Kata Bapak,
bangsa kami besar, namun lebih besar penderitaan rakyat ketimbang perut para pejabat.
Kata Bapak,
negara kami berdaulat, namun kedaulatan kerap diambil kekuasaan, dan tak pernah kembali kepada rakyat.
Kata Bapak,
kerakyatan kami dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan—namun hikmat yang dipuji lebih lihai merawat penindasan ketimbang keadilan.
Kata Ibu,
Bapak dulu berjuang demi kemanusiaan, namun kini lebih menuhankan manusia demi aman dari pengadilan.
Bu, Pak,
kami lelah dengan ketamakan.
kami muak dengan kebohongan.
Namun disisa kesadaran,
kami masih menaruh secercah harapan pada kebenaran—meski kerap dikelabui oleh keangkuhan.
Pak, Bu,
dengarkan jeritan jalanan, bisikan perut kelaparan yang lebih jujur dari politik anggaran, dan tatapan anak-anak yang belajar berharap di tengah kenyataan yang tak menyenangkan.
Kami tahu, setiap tahun kami menabur spirit perjuangan, menyebut nama-nama yang gugur dalam medan peperangan hingga pembaktian—guna mengulang doa yang sama:
menumbuhkan keberanian,
menegakkan keadilan,
menghidupkan kemanusiaan.
Namun di luar seremoni itu, kami masih menuntut keberanian menjelma tindakan, nurani menegakkan keadilan, dan kemanusiaan hidup abadi dalam segenap insan.
Berhentilah merawat kekecewaan,
sebab dari luka yang kalian abaikan,
perlawanan akan tumbuh—pelan, sunyi, namun pasti memorakporandakan kebatilan.
Penulis: Arie Muslichudin
Redaktur: Sofia Sifana