diam-diam anakku di sekolah tergabung
sebagai rantai makanan
dan ompreng itu menjadi penanda
betapa ia siklus yang terhubung rantai makanan
pada wajah remaja dan tak tahu apa-apa
ia adalah proses memakan dan dimakan
ompreng saling tumpang saling tindih
anakku, ya anakku, dalam polos bocah
tanpa disadari tergabung ekosistem
saling memakan dan dimakan
betapa ompreng itu aliran energi
lebih kompleks dari proses memakan dan dimakan
antar makhluk hidup, wajah remaja,
tak tahu apa-apa, polos bocah
diam-diam anakku dan teman-temannya
tergabung dalam jaring-jaring makanan
konsumen yang diarahkan
bukan hak, ompreng terarah kewajiban
pada tiap sajiannya adalah ketergantungan
organisme lain berderet anggaran
dan anakku, dan teman-temannya
siklus dan proses yang lebih kompleks
jaring-jaring herbivora, karnivora, omnivora
dan diam-diam orang tua mereka
menjadi produsen dalam jaring-jaring makanan
tiap tetes keringat mereka adalah organisme
sebagai produksi pajak,
dalam siklus hanya dianggap peran
tiap sengal nafas mereka, sumber energi dan oksigen
negara memberi stigma kewajiban
lalu tiba-tiba orang tua mereka
dalam jaring-jaring makanan
dianggap sisa makhluk hidup, telah mati
seperti bangkai hewan
semacam gugurnya tumbuhan
maka berkuasalah para pengurai
dalam jaring-jaring makanan
mengurai anakku, teman-temannya,
dan juga orang tua mereka
semacam bakteri, jamur, atau cacing tanah
sebagai zat anorganik
nutrisi itulah yang kemudian
menggelembungkan perut dapur-dapur dadakan
Penulis: Supali Kasim (Kontributor)