Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sekar kusir UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menggelar pameran karya seni rupa bertajuk “Isi Kepala” pada 15 — 19 September 2025. Bertempat di Lobi Gedung Laboratorium Terpadu, pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut menghadirkan 26 karya seni yang menggambarkan ragam ekspresi dari isi pemikiran seniman.
Tajuk “Isi Kepala” dipilih untuk mengajak penikmat seni menyelami pemikiran di balik setiap karya yang dipamerkan. Silvilia, kurator pameran, menjelaskan bahwa tajuk “Isi Kepala” berangkat dari pertanyaan sederhana namun mendalam: apa yang sebenarnya terjadi di dalam pikiran seseorang?. Melalui lukisan, instalasi dan karya artprint, para seniman menginterpretasikan keriuhan, kekacauan, hingga kesederhanaan yang sarat akan makna dari isi kepala mereka ke dalam bentuk visual.
Dua puluh enam karya tersebut tidak lain tidak bukan adalah hasil karya seniman anggota UKM Sekar Kusir. Untuk memamerkan karyanya, para seniman harus melalui proses seleksi ketat, di mana hanya yang layak dan paling relevan dengan tema dipilih untuk dipajang. Proses ini memastikan kualitas dan kedalaman pesan yang disampaikan, sehingga pengunjung dapat merasakan keaslian dan keberagaman ekspresi.
Selain memamerkan karya seni rupa, pameran “Isi Kepala” yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 19.00 selama lima hari berturut-turut tersebut juga dimeriahkan oleh berbagai agenda pendukung. Penampilan tari kontemporer, pembacaan puisi, art talk interaktif, dan pertunjukan pantomim turut memperkaya pengalaman pengunjung. Pada hari kelima nantinya, acara ditutup dengan live mural yang melibatkan seniman secara langsung, menciptakan karya seni rupa secara spontan di hadapan publik.
Salah satu pengunjung, Habib mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) mengungkapkan kekagumannya terhadap pameran ini, salah satunya ketertarikannya pada karya seni yang berjudul The Perfect Trap, karya seni tersebut menggambarkan bentuk laki-laki dilengkapi kalimat “don’t cry” dan bentuk Perempuan bertuliskan “don’t pretty”. Menurutnya karya tersebut merepresentasikan suatu kontruksi sosial. “Ada jeratan kontruksi sosial di sini itu yang saya tangkap”. Dari pengalamannya melihat karya-karya yang terpajang sudah cukup sesuai dengan tema yang diusung, jelasnya.
Pameran ini juga melibatkan komunitas seni di luar kampus, seperti Majelis Kesenian Rakyat Tulungagung. Nanang, perwakilan dari majelis tersebut, menyampaikan bahwa ini bukan kali pertama mereka berkolaborasi dengan UKM Sekar Kusir. Namun, ia mencatat perbedaan signifikan pada pameran tahun ini, yang diadakan di dalam kampus, tidak seperti dua tahun sebelumnya yang berlangsung di ruang publik di luar kampus. Menurutnya, menggelar pameran di luar kampus memungkinkan apresiasi yang lebih luas dari pelajar dan masyarakat umum, sehingga seni tidak terasa eksklusif. Ia menyarankan agar ke depannya pameran diadakan di tempat yang lebih terbuka untuk menarik lebih banyak penikmat seni dari berbagai kalangan.
“Tahun kemarin sama tahun sebelumnya itu justru di luar kampus, nah menurut saya itu lebih menarik karena yang akan melihatkan tidak hanya teman-teman atau warga kampus UIN, ada apresiasi pelajar, ada apresiasi masyarakat…., itu yang menurutku ke depannya harus dikembangkankan lagi, mungkin kalo di kampus kadang masyarakat mau masuk agak enggan ya, mungkin bisa ditempat public, agar masyarakat tidak merasa melihat karya seni itu eksklusif apalagi di dalam kampus,” ungkap Nanang.
Menurut Silvilia, pameran ini memang memiliki tujuan utama untuk menarik minat mahasiswa baru terhadap UKM Sekar Kusir, sebagai tindak lanjut dari pengenalan UKM pada Pekan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Penulis: Sifana Sofia
Reporter: Aina, Wahyu
Redaktur: Mustofa Ismail