“Tanpa menonton film ini, kita tidak tahu kasus-kasus di luar Jawa.”
Pernyataan ini dilontarkan Harun, Koordinator Aliansi Lereng Wilis Tulungagung, Ketika diskusi film dokumenter Pesta Babi di Warkop Edukasi Taman Puring (21/05/2026). Diskusi yang akhirnya tetap terlaksana, setelah UKM Mapala dan Dimensi tidak diizinkan memutar film dan berbincang mengenai kondisi papua karya Dhandy Dwi Laksono tersebut di lingkup kampus.
Meskipun UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung tidak mengamini permohonan kami untuk membentangkan layar di dalam kampus. Malam jum’at kala itu menjadi saksi bahwa semangat nonton bareng dan diskusi tetap berkobar, terbukti dengan antusias kehadiran peserta sekitar 200 orang. Semangat ini juga terpantik karena adanya ruang diskusi dengan kedua pembicara, Siti Mutmainah dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur dan Harun.

Dalam pemaparanya tentang film Pesta Babi, Siti Mutmainah menjelaskan keselarasan tagline film tersebut “kolonialisme di zaman kita” terhadap kondisi penduduk Papua yang kini dijajah oleh bangsanya sendiri. Hak masyarakat atas tanah adat di sana telah dirampas dan ditujukan untuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Padahal hal itu telah menyangkut ruang hidup masyarakat Papua.
Siti menambahkan bahwa PSN hanya menguntungkan aktor-aktor yang terlibat di proyek sebagaimana yang tercantum dalam film tersebut. Pemerintah hanya berdalih proyek ketahanan pangan dan energi bagi rakyat. Namun, kenyataanya mereka meratakan jutaan hektar hutan untuk proyek yang memperkaya segelintir orang.
“Jadi memang sebenarnya proyek yang dijalankan oleh pemerintah ini ya memang bukan untuk kita, gitu..,” ujarnya.
Selaras dengan Siti, Harun berpendapat bahwa semua rakyat tidak ikut merasakan buah hasil dari proyek tersebut. Ia mengambil contoh tentang bioetanol dan biodiesel yang masyarakat adat tidak ikut menikmati hasilnya, tetapi justru harus menonton lingkungan yang mereka jaga sedemikian rupa diratakan ekskavator.
“Energi untuk siapa? Dan ketahanan pangan untuk siapa? Karena di Papua, saya rasa adalah penjajahan” tegasnya.
Siti menggambarkan film Pesta Babi merupakan cermin juga bagi pulau Jawa Timur. PSN yang terlaksana di Jawa Timur meliputi biofuel, batu bara, etanol biothermal dan tambang emas yang tetap sama-sama tidak menguntungkan rakyat dan malah merampas ruang hidup masyarakat setempat, seperti di Trenggalek.
“proyek-proyek yang digarap oleh pemerintah memang tidak mengasih dampak yang positif kepada kita. Selain kita dirugikan secara ekonomi, Lingkungan kita juga rusak dan sulit mengakses air bersih,” ucap Siti.
Ketika merefleksikan film Pesta Babi ke dalam lingkup kehidupanya, Harun kecewa begitu melihat Tulungagung kehabisan hutan karena alih fungsi lahan dan mata air banyak yang mati. Atas hal itu dirinya menyimpulkan PSN sudah berlebihan.
“Siapa yang dirugikan? Apakah negara dirugikan? Kita yang dirugikan. Jadi PSN ini saya kira memang berlebihan,” resahnya.
Melihat di Kalimantan beberapa tahun terus terjadi banjir, dan juga bencana di Aceh, dan Sumatra Utara, Harun menghimbau jika eksploitasi bumi terus berlanjut dan hutan yang kian menipis maka dampaknya adalah bencana alam. Ia turut menyayangkan Ibu pertiwi yang telah memberi ruang hidup dan memberi makan tetapi malah dirusak pemerintah sendiri.
“Dan saya selalu terngiang-ngiang di kuping saya ketika Soekarno berpesan. Enak saya mengusir penjajah bangsa asing daripada nanti kamu melawan penjajah bangsanya sendiri. Dan inilah yang terjadi di Indonesia. Makanya mungkin judulnya mengerikan, kolonialisme di zaman kita, tapi inilah yang terjadi.” ucapnya.
Penulis: Haidar Noufal
Redaktur: Sifana Sofia