Kabar melam­bat­nya pen­cairan dana bea­siswa KIP‑K kem­bali meng­han­tui para pene­r­i­manya. Seper­ti semes­ter genap lalu, dana yang tak kun­jung sam­pai men­ja­di per­soalan pener­i­ma dalam menye­le­saikan admin­is­trasi di semes­ter baru. 

Per­soalan pada tahun ini bermu­la dari ter­bit­nya Surat Edaran Kementer­ian Aga­ma Repub­lik Indone­sia Nomor B‑4231/SJ/B.X/PP.04/08/2026 tang­gal 11 Agus­tus 2026 yang ditan­datan­gani Kepala Pusat Pem­bi­ayaan Pen­didikan Aga­ma dan Pen­didikan Keaga­maan, Ruch­man Basori. Dalam edaran itu dise­butkan bah­wa Kementer­ian Aga­ma mem­inta pimp­inan Per­gu­ru­an Ting­gi Keaga­maan Negeri untuk mem­berikan penun­daan pem­ba­yaran Uang Kuli­ah Tung­gal bagi maha­siswa pener­i­ma ban­tu­an sam­pai dana res­mi diter­i­ma.  Meskipun dekrit dis­pen­sasi penun­daan pem­ba­yaran UKT telah dikelu­arkan oleh pemer­in­tah pusat, namun hal itu tak cukup menye­le­saikan per­masala­han yang ada.

Dampak dari penun­daan ini dite­mukan penulis keti­ka melakukan riset kepa­da 14 maha­siswa pener­i­ma KIP‑K di UIN SATU.

Dari belasan aspi­rasi yang masuk sep­a­n­jang 8 hing­ga 10 Sep­tem­ber 2026 itu, benang mer­ah­nya nyaris ser­agam, dana yang dijan­jikan cair dalam rentang wak­tu Juli sam­pai Agus­tus, Nyatanya sam­pai perten­ga­han Sep­tem­ber pun tia­da kabar dana masuk dalam reken­ing. Kemu­nduran bea­siswa ini datang di wak­tu yang pal­ing tidak tepat, yakni sete­lah  adanya Kuli­ah Ker­ja Nya­ta (KKN) dan dilan­jut peri­ode mag­a­ng maha­siswa,  dua agen­da yang meng­habiskan biaya tak kecil dalam satu tahun perkuliahan.

Bagi seba­gian maha­siswa, KIP‑K bukan sekadar uang saku tam­ba­han, melainkan penopang uta­ma roda ekono­mi kelu­ar­ga. Salah satu respon­den mencer­i­takan dirinya adalah anak sulung dari kelu­ar­ga yang hanya men­gan­dalkan peng­hasi­lan ibu seba­gai pen­jual goren­gan, semen­tara sang ayah tak lagi bisa bek­er­ja kare­na stroke. Uang KIP‑K yang seharus­nya menopang biaya kuli­ah, pada prak­tiknya juga harus diba­gi untuk mem­ban­tu biaya seko­lah adik-adiknya. Keti­ka pen­cairan molor, ia ter­pak­sa men­cari pin­ja­man ke sana kemari hanya untuk menut­up kebu­tuhan sehari-hari.

Kisah seru­pa beru­lang di ham­pir semua tang­ga­pan. Ada yang menye­but tabun­gan­nya sudah habis untuk mem­ba­yar UKT lebih dulu, ada pula yang ter­pak­sa berhutang demi bisa mengiku­ti Isian Ren­cana Stu­di (IRS) dan mendaf­tar PPL tepat wak­tu. Salah satu maha­siswa bahkan men­gaku kalah dalam sis­tem perebu­tan tem­pat mag­a­ng atau biasa dise­but “war tem­pat mag­a­ng” kare­na belum melu­nasi UKT, sehing­ga ia ditem­patkan di lokasi yang tidak sesuai keing­i­nanya. Ada pula yang kehi­lan­gan kesem­patan mela­mar ker­ja kare­na tidak bisa men­gu­rus surat keteran­gan aktif kuli­ah, sebab sta­tus­nya yang masih belum melu­nasi UKT.

Sun­yinya infor­masi kapan bea­siswa ini turun turut mewar­nai fenom­e­na ini. Beber­a­pa maha­siswa mem­per­tanyakan men­ga­pa tidak ada klar­i­fikasi res­mi men­ge­nai penye­bab dan esti­masi wak­tu pen­cairan, pada­hal infor­masi seseder­hana itu bisa banyak meredakan kece­masan. Salah satu respon­den bahkan men­geluhkan bah­wa grup What­sApp maha­siswa KIP‑K yang semestinya men­ja­di ruang infor­masi pun meny­isakan pesan-pesan yang telah lalu. Iro­nis­nya, keti­dak­pas­t­ian ini terasa lebih pahit keti­ka diband­ingkan den­gan kam­pus lain, salah satu maha­siswa menye­but teman­nya di kam­pus Bli­tar sudah mener­i­ma pen­cairan sejak awal Sep­tem­ber, semen­tara di UIN SATU belum ada tan­da-tan­da pen­cairan akan segera turun. Sikap pasif dan ter­tut­up dari birokrasi kam­pus semakin mem­per­li­hatkan abainya kam­pus ter­hadap kon­disi nya­ta maha­siswa kurang mampu

Surat edaran dis­pen­sasi UKT dari Kementer­ian Aga­ma sesung­guh­nya niat baik yang patut diapre­si­asi. Namun dis­pen­sasi hanya menun­da pem­ba­yaran, bukan menghi­langkan beban.

Meli­hat dampak yang ditim­bulkan, pihak pen­gelo­la UIN SATU Tulun­ga­gung sudah sep­a­tut­nya mengam­bil langkah proak­tif dan tidak sekadar berlin­dung di balik pros­es admin­is­tratif pusat. Kam­pus harus segera mer­ilis perny­ataan res­mi men­ge­nai sta­tus pen­cairan, mem­per­mu­dah selu­ruh akses layanan akademik dan surat-menyu­rat maha­siswa pener­i­ma KIP Kuli­ah, ser­ta mem­ban­gun pola komu­nikasi yang transparan dan berem­pati demi men­jamin kelan­car­an stu­di mahasiswanya.

Per­tanyaan men­dasar yang harus kita lem­parkan ke muka para pengam­bil kebi­jakan adalah: mau sam­pai kapan “tra­disi” penun­daan KIP Kuli­ah ini terus dipeli­hara? 


Penulis: Alif
Redak­tur: Sirojul