30 Sep­tem­ber men­ja­di tang­gal yang begi­tu sakral dan erat kai­tanya den­gan PKI. Begi­t­u­lah seti­daknya keber­hasi­lan peredaran narasi pada masa Orde Baru yang men­em­patkan PKI selayaknya tokoh antag­o­nis, dan harus ditumpas hing­ga ke akar-akarnya.

Keber­hasi­lan Soe­har­to mem­bawa pan­dan­gan ten­tang PKI ke masyarakat semakin melan­car­kan genosi­da ter­ja­di saat itu. Pem­bunuhan tujuh jen­dral Angkatan Darat dalam semalam dibalas den­gan pem­ber­an­tasan jutaan orang yang diang­gap anggota, ter­afil­iasi ‚dan teman PKI.

Dalam narasi yang beredar, PKI digam­barkan seba­gai pihak yang meren­canakan dan melak­sanakan kude­ta untuk mere­but kekuasaan dan mendirikan negara komu­nis. PKI, ter­ma­suk organ­isasi sayap­nya seper­ti Ger­wani, dicer­i­takan san­gat sadis. Ceri­ta yang pal­ing mem­bekas yakni per­soalan penyik­saan dan muti­lasi tujuh per­wira di Lubang buaya, pen­con­gke­lan mata, kemalu­an dipo­tong, dan tubuh diiris-iris.

Namun, per­nahkan kita mem­per­tanyakan dasar-dasar narasi terse­but? Bagaimana PKI meren­canakan “kude­ta”? Apa buk­ti konkret yang men­dukung tuduhan itu? Sia­pa tokoh yang sesung­guh­nya mer­an­cang peri­s­ti­wa itu? Per­tanyaan ini ten­tu men­ja­di misteri.

Buku karya John Roosa, Dal­ih Pem­bunuhan Mas­sal: Ger­akan 30 Sep­tem­ber dan Kude­ta Soe­har­to, merun­tuhkan narasi-narasi res­mi yang sudah ada. Pada bagian awal buku, Roosa sudah menekankan, “tidak ada gunanya menulis buku ini seandainya saya menyalahkan PKI”. Hal terse­but akan lang­sung merep­re­sen­tasikan bagaimana inti dari selu­ruh argumentasinya.

Per­ta­ma, Roosa men­e­mukan beber­a­pa kejang­galan pada narasi yang disiarkan di Radio Repub­lik Indone­sia (RRI) pada 1 Okto­ber, sehari sete­lah peri­s­ti­wa 30 Sep­tem­ber. Buk­ti uta­ma yang bersum­ber dari Angkatan Darat memu­at pen­gakuan Kolonel Untung dan Kolonel Abdul Latief yang diang­gap seba­gai antek-antek PKI. Roosa memi­li­ki sali­nan lapo­ran intero­gasi dari penangka­pan terse­but. Memang dite­mukan adanya pen­gakuan Latief bah­wa dirinya mengiku­ti per­in­tah PKI. Namun, saat pen­gadi­lan berlang­sung, dike­tahui bah­wa Latief men­gala­mi infek­si luka tusukan bay­o­net di kaki dan bera­da dalam keadaan seten­gah sadar. Meli­hat hal demikian, Roosa berpen­da­p­at bah­wa kesak­sian yang diper­oleh di bawah tekanan dan sik­saan tidak dap­at diter­i­ma seba­gai buk­ti yang sah.

Ked­ua, dalam narasi res­mi, Sjam (Sjam Kamaruza­man) dan Pono digam­barkan seba­gai fung­sion­aris Biro Khusus PKI yang men­ja­di bawa­han lang­sung Aid­it. Mere­ka diang­gap men­gor­gan­isasi sekelom­pok per­wira militer dan memimpin G30S. Namun, Roosa menun­jukkan kejang­galan yang men­colok: Sjam adalah tokoh yang ham­pir tidak dike­nal di dalam par­tai. Ia tidak per­nah tampil seba­gai pemimpin PKI yang berpen­garuh. Bagaimana mungkin sese­o­rang yang tidak terke­nal diper­caya Aid­it untuk men­jalankan operasi sekom­pleks dan berisiko ting­gi seper­ti mem­ber­sihkan pimp­inan pun­cak Angkatan Darat?

Bene­dict Ander­son dan Ruth McVey sudah meny­atakan ker­aguan ter­hadap kesak­sian Sjam sejak 1978. Mere­ka men­duga Sjam mungkin seo­rang agen gan­da yang lebih banyak bek­er­ja untuk militer dari­pa­da untuk Aid­it dan PKI. Ander­son bahkan mem­per­tanyakan iden­ti­tas Sjam secara ter­bu­ka, “Apakah ia mata-mata Angkatan Darat di dalam jajaran orang-orang komu­nis? Atau dia mata-mata komu­nis di dalam militer? Atau mata-mata untuk pihak keti­ga? Atau mata-mata keti­ga-tiganya secara bersamaan?”

Keti­ga, salah satu sum­ber pal­ing andal men­ge­nai G30S adalah Visum et Reper­tum yang dibu­at para dok­ter di Rumah Sak­it Pusat Angkatan Darat Gatot Sub­ro­to ter­hadap jenazah tujuh per­wira yang dite­mukan di Lubang Buaya. Iro­nis­nya, doku­men ini jus­tru dis­em­bun­yikan oleh pemer­in­tah Orde Baru dan baru dite­mukan pada tahun 1980-an oleh seo­rang ilmuwan dari Cor­nell University.

Lapo­ran otop­si menun­jukkan bah­wa para per­wira ter­bunuh oleh tem­bakan dan luka tusukan bay­o­net. Mere­ka tidak diiris-iris ribuan kali den­gan silet, mata mere­ka tidak dicungk­il, dan mere­ka tidak dimu­ti­lasi secara sadis seper­ti yang digam­barkan media yang dikon­trol Angkatan Darat pada akhir 1965.

Roosa meny­im­pulkan bah­wa keti­adaan peni­la­ian kri­tis ter­hadap sum­ber-sum­ber telah meng­hasilkan banyak artikel dan buku yang didasarkan pada kisah-kisah pal­su, doku­men-doku­men yang tidak dap­at diper­tang­gung­jawabkan, ser­ta speku­lasi besar-besaran. Meskipun arus pro­pa­gan­da terus mem­ban­jir sela­ma lebih dari tiga puluh tahun, ten­tara di bawah Suhar­to tidak per­nah berhasil mem­buk­tikan secara meyakinkan bah­wa PKI telah men­dalan­gi G30S.

Soe­har­to memang berhasil men­em­patkan PKI seba­gai dalang tung­gal. Namun, detail ten­tang sia­pa tokoh yang benar-benar men­gako­modasi dan mer­an­cang ger­akan terse­but tetap tidak ter­jawab. Yang ada hanyalah gen­er­al­isasi bah­wa jutaan anggota PKI, bahkan orang yang sekadar ter­afil­iasi atau berte­man den­gan anggota PKI, harus dimusnahkan.

Keti­ka meli­hat anal­i­sis yang Roosa sajikan, masih patutkah kita meng­gu­nakan isti­lah “G30S/PKI” saat mem­peringati peri­s­ti­wa 30 Sep­tem­ber sete­lah menge­tahui fak­ta-fak­ta tersebut?

Sam­pai kapan masyarakat harus ter­makan pro­pa­gan­da G30S/PKI? Mungkin bacaan-bacaan seru­pa karya John Roosa per­lu dilanggengkan untuk melatih cara kita mencer­na infor­masi yang beredar secara rasional.

Penulis: Sifana Sofia
Redak­tur: Haidar Noufal