Kolek­tif menye­leng­garakan pam­er­an terse­but den­gan menampilkan sebanyak 17 karya seni, yang telah melalui pros­es kurasi. Karya-karya itu berasal dari sen­i­man Tulun­ga­gung maupun luar daer­ah, seper­ti Treng­galek, Yogyakar­ta, dan Solo. Pam­er­an ini menampilkan karya para sen­i­man gen­erasi muda den­gan dom­i­nasi usia sek­i­tar 20–35 tahun.

Kalau awalan acara sih memang kita ada pros­es yang namanya selek­si karya sama ada selek­si sen­i­man. Memang kita lebih cocok ke sen­i­man-sen­i­man muda yang dimana itu kebanyakan masih rentang umur 20 — 35 an.” ujar Fatoni selaku project man­ag­er acara.

Fatoni men­je­laskan pam­er­an ini men­ja­di wadah bagi para sen­i­man untuk mengek­spre­sikan gagasan mere­ka melalui media visu­al. Menu­rut­nya, tidak semua sen­i­man mam­pu men­gungkap­kan ide melalui tulisan sehing­ga karya seni men­ja­di media yang tepat untuk menyam­paikan pesan sekali­gus men­ja­ga eksis­ten­si mereka.

Salah satu sen­i­man asal Tulun­ga­gung yang karyanya ikut dipa­jang , Prastyo  juga men­gungkap­kan tidak ada filosofi pakem dalam mem­bu­at karya, ia mene­gaskan karya yang dibu­at­nya hadir seba­gai cura­han piki­ran murni yang divisualkan.

 “Sebe­narnya nggak ada filosofinya atau hal ter­ten­tu. Soal­nya kita susah buat ceri­ta. Akhirnya mau nggak mau lebih dituangkan ke visu­al. Ibarat­nya susah nulis, jadi men­uangkan­nya lewat gam­bar. Seseder­hana itu,” ungkap Prastyo.

Menu­rut catatan kura­to­r­i­al pam­er­an yang dit­ulis Rai­han Wahyu Ramad­hani, Berkah Berkharis­ma Kolek­tif lahir dari perte­muan indi­vidu den­gan latar belakang dan per­jalanan hidup yang berbe­da. Mes­ki kini anggotanya terse­bar di berba­gai kota dan sibuk den­gan ruti­ni­tas mas­ing-mas­ing, kolek­tif ini tetap berta­han. Keber­lang­sun­gan terse­but bukan kare­na kesamaan tujuan sema­ta, melainkan kare­na adanya per­caka­pan yang terus berlang­sung, keper­cayaan, empati, ser­ta kese­di­aan untuk tetap ter­hubung mes­ki tidak selalu berte­mu secara fisik.

Rai­han menam­bahkan bah­wa pam­er­an Duduk Man­iss ini bisa men­ja­di ruang reflek­si atas pen­gala­man kolek­tif. Eksis­ten­si kolek­tif, menu­rut­nya, tidak per­nah berdiri sendiri, melainkan tum­buh dari keber­samaan, relasi yang dirawat, dan upaya bersama untuk terus hadir.

Pem­bukaan pam­er­an telah terse­leng­gara den­gan dis­e­marakkan oleh penampi­lan sejum­lah band asal Tulun­ga­gung, yaitu Kiko, Okiska, Hanevia, dan Nem­men Band. Penampi­lan mere­ka berhasil meme­ri­ahkan suasana pem­bukaan sekali­gus menghibur para pengunjung

Fatoni berharap penye­leng­garaan pam­er­an pada tahun men­datang dap­at lebih berfokus pada apre­si­asi karya seni, meli­batkan lebih banyak sen­i­man, ser­ta dike­mas secara lebih pro­fe­sion­al. Ia juga menam­bahkan bah­wasan­nya sete­lah pem­bukaan pam­er­an kegiatan lebih difokuskan pen­gun­jung datang menikmati dan men­gapre­si­asi karya, tidak ada kegiatan lain.

 “Kalau tujuh hari berikut­nya tidak ada aktiv­i­tas lain. Aktiv­i­tas hanya ada saat pem­bukaan. Untuk hari-hari selan­jut­nya, kami berharap orang-orang datang ke sini memang untuk menikmati dan men­gapre­si­asi karya, bukan kare­na ada acara lain­nya,” Pungkas Fatoni.

Penulis: Aina Nur
Reporter: Sania
Redak­tur: Sifana Sofia