Tulungagung – Suraci, sebuah film pendek memuat kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga ekosistem. Film karya anak muda Tulungagung, Rakha Magelhaens ini tayang mewarnai kegiatan Puringrootsfest di Warung Edukasi Taman Puring, pada Sabtu 14 Februari lalu. Film tersebut ditayangkan dalam sesi nonton bareng dan diskusi sebagai pembuka sebelum kegiatan pembersihan sungai pada Minggu paginya.
Rakha membuat film ini berfokus pada kisah anak kecil bernama Suraci yang ingin mengurangi panas matahari sebagai upaya menolong ibunya bekerja di bawah pancaran terik mentari. Pengemasan film dibuat melalui kombinasi antara animasi dan live action.
Berangkat dari kegemaran dengan animasi hingga membuat karya sendiri, Rakha membawa Suraci ke ajang internasional. Karyanya telah tayang di berbagai negara hingga mendapat penghargaan internasional, di antaranya official selection di Jogja Asean-Netpac Film Festival 2024, One World One Flower International Buddhist Film Festival 2025 (Korea Selatan), dan Frome International Climate Film Festival 2025 (United Kingdom). Selain itu, Suraci juga berhasil dinobatkan sebagai winner dalam Mokkho International Film Festival 2025 (India) serta Finalist XV Kinofestival Light of the world 2025.
Pemilihan judul “Suraci” diambil Rakha dengan membalikan kata yang awalnya Icarus menjadi “Suraci”. Rakha menjelaskan, ia terinspirasi dari tokoh mitologi Yunani, yakni Icarus yang pergi ke matahari dengan kesombonganya dan terbakar.
Rakha menghadirkan Film Suraci sebagai media untuk menyadarkan generasi muda melalui pendekatan yang dibalut animasi. Sutradara Suraci ini sadar bahwa edukasi kepada generasi muda penting dilakukan agar anak muda peduli terhadap tercemarnya lingkungan.
“aku juga suka animasi kan. Jadi, setengahnya aku bikin animasi gitu biar lebih mudah menyampaikannya ke generasi selanjutnya.” Ujar Rakha
Dalam sesi diskusi, pemutaran Suraci mendapat dukungan dari narasumber, yakni Harun selaku penggiat lingkungan dan Kasan Kurdi, sutradara film Before You Eat. Harun menilai generasi muda perlu sadar menjaga lingkungan sejak dini. Ketika edukasi tidak dilakukan ke anak muda, maka siapa lagi yang akan merawat dan melindungi lingkungan sekitar.
“film Suraci ini penting untuk diputar di sekolah dan di lembaga-lembaga pendidikan anak, itu sangat penting.” Ucap Harun.
Pentingnya edukasi meski lewat film dijelaskan oleh Kasan dengan melihat realitas manusia yang telah berada ditahap konsumtif sehingga pemanfaatan sumber daya alam tidak seimbang dengan gaya hidup manusia yang rakus. “Jadi, kita terlalu serakah” tegas kasan.
Menurut Harun manusia harus sadar bahwa lingkungan merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan. Tanpa alam, tidak akan ada aktivitas, pekerjaan, maupun proses kehidupan yang dapat berlangsung. Kelestarian alam bukan sekadar isu tambahan, melainkan fondasi utama yang menopang seluruh aspek kehidupan manusia.
“Tidak ada ekonomi, tidak ada makanan” jelas Harun.
Dengan diadakannya nonton bareng dan diskusi Haris selaku ketua panitia berharap seluruh lapisan masyarakat, terkhusus generasi muda lebih peka terhadap pelestarian lingkungan. Haris juga ingin acara ini menjadi langkah awal edukasi akan kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar. “semoga acara ini sangat bermanfaat dan menyadarkan banyak kalangan pemuda terutama dan masyarakat Tulungagung itu sendiri untuk sadar terhadap krisis lingkungan.” Terang Haris.
Penulis: Rahmat Setiadi
Redaktur: Muh. Sirojul
Reporter: Aina, Luluk