Tulun­ga­gung, (23/4/2026) — Gejo­lak pas­ca operasi tangkap tan­gan (OTT) oleh KPK di lingkun­gan Pemer­in­tah Kabu­pat­en Tulun­ga­gung meman­tik aksi demon­strasi maha­siswa turun ke jalan. Jajaran maha­siswa Tulun­ga­gung yang ter­gabung dari beber­a­pa instan­si mem­berikan ulti­ma­tum kepa­da DPRD Tulun­ga­gung untuk mem­bu­ka transparan­si anggaran dalam teng­gat wak­tu 14×24 jam. Aksi ini men­ja­di desakan serius untuk mem­per­ke­tat fungsi pen­gawasan agar keja­di­an seru­pa tidak teru­lang kembali.

Koor­di­na­tor umum aksi, Ikhsan, meny­atakan adanya demon­strasi ini didasari oleh ter­jadinya ker­an­cuan yang dilakukan beber­a­pa peja­bat di Tulun­ga­gung, sekali­gus untuk memas­tikan bah­wa masalah seru­pa yang sudah ter­ja­di dua kali sebelum­nya tidak teru­lang kembali.

Kita bere­flek­si lang­sung keti­ka kemarin beri­ta muncul kare­na ada ker­an­cuan yang dilakukan oleh peja­bat-peja­bat bengis itu. Kita jan­gan sam­pai teru­lang lagi yang keti­ga kalinya dan di Tulun­ga­gung sudah ter­ja­di dua kali,” tegasnya.

Asa, salah satu maha­siswa UIN SATU Tulun­ga­gung juga men­gungkap­kan alasan adanya demon­strasi ini. Menu­rut­nya aksi dipicu oleh isu kri­sis integri­tas yang mem­be­berkan dugaan prak­tik jual beli jabatan yang mengabaikan kom­pe­ten­si. Ia menekankan adanya ketim­pan­gan fungsi dan kecu­ran­gan di tubuh Badan Kepe­gawa­ian dan Pengem­ban­gan Sum­ber Daya Manu­sia (BKPSDM), yang seharus­nya bertang­gung jawab atas kese­jahter­aan ASN, namun jus­tru disinyalir ter­li­bat dalam peny­im­pan­gan birokrasi.

kita mem­ba­has ten­tang BKPSDM, seharus­nya dia men­ja­di penang­gung jawab untuk kese­jahter­aan ASN. Namun, per hari ini terny­a­ta ada kec­u­lasan di situ,” ujarnya.

Aksi demon­strasi dim­u­lai pada pukul 11.38, diiku­ti oleh beber­a­pa instan­si inter­nal UIN SATU Tulun­ga­gung yang ter­diri dari dema uni­ver­si­tas, sema uni­ver­si­tas sam­pai dema fakul­tas dan jajaran di bawah­nya. Selain itu, STAI Dipone­goro dan  organ­isasi maha­siswa ekster­nal juga turut andil dalam kegiatan demon­strasi ini.

Pada pukul 12.16, para demon­stran diper­si­lakan untuk masuk ke hala­man gedung DPRD den­gan hara­pan pros­es demon­strasi ber­jalan lebih kon­dusif. Dalam aksi ini, H. Asrori , H. Reno Mar­di Putro, Andrianto dan H. Sai­ful Anwar selaku anggota DPRD Tulun­ga­gung turut hadir seba­gai per­wak­i­lan untuk meng­hadapi mas­sa demon­stran di hala­man gedung DPRD.

Sejum­lah tun­tu­tan kru­sial dilayangkan, poin uta­ma mende­sak dukun­gan penuh bagi KPK untuk men­gusut tun­tas penye­lidikan korup­si di wilayah terse­but. Selain itu, DPRD ditun­tut bertang­gung jawab atas kese­larasan pelak­sanaan RAPBD ser­ta mem­per­ke­tat pen­gawasan real­isasi pro­gram di lapan­gan agar tepat sasaran. Refor­masi birokrasi juga men­ja­di sorotan, di mana kin­er­ja BKPSDM dalam penyusunan for­masi pegawai dan jam­i­nan kese­jahter­aan ASN harus segera dieval­u­asi. Di sisi lain, Inspek­torat dim­inta melakukan audit ulang ter­hadap pro­gram pemer­in­tah secara transparan. Seba­gai ben­tuk per­tang­gung­jawa­ban pub­lik, Plt. Bupati didesak menyam­paikan per­mo­ho­nan maaf ter­bu­ka kepa­da masyarakat. Ter­akhir, pemer­in­tah daer­ah diberikan teng­gat wak­tu 14x24 jam untuk mem­bu­ka akses transparan­si anggaran secara luas yang dap­at dipan­tau lang­sung oleh selu­ruh war­ga Tulungagung.

Menang­gapi tun­tu­tan terse­but, pihak DPRD Kabu­pat­en Tulun­ga­gung meny­atakan dukun­gan­nya ter­hadap tun­tu­tan transparan­si anggaran dan pen­gawasan birokrasi. Salah satu per­wak­i­lan dewan, Asrori, mene­gaskan bah­wa pihaknya berkomit­men penuh untuk men­gaw­al aspi­rasi terse­but sela­ma bera­da dalam kori­dor hukum yang berlaku.

Sela­ma transparan­si itu dilin­dun­gi oleh undang-undang, harus kita dukung. Jan­gankan 14x24 jam, hari ini juga kalau dilin­dun­gi undang-undang, kena­pa tidak?” tegas Asrori di hada­pan mas­sa aksi.

Ia juga menam­bahkan men­ge­nai beban moral seba­gai wak­il raky­at pas­ca-OTT, “Gaji saya halal kalau saya sudah mengin­gatkan adanya penyelewen­gan oleh para pemangku kebi­jakan di ekseku­tif. Itu baru gaji saya halal.”

Mere­spons komit­men yang dis­am­paikan pihak leg­is­latif, Koor­di­na­tor Umum aksi demon­strasi mene­gaskan bah­wa pihaknya tidak akan sekadar memegang jan­ji man­is terse­but. Ia berharap agar komit­men yang dis­am­paikan DPRD bukan hanya sekadar upaya meredam mas­sa, melainkan langkah nya­ta dalam melakukan peruba­han di Tulungagung.

Hara­pan kita transparan­si segera untuk dibu­ka lebar. Bisa diak­ses oleh semua masyarakat Tulun­ga­gung,” ujar Ikhsan selaku koor­di­na­tor umum.

Aksi ini hadir tidak sema­ta-mata lang­sung ter­jun ke lapan­gan, melainkan melalui pros­es kajian pan­jang. Koor­di­na­tor umum meny­atakan bah­wa sejak isu ini men­cu­at ke pub­lik, kelom­pok maha­siswa ini ter­catat telah mengge­lar sebanyak lima kali kajian inten­sif. Langkah ini diam­bil untuk memas­tikan bah­wa seti­ap tun­tu­tan yang akan dibawa nan­ti­nya memi­li­ki lan­dasan data yang kuat dan tidak hanya bersi­fat emosional.

 “Kajian terus kemarin sudah bera­pa hari ya? Kajian sek­i­tar lima kali. Lima kali sudah,” pungkas Ikhsan. 

Penulis: Fatimah Azzahra

Redak­tur: Sifana Sofia

Doku­men­tasi: Tim LPM Dimensi