Subscribe Now

* You will receive the latest news and updates on your favorite celebrities!

Trending News
By using our website, you agree to the use of our cookies.

Penulis: Asri S

Opini

Teori Reversibel Munir 

Peruba­han ire­versibel yang mem­ben­tuk zat baru meru­juk sifat kimia. Jika kecom­brang atau Etlingera ela­tior berbun­ga, kemu­di­an gugur dan busuk, akankan sel-sel­nya yang mati kem­bali berme­tab­o­lisme dan hidup? Tidak. Busuk ialah satu pemisalan sifat kimia yang mudah dite­mukan. Lalu saat hukum tak bek­er­ja seu­tuh­nya, meny­im­pan fakta…

Opini

Ketika Senior Mendiskriminasi, Lakukan Hal Ini 

Bagaimana rasanya seba­gai junior? Pasti ser­ba salah dan terkekang. Tapi, apa jadinya jika junior men­gang­gap senior melakukan diskrim­i­nasi? Senior yang tam­pak mem­be­dakan junior yang satu den­gan yang lain? Meskipun demikian, diskrim­i­nasi mungkin tidak sesung­guh­nya ter­ja­di, artinya senior melakukan kesala­han yang ter­li­hat seper­ti diskrim­i­nasi (sen­ga­ja ataupun tidak).…

Cerpen

Ariman (3) 

Malam ini aku menaku­ti wani­ta yang ber­jalan seo­rang diri. Kemu­di­an aku menangkap beber­a­pa pemu­da yang mabuk. Wujud­ku ̶ Ari­man ̶ mem­beri keku­atan yang mem­bu­atku seba­gai manu­sia super atau seba­liknya, mon­ster. Malam ini aku men­gawasi Romafi. Kuden­gar dia orang ter­akhir yang dite­mui Wirat­ma ̶ seti­daknya itulah…

Cerpen

Ariman (2) 

Romafi men­gangkat pon­sel dan ter­ce­nung. Di seberang, Pro­fe­sor Wirat­ma melam­bai sem­bari berlari padanya. Lam­pu jalan berke­lip aneh keti­ka dia melaluinya. Romafi memikirkan apa yang telah Pro­fe­sor lakukan. Orang itu memang­gilnya sebelum mata­hari berge­merisik kelu­ar. Kemu­di­an Romafi menut­up pon­sel dan menga­mati jalanan. Mata lela­ki itu awas terhadap…

Cerpen

Ariman 

Udara mencekik kerongkon­gan­nya. Tem­pat persem­bun­yian gadis itu seper­ti ner­a­ka. “Brengsek!” umpat Pro­fe­sor. Tabung reak­si mele­tup­kan gelem­bung jing­ga dan meny­ibakkan aro­ma busuk. Lalu lela­ki itu meng­gan­ti­nya den­gan tabung reak­si yang lain. Ania menga­mati den­gan gugup. Celah lemari mem­per­li­hatkan bagaimana Pro­fe­sor melu­ap­kan ama­rah ter­hadap cairan jing­ga tersebut.…

Cerpen

Tumbal 

okan menumpahkan susu di samp­ing peti­lasan Mbah Sumede. Bibirnya komat-kamit lak­sana dukun. Dia berusa­ha mer­a­palkan mantra hafalan­nya sep­a­n­jang ming­gu. “Biarkan­lah saya menang,” katanya. “Jika pun benar, akan ada banyak sesem­ba­han Eyang.” Menden­gar per­mintaan­nya, Mawut mem­inc­ingkan matanya yang kebas sebe­lah. Dia tidak sekalipun mem­bayangkan bah­wa hari ini…