Kisah lama kem­bali teru­lang. Musyawarah Per­wak­i­lan Maha­siswa (MPM) UIN SATU Tulun­ga­gung dihadap­kan pada pola sama tahun ke tahun. Per­si­a­pan min­im, pengu­mu­man men­dadak, dan berakhir pada esen­si demokrasi maha­siswa yang terkubur dalam hiruk-pikuk “kejar tayang”. Kali ini, Sen­at Maha­siswa (SEMA) seo­lah-olah men­jadikan eval­u­asi tahun sebelum­nya hanya seba­gai arsip usang yang tak per­nah dibaca.

Berdasar kepu­tu­san rek­tor UIN Sayyid Ali Rah­mat­ul­lah Tulun­ga­gung nomor 98 tahun 2025 ten­tang petun­juk tek­nis organ­isasi kema­ha­siswaan, MPM adalah forum musyawarah tert­ing­gi organ­isasi kema­ha­siswaan tingkat uni­ver­si­tas. Mufakat yang ter­bit dari forum ini­lah, yang nan­ti­nya dijadikan lan­dasan bagi eko­sis­tem Organ­isasi Maha­siswa UIN SATU. Oleh kare­nanya forum ini bukan­lah hal remeh dipan­dah sebe­lah mata.

Mengin­gat tahun lalu, pengu­mu­man MPM baru diu­mumkan H‑7 hari sebelum pelak­sanaan. Kali ini, jauh lebih menge­jutkan H‑2. Hanya dua hari sebelum acara dige­lar maha­siswa diber­i­tahu. Belum jelas kendala atau per­masala­han apa yang dihadapi SEMA sehing­ga memak­sa pengu­mu­man secepat itu. Yang pasti, men­dadaknya pengu­mu­man ini bukan sekedar kebe­tu­lan, melainkan pola yang sudah beru­lang dan kini semakin parah.

Mari mengin­gat kem­bali catatan MPM tiga tahun ter­akhir. Pada 2023 MPM yang diren­canakan ber­jalan lima hari hanya ber­jalan dua hari, forum tidak kon­dusif, pre­sid­i­um dini­lai memak­sakan agen­da dan mengabaikan peser­ta hing­ga berakhir walk out mas­sal dari per­wak­i­lan FUAD dan FASIH. Aki­bat­nya tahun 2023 mening­galkan catatan hitam, hasil kepu­tu­san MPM dito­lak kare­na pros­es­nya dini­lai cacat prose­dur dan kehi­lan­gan esen­si musyawarah.

Dilan­jutkan tahun 2024, kegiatan yang diren­canakan tiga hari tun­tas dalam satu hari. Par­tisi­pasi ren­dah dan forum kehi­lan­gan efo­ria diskusi yang men­dalam men­ja­di alasan MPM tahun 2024 cepat sele­sai. Ter­akhir, 2025 men­ja­di unik kare­na dige­lar di perten­ga­han peri­ode kepen­gu­ru­san, suatu tatanan baru yang sem­pat dielu-elukan, tetapi terny­a­ta tidak diiku­ti per­si­a­pan yang matang.

Data-data terse­but ten­tun­ya ter­abadikan dalam seti­ap beri­ta yang diter­bitkan kami, salah sat­un­ya terkait alasan men­ga­pa ide­al­nya MPM dilakukan pada awal kepen­gu­ru­san. Irfan­ul selaku ket­ua SEMA peri­ode 2025 meny­atakan niat baiknya, saat MPM dilak­sanakan di awal tahun aspi­rasi maha­siswa bisa lang­sung men­ja­di pedo­man ker­ja SEMA dan DEMA sejak dini. Namun, jika niat baik itu hanya men­ja­di angan-angan tan­pa diirin­gi per­si­a­pan yang serius, maka apa gunanya? Efek­tiv­i­tas tujuan yang diusung di awal jus­tru lenyap dite­lan keti­dak matangan.

Dampaknya sudah bisa dipredik­si. Per­ta­ma, kurangnya pengka­jian peser­ta. Den­gan wak­tu hanya dua hari bagaimana mungkin per­wak­i­lan selu­ruh ormawa bisa men­dala­mi materi, menyusun pan­dan­gan, dan menyam­paikan aspi­rasi kon­struk­tif. Ked­ua, dugaan ren­dah­nya par­tisi­pasi, maha­siswa yang sudah lelah den­gan pola pikir lama ini kemu­ngk­i­nan besar akan memil­ih absen. Keti­ga, hilangnya esen­si MPM seba­gai ruang demokrasi tert­ing­gi maha­siswa. Sehing­ga ter­sisalah acara ser­i­mo­ni­al yang cepat sele­sai, lalu kem­bali pada ruti­ni­tas tan­pa ada peruba­han berarti.

SEMA seharus­nya sadar eval­u­asi bukan­lah doku­men mati yang hanya dis­im­pan di google dri­ve. Eval­u­asi adalah bahan baku per­baikan. Jika seti­ap tahun polanya beru­lang, pengu­mu­man men­dadak, per­si­a­pan asal-asalan, par­tisi­pasi ren­dah maka MPM hanya seba­gai rit­u­al tan­pa mak­na. Niat tatanan baru yang digem­bor-gem­borkan sebelum­nya akan sia-sia jika tidak diim­ban­gi den­gan komit­men nya­ta. pengu­mu­man min­i­mal H‑30, sosial­i­sai yang masif dan per­li­batan per­wak­i­lan sejak jauh hari per­lu digalakkan.

Kepa­da SEMA UIN SATU Tulun­ga­gung tahun ini jan­gan biarkan MPM 2026 men­ja­di babak baru dari kisah lama yang prob­lematik. Maha­siswa bukan penon­ton pasif. Kami berhak men­da­p­atkan forum yang bermarta­bat, bukan sekedar acara dadakan yang hanya memenuhi kewa­jiban admin­is­tratif. Keti­ka forum per­musyawaratan tert­ing­gi dibu­at kehi­lan­gan mar­wah­nya, kami Lem­ba­ga Pers Maha­siswa Dimen­si mengam­bil langkah untuk tidak ikut ser­ta MPM sam­pai forum ini dirasa layak kem­bali pada tahtanya.

#Balikkanan

Penulis: Tim Redaksi