Berbe­da den­gan tahun sebelum­nya, Sen­at Maha­siswa (SEMA) Uni­ver­si­tas Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah Tulun­ga­gung mengge­lar Sidang Musyawarah Per­wak­i­lan Maha­siswa (MPM) pada awal peri­ode kepen­gu­ru­san, tepat­nya pada 21 April 2026. Pelak­sanaan sidang yang seharus­nya men­ja­di forum strate­gis dalam meru­muskan arah kebi­jakan organ­isasi ser­ta pengam­bi­lan kepu­tu­san di tingkat maha­siswa, jus­tru men­u­ai berba­gai sorotan dari kalan­gan mahasiswa.

​Sorotan uta­ma muncul pada aspek man­a­je­men wak­tu pub­likasi yang dini­lai belum opti­mal. Berdasarkan pengu­mu­man res­mi, infor­masi terkait pelak­sanaan sidang baru dis­am­paikan pada Ming­gu, 19 April 2026 pukul 20.30 WIB, atau hanya dua hari sebelum kegiatan berlang­sung. Salah satu peser­ta, Ket­ua Dewan Ekseku­tif Maha­siswa (DEMA) Roqi Wildana, menyam­paikan bah­wa infor­masi men­ge­nai ren­cana sidang sebe­narnya telah beredar sejak beber­a­pa wak­tu sebelum­nya, namun belum bersi­fat final dan cen­derung sim­pang siur.

Sek­i­tar sem­i­ng­gu sebelum­nya memang sudah ada infor­masi bah­wa akan diadakan musyawarah MPM tahun ini. Akan tetapi, infor­masinya masih belum jelas dan belum ada kepas­t­ian,” ujarnya.

​Kon­disi ini berdampak pada kesi­a­pan peser­ta dalam mengiku­ti jalan­nya sidang. Peser­ta men­gaku belum memi­li­ki cukup wak­tu untuk mengka­ji AD/ART secara menyelu­ruh, pada­hal doku­men terse­but men­ja­di lan­dasan uta­ma dalam pros­es per­si­dan­gan. Keter­batasan wak­tu per­si­a­pan ini kemu­di­an berim­p­likasi pada jalan­nya forum yang diwar­nai kebin­gun­gan ser­ta perbe­daan pema­haman di antara peserta.

​“Mungkin kede­pan­nya koor­di­nasi dan penyam­pa­ian infor­masi per­lu lebih diper­je­las dan dilakukan lebih awal supaya dari kita juga bisa mem­per­si­ap­kan diri den­gan lebih baik,” jelas Ilma, per­wak­i­lan dari Him­punan Maha­siswa Pro­gram Stu­di  Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

​Selain itu, Ilma juga menyam­paikan kendala tek­nis yang turut mewar­nai jalan­nya sidang.

​“Kalau dari aku prib­a­di, di undan­gan awal kan tem­pat sidan­gnya ter­tulis di Gedung Pra­j­na, tapi terny­a­ta tiba-tiba dipin­dah ke Gedung Per­pus. Itu menu­rutku jadi kendala yang uta­ma. Selain itu, acara juga masih molor, jadi kesan­nya budaya molor masih cukup terasa,” tambahnya.

​Situ­asi terse­but akhirnya men­dorong pre­sid­i­um untuk menyetu­jui penghent­ian semen­tara sidang (dead­lock) hing­ga Senin, 27 April 2026, seir­ing den­gan suasana forum yang semakin tidak kon­dusif. Selain fak­tor kesi­a­pan, kon­disi dead­lock juga dipicu oleh tin­dakan pen­in­jau, M. Fah­mi Ramad­honi, yang mening­galkan forum sebelum sidang selesai.

​Berba­gai per­masala­han juga dis­oroti lang­sung oleh Nadiem Rifqi selaku Wak­il Ket­ua DEMA. Nadiem meni­lai bah­wa kon­disi ini per­lu men­ja­di bahan eval­u­asi bersama, teruta­ma dalam aspek peren­canaan kegiatan, koor­di­nasi antara pihak, ser­ta efek­tiv­i­tas komu­nikasi informasi.

​“Untuk itu, kami melakukan eval­u­asi ter­hadap bagaimana tek­nis pelak­sanaan sidang ini ber­jalan. Hara­pan­nya, ke depan pros­es­nya bisa lebih mak­si­mal dan meng­hasilkan pro­duk atau kepu­tu­san yang lebih baik. Pada dasarnya, eval­u­asi ini kami lakukan seba­gai upaya bersama untuk mem­ban­gun,” jelasnya.

Penulis: Sania & Fildzah
Reporter: Sania, Aqi­la
Redak­tur: Haidar Noufal