TULUNGAGUNG (28/09/26) Unit Kegiatan Maha­siswa (UKM) Kesen­ian Sekar Kusir mengge­lar pam­er­an seni rupa berta­juk Tre­ff­punkt yang berlang­sung mulai 28 Sep­tem­ber sam­pai 02 Okto­ber di Gedung Lab Ter­padu. 34 karya seni dihadirkan mulai dari luk­isan, patung clay, insta­lasi, mixed media, hing­ga karya inter­ak­tif yang semuanya meman­jakan mata sekali­gus men­ga­jak pen­gun­jung berefleksi.

Muk­ti selaku Kura­tor Pam­er­an men­je­laskan bah­wa isti­lah Tre­ff­punkt diangkat dari bahasa Jer­man yang memi­li­ki arti “titik temu”. Tema ini dip­il­ih untuk menggam­barkan pros­es manu­sia dalam men­cari mak­na hidup dan merangkai kem­bali kepin­gan jati diri yang sem­pat hilang.

“Tre­ff­punkt di sini menggam­barkan pen­car­i­an jati diri, pen­car­i­an mak­na hidup ten­tang sese­o­rang, jadi aku di dunia ini men­cari apa. Saya sen­ga­ja mem­be­baskan teman-teman pelukis untuk berkarya, baik dari segi art style yang real­is­tis, sur­re­al­is­tis, insta­lasi, lukis, hing­ga art print saya gabung jadi satu, kare­na mak­na titik temu itu sendiri memang mem­perte­mukan berba­gai macam orang,” ujar Muk­ti saat dite­mui di lokasi pameran.

Selu­ruh karya yang dipamerkan meru­pakan hasil pros­es kurasi ketat dari anggota inter­nal UKM Sekar Kusir. Sebelum pam­er­an dige­lar, para peru­pa ter­lebih dahu­lu meny­er­ahkan karya sesuai tema yang dis­ep­a­kati untuk mele­wati taha­pan seleksi.

“Sebelum sub­mit pam­er­an, kita menen­tukan tema dulu, baru dikir­im. Nan­ti ada tes kura­to­r­i­al atau tes kurasi karya mana yang bakal dima­sukkan. Jadi karya-karyanya baru semua, dan artis­nya may­ori­tas memang murni dari anak-anak Sekar Kusir,” jelasnya.

Penataan alur pam­er­an diran­cang secara sis­tem­a­tis den­gan nuansa emo­sion­al yang beragam. Muk­ti mer­an­cang lay­out pam­er­an ter­tu­ju pada satu pin­tu masuk sebe­lah timur taman widya kri­da. Di dalam ruan­gan penataan terba­gi men­ja­di tiga sisi bagian. Sisi per­ta­ma ter­letak di sebe­lah utara seba­gai alur awal pen­gun­jung meli­hat karya, sisi ked­ua di ten­gah-ten­gah ruan­gan, dan keti­ga ter­letak di sebe­lah sela­tan seba­gai akhir per­jalanan pen­gun­jung. keti­ganya diran­cang muk­ti seba­gai satu kesat­u­an dari tema yang diangkat: titik temu.

Luk­isan bertema terang ke gelap di sisi utara (Dimensi/Kholil)

Pada alur awal pen­gun­jung dis­ug­uhkan penggam­baran Tre­ff­punkt yang ter­saji dalam pigu­ra untuk mema­ha­mi arti tema pam­er­an yang diusung. Bergeser sete­lah­nya ter­saji luk­isan yang dita­ta dari tema terang ke gelap.

Karya-karya seni den­gan cara pem­bu­atan yang berbe­da di ten­gah ruan­gan (Dimensi/Kholil)

Menoleh ke arah sela­tan di bagian ten­gah ruan­gan, sorot mata pen­gun­jung ter­tu­ju pada karya yang dis­usun seten­gah lingkaran ke arah barat. Pada bagian ini mem­per­li­hatkan karya den­gan teknik penger­jaan yang berbe­da. Di sisi ini pen­gun­jung selain dia­jak untuk meli­hat karya, juga dia­jak untuk mem­bu­at karya lewat origami.

Luk­isan bertema alam di sisi sela­tan (Dimensi/Kholil)

Menu­ju ke alur ter­akhir, pen­gun­jung akan dis­ajikan luk­isan bertema nature dan dark art. Sete­lah menyak­sikan keselu­ruhan karya, Muk­ti mer­an­cang para pen­gun­jung dap­at menuliskan kata pada lem­bar sticky note yang berisikan ceri­ta atau hara­pan untuk diri mere­ka sendiri pada ker­tas dan ditempel.

Ruang hara­pan di sisi sela­tan (Dimensi/Kholil)

“Sete­lah meli­hat karya dan ceri­ta para sen­i­man, saya ingin para pen­gun­jung men­gungkap­kan ceri­ta atau hara­pan untuk diri mere­ka sendiri. Ini ada hubun­gan­nya sama tema. Saya ingin sese­o­rang yang masuk den­gan kebin­gun­gan atau merasa puz­zling, sete­lah masuk ruan­gan dan akhirnya menulis hara­pan dan meem­ba­ca ceri­ta orang lain agar bisa men­e­mukan kepin­gan puz­zle yang lain,” jelasnya.

Keber­adaan pam­er­an ini men­da­p­at respon hangat dari para maha­siswa yang berkun­jung. Nan­da Rama Putri Aulia, maha­siswa Pro­di Psikolo­gi Islam semes­ter lima, men­gaku san­gat terke­san den­gan keter­bukaan dan keje­lasan mak­na yang dis­am­paikan melalui pam­er­an tersebut.

“Yang pasti keren banget sih kalau menu­rut aku, kare­na ini kan karya-karya maha­siswa. Kalau luk­isan itu emang banyak mak­nanya. Tapi di sini tuh ada nilai plus­nya kare­na mere­ka men­can­tumkan mak­na dari luk­isan itu tadi, jadi kita bisa mema­ha­mi mak­sud dan ceri­ta di balik luk­isan­nya,” ungkap Nanda.

Hal sena­da juga diungkap­kan oleh rekan­nya Adari pro­di yang sama. Menu­rut­nya, pam­er­an seni ini tidak hanya men­ja­di sarana hibu­ran, tetapi juga mem­berikan wawasan ser­ta pen­gala­man baru bagi pengunjung.

“Menu­rut saya ini menam­bah penge­tahuan dan pen­gala­man baru. Kita jadi tahu kalau gore­san-gore­san dari beli­au-beli­aun­ya ini memang ada yang ingin menyam­paikan pesan khusus, mencer­i­takan pen­gala­man diri sendiri, dan masih banyak lagi. Ini seru banget, apala­gi didampin­gi pani­tia yang bisa men­je­laskan den­gan ramah, cocok banget buat refresh­ing,” tuturnya.

Pam­er­an seni Tre­ff­punkt dijad­walkan akan ditut­up pada 02 Okto­ber den­gan agen­da spe­sial beru­pa aksi live mur­al yang akan dis­e­leng­garakan lang­sung dipameran.

Penulis: Din­da Salma
Redak­tur: Haidar Noufal