Judul: Salah Asuhan
Penulis: Abdoel Moeis
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun Terbit: 1928
Jumlah Halaman: 335
Potret seorang tokoh bernama Hanafi yang terpelajar dan ambisius akan tetapi memandang rendah terhadap adat dan budaya kampung halamanya. Hanafi memiliki seorang sahabat perempuan bernama Corrie asal Eropa, dan kini tinggal di Solok, Sumatera Barat. Tentu Hanafi dan Corrie saling bertukar cerita tentang adat dan budayanya masing-masing. Apalagi Hanafi sudah tinggal dengan keluarga Belanda, karena sang ibu ingin Hanafi yaitu anak semata wayangnya mendapatkan pendidikan dan memiliki derajat yang tinggi pada masa itu. Oleh karena itu Hanafi disekolahkan di Betawi sebagai pusat pendidikan yang dianggap maju, sehingga Hanafi juga memiliki pandangan baru perihal budaya.
Cerita bermula ketika Corrie mengaku heran tentang pemaknaan hubungan lawan jenis di Sumatera. Menurutnya ketika di tempat asalnya Eropa, pergaulan antara lelaki dan perempuan longgar, berbeda dengan Sumatera. Apabila ia bergaul dan bersentuhan bahkan dengan kakak atau adik sendiri sudah janggal. Corrie juga mendapat pemahaman khusus oleh sang ayah untuk tidak menikah dengan pribumi. Akan tetapi, Corrie dan Hanafi saling jatuh cinta. Hubungan mereka ditentang oleh masing-masing keluarga, baik Hanafi maupun Corrie. Akhirnya Corrie memilih untuk menjauhi Hanafi sekaligus melanjutkan sekolahnya. Kepergian tersebut membuat Hanafi jatuh sakit hingga 14 hari lamanya, sehingga sang Ibu memintanya untuk menikah dengan Rapiah seorang perempuan pribumi, Hanafi pun mau tidak mau menyetujui dijodohkan denganya.
Rapiah digambarkan sebagai sosok yang penyabar. Kesabaranya seringkali diuji ketika Hanafi tidak menghargai Rapiah dan menganggapnya sebagai babu. Hanafi Seringkali memarahi Rapiah di depan teman-temannya dan seringkali menumpahkan kekesalannya kepada sang istri. Suatu saat Ketika Hanafi jatuh sakit ia dibawa ke Betawi untuk diobati, beberapa waktu kemudian tidak disangka Hanafi dan Corrie bertemu kembali. Akhirnya mereka saling bertukar cerita tentang kehidupannya masing-masing. Rasa cinta yang dahulu terkubur kembali muncul. Corrie dan Hanafi menjalin hubungan di Betawi tanpa sepengetahuan keluarga dan istri. Sampai suatu saat Hanafi dengan serius mengirimkan surat cerai kepada Rapiah dan memutuskan hidup bersama Corrie.
Hubungan pernikahan Corrie dan Hanafi tidak berjalan mulus ketika Hanafi menuduh Corrie berselingkuh sehingga sang istri sakit hati. Corrie pun memutuskan bercerai kemudian pergi ke Semarang dan menjadi pegawai panti asuhan. Setelah bercerai Hanafi merasa bersalah kepada Corrie, hingga ia tidak bisa tidur. Pada suatu saat Hanafi menemui Corrie di Semarang, Hanafi mengetahui bahwa Corrie dirawat di rumah sakit karena penyakit Chorela, dan tidak lama Corrie meninggal. Hal tersebut menjadi pukulan besar bagi Hanafi, rasa sedih, rasa bersalah, depresi mulai menyelimutinya. Akhirnya Hanafi memutuskan pulang ke rumah ibunya, karena penyesalan tersebut Hanafi memutuskan meminum sublimat yang membuatnya meninggal dunia.
Abdoel Moeis menyampaikan kritik yang tajam terhadap mentalitas sebagian pemuda terpelajar dimasa kolonial pada karyanya. Hanafi menjadi simbol generasi yang terlalu mengagungkan budaya Barat hingga kehilangan penghargaan terhadap budaya dan adatnya sendiri. Penulis memperlihatkan bagaimana sikap kebarat-baratan yang berlebihan dapat menimbulkan konflik, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam hubungan sosial.
Benturan antara budaya Minangkabau dan budaya barat menjadi tema utama yang terus muncul sepanjang cerita. Novel ini juga memiliki nilai historis yang penting. Ketika hendak diterbitkan, karya ini sempat mendapatkan penolakan dari Balai Pustaka karena dianggap menampilkan citra negatif terhadap orang Belanda. Hal tersebut menunjukkan keberanian Abdoel Moeis dalam menyampaikan kritik sosial melalui karya sastra. Ia berusaha mengingatkan masyarakat bahwa pendidikan barat tidak seharusnya membuat seseorang melupakan identitas dan akar budayanya sendiri.
Salah Asuhan layak dibaca karena tidak hanya menghadirkan kisah cinta yang tragis, tetapi juga mengandung pesan sosial dan budaya yang masih relevan hingga saat ini. Novel ini mengajak pembaca untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara menerima kemajuan dan tetap menghargai budaya sendiri. Selain itu, karakter Hanafi memberikan pelajaran bahwa pendidikan dan modernitas tidak selalu menjamin kebahagiaan apabila tidak disertai dengan pemahaman terhadap jati diri. Konflik yang dialami para tokohnya juga mampu menggambarkan dampak dari krisis identitas yang dapat terjadi ketika seseorang berusaha meninggalkan akar budayanya demi mengejar pengakuan sosial.
Oleh karena itu, Salah Asuhan bukan hanya sebuah novel klasik yang memiliki nilai sejarah, tetapi juga karya sastra yang memberikan refleksi mendalam mengenai identitas, budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial. Pesan-pesan yang disampaikan Abdoel Moeis menjadikan novel ini tetap relevan untuk dibaca oleh generasi masa kini, terutama sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak harus dicapai dengan mengorbankan budaya dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.
Penulis : Ratu Anya Andriani
Redaktur : Haidar Noufal Alifi
Desain : M. S. Munir