Judul : Broken Strings
Penulis : Aurélie Moeremans
Penerbit : Ohara Books
Tahun terbit : 2026
Jumlah halaman : 276 halaman
ISBN : 978–634-75–5200‑6
Rilisnya buku digital Broken Strings karya Aurélie Moeremans pada 10 Oktober 2025 telah memicu perhatian publik di awal tahun 2026. Buku bergenre memoar atau kisah nyata ini bukan sekedar catatan harian seorang public figure, melainkan dokumen sosial yang membuka fenomena child grooming. Awalnya, Aurélie menyajikan buku ini dalam bahasa Inggris, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia setelah menerima banyak tanggapan positif dari publik.
Lewat buku ini, Aurélie membawa pembaca menyusuri waktu pada masa ia berusia 15 tahun sebagai penyintas child grooming. Perjalanan dimulai ketika ia memutuskan pindah dari Belgia ke Indonesia bersama ibunya untuk meniti karier di dunia hiburan. Pada awalnya, kehidupannya berjalan baik, bahkan ia sudah mampu membantu perekonomian keluarga. Namun, titik balik terjadi ketika ia bertemu Bobby (nama samaran), seorang pria berusia sekitar 29 tahun. Mereka dipertemukan dalam sebuah proyek iklan pasangan yang sebenarnya diperuntukkan bagi model dewasa.
Pada awal pertemuan, Bobby tampil perhatian dan manis, membuat Aurélie merasa istimewa dan dicintai. Perhatian itu perlahan membuat Aurélie merasa berutang budi atas setiap waktu yang Bobby berikan. Ibunya mengetahui hubungan mereka, termasuk perbedaan usia yang jauh, namun menganggapnya bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Sayangnya, sikap permisif tersebut justru menjadi awal trauma bagi Aurélie.
Perhatian Bobby hanyalah topeng, ia mulai menuntut. Bobby kerap memposisikan diri sebagai korban ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ia memanipulasi emosi Aurélie yang saat itu masih sangat polos. Ia merampas keperawanan Aurélie dan meminta foto-foto pribadi. Peristiwa traumatis tersebut meninggalkan luka, hingga berakibat ganguan psikologis.
Namun, di balik kegelapan yang ia lalui, narasi dalam buku ini perlahan menuntun pembaca menuju jalan yang terang. Memoar ini tidak hanya berhenti pada luka, tetapi juga membagikan proses pemulihan yang ia jalani bagaimana ia bangkit berdamai dengan masa lalu, membangun kembali harga diri, dan belajar mencintai dirinya sendiri. Aurélie mulai terbuka kepada orang tuanya dan berani menyuarakan lukanya, mengubah trauma menjadi kekuatan untuk bertahan hidup.
Dalam salah satu bagian yang menyentuh, Aurélie menegaskan bahwa keberaniannya bersuara adalah bentuk solidaritas bagi mereka yang masih terjebak dalam sunyi.
“Buku ini bukan lagi milikku sendiri. Buku ini milik setiap gadis yang pernah dibungkam, setiap penyintas yang masih memikul beban dalam diam. Buku ini untuk kita.”
Kutipan ini menjadi pengingat bagi para penyintas bahwa mereka tidak berjalan sendirian dan suara mereka memiliki kekuatan untuk meruntuhkan tembok stigma yang selama ini mengurung mereka.
Selain memuat dorongan kekuatan bagi penyintas kekerasan seksual dan peringatan bagi orang tua agar lebih peka terhadap relasi yang tidak sehat. Buku ini juga membuka mata kita bagaimana posisi perempuan dalam konstruksi sosial masyarakat. Perempuan sering kali disalahkan dalam kasus grooming, pelecehan, dan kekerasan seksual. Padahal, perempuan adalah pihak yang paling dirugikan. Masyarakat lebih sering menasihati perempuan untuk menjaga cara berpakaian, tetapi jarang menasihati laki-laki untuk mengendalikan perilaku seksualnya.
Pertanyaan tentang keadilan bagi perempuan pun muncul, terutama ketika lembaga yang seharusnya melindungi perempuan dan anak tidak sepenuhnya berpihak pada korban. Kondisi ini semakin memprihatinkan ketika tahun 2026 muncul kabar kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada layanan korban kekerasan seksual, seperti pembiayaan visum yang tidak lagi ditanggung di beberapa daerah. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan besar tentang akses keadilan bagi korban yang tidak memiliki privilege ekonomi atau kekuasaan.
Secara keseluruhan, Broken Strings bukan sekadar memoar personal, tetapi juga dokumen sosial yang menyingkap praktik grooming yang kerap disembunyikan di balik relasi kuasa dan normalisasi budaya. Meski memiliki keterbatasan dalam struktur narasi dan kedalaman emosi, buku ini menghadirkan kesaksian autentik yang penting bagi pembaca, orang tua, pendidik, serta institusi yang mengklaim diri sebagai pelindung perempuan dan anak. Kehadiran buku ini menegaskan bahwa kekerasan seksual bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan keberpihakan nyata dari masyarakat dan negara. Dengan membaca buku ini, pembaca diajak untuk tidak hanya berempati, tetapi juga mempertanyakan sistem yang selama ini gagal melindungi korban.
Buku ini dibagikan secara gratis melalui Instagram pribadi Aurélie, sehingga siapa pun dapat mengaksesnya dengan mudah. Selain versi digital, buku ini juga tersedia dalam bentuk fisik bagi pembaca yang menginginkan pengalaman membaca yang lebih fokus dan mendalam. Mengingat isi buku memuat pengalaman pilu, Aurélie mencantumkan trigger warning, peringatan bahwa beberapa bagian buku mungkin terasa berat atau memicu ingatan traumatis bagi penyintas dan pembaca sensitif.
Penulis: Luluk Nurhayati
Redaktur: Sifana Sofia