Pro­gram Kar­tu Indone­sia Pin­tar Kuli­ah (KIP‑K) ditu­jukan seba­gai fasil­i­tas bagi maha­siswa yang terindikasi kurang mam­pu untuk men­gak­ses pen­didikan ting­gi. Ide­al­nya, dana yang men­galir diu­payakan tan­pa ter­ja­di mal­ad­min­is­trasi. Namun di lapan­gan, per­soalan keter­lam­bat­an pen­cairan dana kem­bali muncul.

Iro­nis­nya, per­soalan ini muncul di ten­gah besarnya anggaran yang telah dialokasikan pemer­in­tah. Pada tahun 2025, Menteri Keuan­gan menyalurkan KIP‑K kepa­da 1.040.192 maha­siswa den­gan anggaran Rp14,698 tril­i­un. Bahkan pada 2026, berdasarkan data dari Pusat Pem­bi­ayaan dan Ases­men Pen­didikan Ting­gi (Kemdik­ti­sain­tek), anggaran pro­gram ini meningkat men­ja­di sek­i­tar Rp15,3 tril­i­un den­gan tar­get pener­i­ma 1.047.221 mahasiswa.

Angka terse­but menun­jukkan bah­wa secara kebi­jakan negara sebe­narnya memi­li­ki komit­men besar ter­hadap akses pen­didikan ting­gi. Namun real­i­tas di per­gu­ru­an ting­gi ser­ing kali berbe­da. Anggaran besar tidak selalu berar­ti dis­tribusi yang cepat dan tepat waktu.

Mis­al­nya, di Uni­ver­si­tas Islam Negeri Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah Tulun­ga­gung ter­da­p­at sek­i­tar 2.200 maha­siswa pener­i­ma KIP‑K. Bagi maha­siswa terse­but, bea­siswa bukan sekadar ban­tu­an pen­didikan, tetapi juga sum­ber uta­ma untuk memenuhi kebu­tuhan hidup sela­ma kuli­ah. Keti­ka pen­cairan ter­lam­bat, kon­sekuensinya seder­hana namun serius “maha­siswa harus menung­gu tan­pa kepastian”.

Menung­gu pen­cairan dana KIP‑K ini berdampak pada pem­ba­yaran Uang Kuli­ah Tung­gal (UKT) seti­ap semes­ter. Keti­ka ter­lam­bat mem­ba­yar UKT, maha­siswa tidak dap­at men­gak­ses dan memil­ih mata kuli­ah yang terse­dia dalam IRS. Aki­bat­nya, maha­siswa tidak dap­at memil­ih mata kuli­ah dan pem­i­natan yang diinginkan sehing­ga hanya men­da­p­atkan kuo­ta yang ter­sisa ser­ta tidak ter­catat dalam daf­tar hadir perkuliahan.

Rek­torat mere­spons hal ini den­gan men­gelu­arkan Surat Nomor 1105/Un.18/B.I.2/PP.00.9/02/2026 seba­gai dis­pen­sasi bagi 441 maha­siswa yang ter­catat ter­lam­bat mener­i­ma bea­siswa. Surat terse­but mem­berikan kebi­jakan penun­daan pem­ba­yaran Uang Kuli­ah Tung­gal (UKT) bagi maha­siswa pener­i­ma KIP Kuli­ah on going semes­ter genap 2025 yang dananya masih dalam pros­es pencairan.

Melalui surat terse­but, dosen dim­inta tetap mem­berikan kesem­patan kepa­da maha­siswa yang belum mem­ba­yar UKT dan belum mem­pro­gram IRS di SIAKAD untuk mengiku­ti perku­li­a­han seba­gaimana mestinya. Maha­siswa diwa­jibkan melakukan pem­ba­yaran UKT ser­ta pengisian IRS sete­lah dana KIP Kuli­ah masuk ke reken­ing mere­ka sehing­ga data perku­li­a­han dap­at ter­catat kem­bali dalam sis­tem SIAKAD dan daf­tar hadir perku­li­a­han. Seba­gian maha­siswa harus menun­da pem­ba­yaran kebu­tuhan akademik, semen­tara yang lain ter­pak­sa men­cari cara berta­han den­gan sum­ber daya yang terbatas.

