Tulungagung — Komunitas Gusdurian Bonorowo Tulungagung kembali menggelar aksi “Tandur Bareng” pada Sabtu (17/1/2026) di kawasan Argo Pathok Candi Dadi, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol. Aksi penanaman pohon ini merupakan pelaksanaan ke-11 sejak pertama kali digelar pada tahun 2016.
Koordinator Gusdurian Bonorowo Tulungagung, Muhammad Nur Mukhlison, menjelaskan bahwa agenda rutin setiap bulan Januari ini sudah diselenggarakan 11 kali sejak 2016 dan sekaligus untuk memperingati Haul Gus Dur ke-16.

Dalam pelaksanaannya, Gusdurian berkolaborasi dengan PKW Mapala se-Blitar dan Tulungagung mengajak berbagai lapisan masyarakat untuk ikut serta, mulai dari masyarakat umum, komunitas lingkungan, hingga pelajar dan mahasiswa. Peserta di antaranya berasal dari MTs Karangsono, SMK Raden Abdul Alim Salak Kembang, mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, serta mahasiswa UNISBA (Universitas Islam Balitar).
Adapun kegiatan Tandur bareng ini menyediakan sekitar 600 jenis bibit pohon yang berbeda. Kebanyakan berupa pohon beringin, pohon jenis ficus, dan angsana, serta tanaman buah-buahan seperti sirsak dan alpukat.

Meskipun tingkat keberhasilan pertumbuhan pohon belum dapat dipastikan. Akan tetapi Mukhlison menekankan fokus utama aksi adalah keberlanjutan. la mengungkapkan bahwa hasil pertumbuhan pohon memang tidak bisa diprediksi pasti, namun yang terpenting adalah konsisten melakukannya.
Perlu diketahui, permulaan dilakukan Tandur Bareng, berangkat dari suatu keresahan masyarakat sekitar Candi Dadi perihal rusaknya kebun akibat monyet yang turun ke pemukiman. Kejadian tersebut bukan tanpa alasan, kondisi pohon yang kian hilang memungkinkan monyet tidak memiliki tempat tinggal.
“Lahannya dulu di sini gundul tidak ada pepohonan, akhirnya dari temen-temen yang melakukan penggiatan lingkungan berinisiatif melakukan konservasi disini”, ungkap Mukhlison. Melihat problema tersebut inisiatif para penggiat lingkungan muncul. Kegiatan aksi Tandur bareng tersebut menjadi langkah awal untuk mengembalikan ekosistem alam dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga alam, tambahnya.
Sementara itu, Harun Aktivis Lingkungan, juga penggerak aksi mengatakan, selain bertujuan sebagai sarana edukasi lingkungan, aksi ini dapat dimaknai sebagai bentuk kritik sosial. “Kita yang masyarakat bawah saja menanam kenapa pemerintah menebang”, ungkapnya.

Harun menambahkan harapan, adanya kegiatan ini dapat meningkatkan rasa kepedulian terhadap alam, terutama dalam menghadapi berbagai persoalan kerusakan lingkungan yang berdampak jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang. “Kalau kita tidak peduli, kedepanya apa yang terjadi. Kita berpikir ga usah jauh-jauh, kalau saya tidak bertanggung jawab pada lingkunganku bagaimana dengan keturunanku nanti”, ujarnya.
Salah satu peserta, Adi Pradana mengaku mengikuti kegiatan ini karena ketertarikannya terhadap aktivitas alam. Menurutnya kecintaan terhadap kegiatan jelajah dan pendakian perlu diimbangi dengan keterlibatan dalam pelestarian lingkungan. “Kita tidak hanya senang menjelajah atau mendaki namun kita harus ikut serta juga dalam pelestarian lingkungan contohnya seperti reboisasi yang barusan kita lakukan”, ucapnya.
Penulis: Dinda Salma
Reporter: Tsania, Dinda
Editor: Sifana Sofia
Foto: Dok. LPM Dimensi
GUSDURIAN