Namun kebi­jakan dis­pen­sasi terse­but pada dasarnya hanya bersi­fat solusi semen­tara. Surat itu memang mem­beri ruang bagi maha­siswa untuk tetap mengiku­ti perku­li­a­han meskipun belum mem­ba­yar UKT atau mem­pro­gram Isian Ren­cana Stu­di (IRS), tetapi tidak ser­ta-mer­ta menye­le­saikan akar per­soalan keter­lam­bat­an pen­cairan dana KIP‑K. Maha­siswa tetap bera­da dalam posisi menung­gu hing­ga dana benar-benar masuk ke reken­ing mere­ka agar pros­es admin­is­trasi akademik dap­at ber­jalan normal.

Situ­asi ini menun­jukkan bah­wa per­soalan keter­lam­bat­an pen­cairan tidak berhen­ti pada lev­el maha­siswa atau kam­pus sema­ta. Keti­ka keter­lam­bat­an ter­ja­di beru­lang, per­tanyaan yang lebih men­dasar muncul men­ge­nai bagaimana sis­tem penyalu­ran bea­siswa terse­but dikelola.

Di titik ini­lah per­ha­t­ian per­lu diarahkan pada mekanisme man­a­je­men pro­gram KIP‑K secara keselu­ruhan, mulai dari pros­es admin­is­trasi hing­ga koor­di­nasi antar­lem­ba­ga yang ter­li­bat. Jika dana telah dialokasikan tril­i­u­nan rupi­ah, sis­tem penyalu­ran­nya seharus­nya mam­pu men­jamin bah­wa ban­tu­an terse­but sam­pai kepa­da maha­siswa tepat waktu.

Per­tanyaan yang kemu­di­an muncul adalah: di mana letak ham­bat­an sebe­narnya? Apakah pada pros­es admin­is­trasi kam­pus? Apakah pada sinkro­nisasi data maha­siswa dalam sis­tem nasion­al seper­ti PDDik­ti? Ataukah pada mekanisme birokrasi antara per­gu­ru­an ting­gi dan kementerian?

Seba­gai pro­gram strate­gis negara, KIP‑K seharus­nya men­ja­di sim­bol keber­pi­hakan negara ter­hadap maha­siswa dari kelu­ar­ga kurang mam­pu. Namun keti­ka pen­cairan­nya ter­lam­bat, pro­gram ini jus­tru meng­hadirkan paradoks: ban­tu­an yang dimak­sud­kan untuk mem­ban­tu, tetapi dalam prak­tiknya menim­bulkan keti­dak­pas­t­ian bagi penerimanya.

Kare­na itu, transparan­si dan per­baikan sis­tem penyalu­ran men­ja­di hal yang mende­sak. Maha­siswa berhak menge­tahui bagaimana pros­es pen­cairan ber­jalan dan apa yang menye­babkan keterlambatan.

Pada akhirnya, pen­didikan adalah inves­tasi masa depan bangsa. Pro­gram seper­ti KIP‑K tidak boleh berhen­ti pada angka anggaran atau lapo­ran kebi­jakan sema­ta. Pro­gram ini harus benar-benar hadir seba­gai ban­tu­an yang tepat sasaran, tepat wak­tu, dan dap­at dian­dalkan oleh maha­siswa yang membutuhkannya.

Sebab bagi seba­gian maha­siswa, menung­gu dana KIP‑K bukan sekadar menung­gu ban­tu­an cair, melainkan menung­gu kepas­t­ian untuk tetap bisa berta­han di bangku kuli­ah.

Penulis: Muh. Siro­jul M.
Redak­tur: Haidar Noufal
Ilus­trasi: Faizal Tamam